Perjuangan Orang Rohingya Bertahan Hidup di Perbatasan Bangladesh

Mereka tinggal di kamp-kamp penampungan sementara dan harus berjuang untuk mendapat kebutuhan dasar: air bersih, makanan dan tempat tinggal.

Senin, 25 Sep 2017 09:47 WIB

Pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine menuju Bangladesh. (Foto: Shakil A

Pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine menuju Bangladesh. (Foto: Shakil Ahmed).

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Lebih dari 400 ribu orang Rohingya dari Myanmar telah menyebrangi perbatasan dalam sebulan terakhir. Mereka tiba di Bangladesh setelah berjalan kaki berhari-hari, tanpa makanan dan tempat berteduh.

Orang Rohingya, kelompok etnis minoritas dari negara bagian Rakhine Myanmar, meninggalkan negara itu karena komunitas mereka dibunuh dan rumah mereka dibakar.

Di Bangladesh, mereka tinggal di kamp-kamp penampungan sementara dan harus berjuang untuk mendapat kebutuhan dasar: air bersih, makanan dan tempat tinggal.

Koresponden Asia Calling KBR, Shakil Ahmed, menyusun laporannya dari kota perbatasan Technaf, Bangladesh.

Di pinggiran jalan, ada sebuah gubuk bertiang bambu dan ditutupi plastik. Di dalam ada selembar plastik lain yang dibentangkan di atas tanah berlumpur dan menjadi alas tidur. Di sinilah seorang anak laki-laki berusia 10 tahun tidur.

Jannatul, 25 tahun, tinggal di gubuk ini. Dia sedang berusaha menidurkan bayinya yang gemetaran dan terus menangis.

“Dua hari terakhir ini kami tidak punya makanan. Ayahnya pergi mengemis tapi pagi ini dia tidak dapat apa-apa. Anak laki-laki saya yang lebih besar tertidur setelah menangis. Tapi yang bayi ini tidak mau mengerti,” tutur Jannatul.

Di kota perbatasan Bangladesh, Ukhia, ratusan ribu orang Rohingya tinggal di gubuk-gubuk plastik tanpa makanan yang cukup.

Saat berpapasan dengan beberapa anak, saya bertanya apa yang mereka butuhkan. Semuanya memberi jawaban yang sama: nasi. Saat ini ada hampir setengah juta orang dengan kondisi kelaparan di sini.

Rohingya, kelompok etnis minoritas yang tinggal di Negara Bagian Rakhine, berbondong-bondong masuk Bangladesh dalam sebulan terakhir.

Pada 25 Agustus, kelompok bersentara Tentara Pembebasan Rohingya Arakan menyerang sebuah pos polisi Myanmar dan membunuh 12 orang. Kemarahan pun merebak di penjuru negeri. Dan sebagai balasannya, tentara Myanmar menindak keras komunitas Rohingya dan berjanji akan memberantas terorisme.

Tapi ratusan ribu warga sipil ikut menjadi target…dimana telah terjadi pembunuhan massal dan pembakaran desa-desa.

Orang-orang Rohingya pun melarikan diri dari kekerasan yang terjadi tapi di Bangladesh mereka masih harus berjuang untuk bertahan hidup. Mereka sangat membutuhkan air bersih, makanan dan tempat tinggal.

Beberapa LSM telah membuat pompa air kecil di pinggir jalan. Selain itu, banyak penggungsi lain menggunakan sungai kecil yang mengalir dari bukit. Di sana mereka mengambil air untuk minum, mandi dan buang air.

Juru bicara UNHCR, Vivian Tan, mengatakan situasinya sangat kritis. “Jumlahnya sangat besar. Orang-orang yang tinggal di kamp melonjak dua kali lipat dalam dua minggu terakhir sehingga fasilitas benar-benar kurang. Seperti persediaan air yang sangat kurang. Untuk tempat tinggal sementara, tidak ada lahan kosong di antara dua kamp saat ini,” jelas Vivian.

Hanya 70 ribu pengungsi yang bisa ditampung di kamp yang didukung UNHCR di Kutupalong. Yang diprioritaskan di sini adalah orang-orang tua dan yang sakit parah. Sisanya tinggal di daerah perbukitan seluas 20 kilometer persegi. Bantuan internasional pun belum sampai ke lapangan.

Hanya ada beberapa LSM yang membagikan bantuan; kebanyakan berupa beras, kentang, biskuit dan pakaian. Sebagian besar bantuan berasal dari kelompok relawan lokal. Ratusan orang datang dari seluruh penjuru Bangladesh untuk membagikan bantuan tapi mereka melakukannya tanpa koordinasi yang baik.

Di perbatasan, empat anak laki-laki sedang membagi-bagikan air kepada orang-orang Rohingya yang baru tiba di Bangladesh. Saya bertanya apa alasan mereka melakukan ini. ”Dari media dan media sosial, kami tahu situasi mereka. Sebagai sesama manusia dan Muslim, kami ingin membantu mereka sebisanya,” kata salah satu anak.

Bantuan sementara ini memang telah menyelamatkan ribuan nyawa tapi masih jauh dari sempurna.

Di dekat sebuah kamp di kota Balukhali, sekelompok penduduk lokal membagi-bagikan biskuit dari truk dan para pengungsi pun berebutan mengambilnya.

Tapi Sokina yang berusia 70 tahun mengatakan tidak punya peluang untuk mendapat bantuan dengan cara seperti ini.

Ketujuh anggota keluarganya tewas di Mongdu di negara bagian Rakhine. Setelah berjalan kaki lima hari, dia berhasil tiba di sini dan bertemu dengan beberapa kerabat yang tinggal di sebuah gubuk plastik. Dengan putus asa, dia mengatakan belum makan berhari-hari.

Dari tanggal 19 September, pemerintah Bangladesh mulai membagikan makanan masak ke beberapa kamp. Dan juga telah mengalokasikan dua ribu hektar tanah baru untuk membangun 18 ribu rumah darurat untuk orang Rohingya. Meski ini baru 25 persen dari yang dibutuhkan.

Setelah lima hari berjalan kaki, Shorifun, 80 tahun, baru saja sampai di Bangladesh. Melihat kondisi di sini, dia berulang kali menepuk kepalanya dengan tangan. Dan berkata mengapa tidak ikut mati terbunuh bersama keluarganya.

Dia berhasil tiba di sini, tapi untuk bisa bertahan hidup dia masih harus berjuang.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Praperadilan Setnov Gugur

  • Pemkab Nunukan Hutang Rp 40 Miliar
  • Kanada Izinkan Ekspor Senjata ke Ukraina
  • Sepupu Nani Dapat Kontrak United

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi