Surin Pitsuwan. (Foto: Ric Wasserman)

Surin Pitsuwan. (Foto: Ric Wasserman)

Selama beberapa tahun terakhir, negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Rusia telah mengumumkan pergeseran kepentingan strategisnya ke Asia.

Apa yang disebut poros Asia ini diharapkan bisa menempa aliansi ekonomi, politik dan militer baru.

Ketika pusat ekonomi global bergeser ke Timur, hal apa yang menjadi pro dan kontra bagi raksasa ekonomi Asia, Tiongkok?

Reporter Ric Wasserman bertemu dengan bekas direktur ASEAN Surin Pitsuwan dan Dr Jin Park asal Korea Selatan di Stockholm untuk membahas dinamika Asia di masa depan.

Dr Surin Pitsuwan telah menempati banyak posisi. Dia pernah delapan kali menjadi anggota parlemen Thailand sejak 1986, dan menteri luar negeri.

Dari 2008-2012 dia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN.

Selama beberapa tahun terakhir, Dr Pitsuwan melihat kepentingan Amerika Serikat di Asia terus tumbuh. Ini penting, tapi kadang-kadang mengkhawatirkan, katanya.

”Menurut saya kekuatan adidaya ingin punya manajemen semacam ini di lingkungannya. Pada awal abad ke-19 Amerika Serikat punya Doktrin Monroe, karena kekuatan Eropa terus menyebar. Yang saya khawatirkan adalah akan ada kompetisi kekuasaan yang menyebabkan lebih banyak ketegangan. Dan ini pada akhirnya membuat negara-negara di kawasan menjadi salah perhitungan, tidak stabil dan tidak aman. Dan ini berdampak buruk pada siapapun,” papar Dr Pitsuwan.

Itu berarti - seperti halnya sekarang – terjadi pergeseran fokus baik secara politik dan militer.

Menyeimbangkan kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Asia makin intensif sejak berakhirnya pengiriman pasukan ke Timur Tengah. 

Pergeseran ini juga dimaksudkan untuk mengatasi tantangan ekonomi yang terus berkembang, seperti makin memperluasnya kekuatan ekonomi di wilayah ini.

Kata Dr Pitsuwan rencana Amerika Serikat menginvestasikan uang dan teknologinya di kawasan ini membawa keuntungan sekaligus resiko. 

”Resikonya kawasan bisa menjadi medan pertempuran kekuatan-kekuatan yang bermain di mana negara-negara kecil di kawasan atau organisasi seperti ASEAN bisa kehilangan kontrol.”

Salah satu hal yang dibawa Amerika Serikat, Rusia atau Tiongkok adalah merangsang perkembangan teknologi di negara-negara ASEAN.

”Kita punya kekayaan yang sudah terakumulasi dan modal sudah terkumpul  sehingga kita bisa saling berinvestasi di dalam kawasan. Tapi kita tidak punya pengetahuan dan teknologi untuk mendorong ekonomi kita,” kata Dr Pitsuwan.

Dinamika masa depan Asia baru-baru ini diangkat dalam pertemuan di Departemen Luar Negeri Swedia. Dalam pertemuan itu yang menjadi tuan rumah adalah Profesor Dr. Jin Park, bekas perwakilan urusan luar negeri Korea Selatan dan presiden Asia Future Institute.

Seperti Amerika Serikat, Rusia juga sudah mulai melirik Timur, kata Dr Park. Dan mungkin ini akan menguntungkan kawasan.

”Rusia saat ini sedang mengalami sanksi internasional dan dikritik negara-negara anggota Uni Eropa. Ironisnya, ini yang mungkin mendorong Rusia melirik ke kawasan Asia Pasifik. Rusia telah membuat kesepakatan energi yang menyediakan gas alam ke Tiongkok untuk 30 tahun ke depan. Kesepakatan ini bernilai 5500 triliun rupiah,” jelas Dr Park.

Untuk menghadang meluasnya kepentingan Amerika Serikat dan Rusia, Tiongkok juga telah meluncurkan Bank Investasi Infrastruktur Asia, AIIB. Tapi Dr Park mengingatkan kita harus hati-hati.

”Kita perlu berhati-hati dengan niat Tiongkok. Alasan mengapa Tiongkok datang membawa proposal adalah sesuatu yang memberikan kontribusi bagi pembangunan kawasan dan tidak didominasi oleh kepentingan Tiongkok sendiri.”

Perhatian utama Dr Park adalah apakah pengaruh Amerika Serikat atau Rusia di kawasan bisa mempengaruhi reunifikasi Korea Utara dan Korea Selatan. Apakah bisa membuat Korea Utara menghentikan produksi senjata nuklirnya.

Inisiatif baru dari dua kekuatan utama ini bisa memainkan peran penting dalam perdamaian, kata Dr Park.

”Kita perlu melanjutkan upaya untuk menyelesaikan masalah nuklir Korea Utara karena ini merupakan ancaman keamanan serius. Tidak hanya di Semenanjung Korea, tapi untuk seluruh kawasan,” tutup Dr Park.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!