Kondisi Rumah Sakit MSF setelah serangan udara Amerika Serikat. (Foto: Ghayor Waziri)

Kondisi Rumah Sakit MSF setelah serangan udara Amerika Serikat. (Foto: Ghayor Waziri)

Setelah Taliban merebut Kunduz akhir bulan lalu, pasukan Afghanistan dengan dukungan angkatan udara Amerika Serikat memulai operasi besar untuk merebut kembali provinsi itu.

Di hari kelima operasi, serangan udara Amerika menghantam rumah sakit MSF.

Lebih dari 180 staf medis dan pasien berada di sana saat itu.

Najeeb Osmani baru saja tiba dari provinsi Kunduz. Dia membawa sepupunya, seorang dokter MSF yang tewas dalam serangan itu - di dalam peti mati.

“Ketika saya mengambil mayat sepupu saya dari rumah sakit, ada puluhan mayat lainnya dalam keadaan sangat rentan. Siapa yang bisa menjawab ini? Keluarga mengirimkan anaknya bekerja di rumah sakit untuk melayani masyarakat. Mereka percaya sebagai dokter MSF, dia akan aman. Tapi pasukan Amerika Serikat dengan brutal menargetkan rumah sakit dan membunuhnya dalam serangan udara,” kata Najeeb Osmani.

Pekan ini Amerika Serikat mengakui serangan merekalah yang menghantam rumah sakit MSF.

Tapi militer Amerika terus mengubah ceritanya. Awalnya mereka meyebut itu kerusakan tambahan, kemudian menyebutnya insiden tragis, dan juga mereka berusaha menyalahkan pemerintah Afghanistan.

Sidiq Sidiqee, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, mengatakan pemerintah sedang menyelidiki serangan itu.

“Sekitar 80 staf di rumah sakit dibawa ke tempat yang aman. 15 diantaranya adalah staf internasional MSF. Tapi sayang beberapa staf MSF tewas dalam serangan udara itu. Kami ikut berduka karena staf MSF yang tewas sedang melakukan kerja kemanusiaan. Sayangnya, Taliban berusaha menggunakan rumah sakit MSF sebagai tempat persembunyian. Kami sedang menyelidiki insiden ini.”

Najeed Osmani, yang kehilangan sepupunya yang berusia 30 tahun dalam serangan itu, mengatakan pemerintah harus bertanggung jawab.

“Pemerintah Afghanistan sepenuhnya bertanggung jawab atas kejadian ini. Angkatan udara Amerika menargetkan tempat itu berkoordinasi dengan pemerintah. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri sangat memalukan. Dia mengatakan hanya tiga dokter yang tewas dalam serangan itu, padahal bukan. Dia mengatakan Taliban mengadakan pertemuan di rumah sakit dan itulah sebabnya rumah sakit menjadi target. Ini juga salah. Tidak ada pertemuan Taliban di sana,“ kata Najeeb Osmani.

Dalam pernyataan yang dirilis kepada media pekan ini, MSF menyebut tindakan semacam ini tidak bisa dibenarkan.

MSF mengatakan “Militer Amerika Serikat tetap bertanggung jawab atas target yang diserang, meski itu bagian dari koalisi.”

Karena ada versi cerita berbeda di kedua belah pihak, MSF menolak penyelidikan oleh Amerika Serikat, Afghanistan dan NATO. MSF menyebut investigasi dan transparan independen sangat penting.

Muhammad Hasyim, anggota parlemen Afghanistan, setuju dengan sikap MSF.

“Beberapa perwakilan harus serius menyelidiki insiden ini untuk mengetahui apakah pasukan Amerika benar atau salah dan menghukum mereka yang bertanggung jawab. Tidak ada hukum yang membolehkan mengebom rumah sakit saat ada puluhan pasien dirawat di sana,” kata Muhammad Hasyim.

Dokter Muhammad Faisal mengaku sangat marah mendengar rekannya Dr Osmani menjadi salah satu dari 12 dokter yang tewas dalam serangan itu.

Sepuluh pasien, termasuk tiga anak-anak, juga menjadi korban tewas yang terbakar hidup-hidup di tempat tidur mereka ketika serangan terjadi.

Dokter Faisal mengatakan dia tidak percaya pemerintah akan memberikan jawaban yang sebenarnya.

“Saat ini pemerintah kesulitan karena semuanya meragukan. Kami tidak tahu siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas tragedi ini: pemerintah, Amerika atau Taliban. Saya tidak punya tuntutan kepada pemerintah. Kami tidak melihat ada organisasi yang bisa kita minta untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!