Devashish Meena dan Pratibha Gujar.

Devashish Meena dan Pratibha Gujar.

Di India, hampir seribu orang muda dibunuh dengan dalih menyelamatkan nama baik keluarga setiap tahunnya.

Pembunuhan dengan alasan kehormatan ini sering kali dilakukan bila si anak menolak dijodohkan atau dikawinkan paksa.

Seorang duda asal India, Devashish Meena, yakin istrinya dibunuh orangtuanya karena pernikahan antar-kasta mereka.

Koresponden Asia Calling KBR Jasvinder Sehgal menyusun kisahnya untuk Anda.  


Devashish Meena mengadakan jumpa pers soal pembunuhan istrinya di negara bagian India, Rajasthan. Dia menuduh sang istri dibunuh orangtuanya. Menurutnya, pembunuhan itu dilakukan dengan alasan kehormatan.

“Sepupu istri saya bercerita kalau mertua saya membunuhnya dengan cara memasukannya dalam tanki air lalu menyetrumnya. Malam itu mereka langsung mengkremasi jenazahnya tanpa memberitahu saya kalau istri saya meninggal. Jika ini bukan kasus pembunuhan dengan dalih kehormatan, harusnya kan sebagai suami saya diberitahu. Mereka bahkan tidak membawanya ke rumah sakit atau meminta jenazahnya diotopsi,” kisah Devashish Meena.   

Bulan Mei lalu Devashish dan Pratibha Gujar menikah diam-diam di New Delhi – jauh dari kampung halaman mereka.

Pasangan ini sudah berhubungan selama beberapa tahun tapi orangtua mereka menentang hubungan itu karena perbedaan kasta.

“Saya pertama kali bertemu Pratibha di kelas enam pada 2006 dan sejak itu kami berteman baik. Ketika kami duduk di kelas XI, ayahnya tahu hubungan kami. Ayahnya sangat marah dan menghukumnya dengan kejam karena kasta kami berbeda. Ayahnya menyiksanya fisik dan mental. Akhirnya kami kabur dari rumah dan menikah diam-diam. Ayahnya kemudian merestui hubungan kami. Tapi dengan licik dia membawanya pulang dan membunuhnya,” kenang Devashish Meena.

Devashish mengatakan sudah menyerahkan bukti-bukti kepada polisi termasuk surat dan email dari istrinya yang bercerita kalau hidupnya dalam bahaya dan diancam sang ayah.  

Tapi Devashish tidak yakin akan mendapat keadilan.

“Saya sudah menyerahkan semua dokumen dan bukti ke polisi. Tapi polisi meminta saksi mata. Darimana saya mendapatkannya? Kalau memang ada saksi mata, istri saya seharusnya tidak tewas. Polisi juga bilang karena jenazah dikremasi maka tidak bisa diketahui penyebab kematiannya. Ini berarti setiap gadis yang menikah dengan pria pilihannya, bisa dengan mudah dibunuh orangtua atau kerabatnya dan pelakunya tidak dihukum.”

Para aktivis perempuan mendukung Devashish dan menuntut kasus ini diselidiki secara menyeluruh.

“Pemuda dalam kasus ini memohon pada orangtua istinya. Ini semacam penolakan terhadap hak untuk memilih. Selain itu, membunuh perempuan dengan dalih kehormatan keluarga seakan menjadikan perempuan adalah sebuah kehormatan dan laki-laki yang mengendalikannya. Ini kejadian yang mengejutkan dan negara menolak untuk terlibat,” kata Kavita Srivastava, sekretaris di Persatuan Rakyat untuk Kebebasan Sipil.

Meski kasus 'pembunuhan dengan alasan kehormatan' terus meningkat, hanya sedikit sekali pelaku yang dihukum.

Nisha Sidhu dari Federasi Nasional Perempuan India mengatakan negara itu sangat membutuhkan undang-undang khusus yang mengatur kejahatan seperti ini.

Mahkamah Agung India telah merumuskan panduan untuk mencegah pembunuhan dengan alasan kehormatan ini.

Tapi itu hanya panduan bukan UU dan beberapa polisi bahkan tidak tahu soal ini.

“Sampai UU baru diadopsi, pedoman pengadilan tertinggi terhadap pembunuhan dengan alasan kehormatan inilah yang harus digunakan. Pengadilan secara jelas memerintahkan Pemerintah untuk melindungi hak warga untuk menikah sesuai pilihannya dan menjamin keamanan para pasangan itu dengan menyediakan rumah aman. Tapi masalahnya adalah polisi kita tidak mengenal panduan ini,” kata Nisha Sidhu.

Nisha juga mengatakan banyak perempuan muda mendatangi rumah aman untuk mencari perlindungan.

Banyak yang bercerita tentang kekerasan yang mereka alami, yang dilakukan orang tua dan kerabat, karena perempuan itu menikah dengan pilihannya sendiri.

“Para gadis yang datang ke saya disiksa dengan kejam oleh orangtua mereka sendiri. Beberapa dihukum dengan cara meletakkan batang besi ke organ genital mereka. Ada juga yang disundut rokok. Salah seorang gadis juga dipaksa minum zat asam sehingga pita suaranya rusak,” ungkap Nisha Sidhu.

Devashish Meena sedang mendengarkan lagu Hindi yang dinyanyikan Pratibha untuknya saat ulang tahunnya yang terakhir.

Satu liriknya berbunyi “Suatu hari, semua orang harus pergi ... tapi kenangannya tidak akan hilang”.

“Saya akan mencari keadilan bagi istri saya tercinta dan jika saya tidak mendapatkannya ... apa hal terburuk yang akan terjadi? Saya akan berjuang mendapatkan keadilan sampai saya mati,” tekad Devashish Meena. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!