Mengenang Tragedi Pemisahan India Tahun 1947 Lewat Museum Pemisahan

Pemisahan India tahun 1947 dikenal sebagai salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah dunia.

Senin, 11 Sep 2017 14:08 WIB

Museum Pemisahan India. (Foto: Bismillah Geelani)

Museum Pemisahan India. (Foto: Bismillah Geelani)

Pemisahan India tahun 1947 dikenal sebagai salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah dunia.

Setelah 200 tahun pemerintahan Kolonial Inggris, anak benua India terbagi. Tercipta dua negara merdeka; India yang penduduknya mayoritas beragama Hindu dan Pakistan yang mayoritas Muslim.

Umat Muslim melarikan diri dari India dan sebaliknya, pemeluk Hindu meninggalkan Pakistan. Ini  menciptakan migrasi terbesar dalam sejarah. Kerusuhan komunal yang belum pernah terjadi sebelumnya pecah di penjuru anak benua. Akibatnya sekitar satu juta orang tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Kini, setelah 70 tahun, sebuah museum didirikan untuk memperingati peristiwa itu. Museum Pemisahan di kota Amritsar, India utara, ini menjadi tempat penyimpanan kenangan para korban yang selamat.

Bismillah Geelani berkunjung ke pembukaan museum  ini bulan Agustus lalu dan menyusun ceritanya untuk Anda.

PS Rawal sekarang berusia 77 tahun. Dia baru berusai tujuh tahun, ketika subbenua India terbagi menjadi dua negara berbeda - India yang mayoritas penduduknya pemeluk Hindu dan Pakistan yang mayoritas Muslim.

Dia masih ingat dengan apa yang terjadi saat itu. Ayahnya adalah tuan tanah kaya yang tiba-tiba kehilangan semuanya.

“Saat pengumuman pemisahan muncul, ayah saya tidak mempercayainya. Jika dia mau maka kami sudah pindah sejak lama dan bisa menyelamatkan sebanyak mungkin milik kami. Tapi ayah bersikeras kalau pemisahan itu tidak akan pernah terjadi,” kisah Rawal. 

“Dia bilang punya banyak tanah dan pekerja dan itu tidak mungkin terjadi pada kami. Tapi itu memang terjadi. Pemerintah mengumumkan orang-orang yang tertarik untuk pergi ke India harus pergi dalam waktu satu minggu.”

Keluarganya bersiap naik kereta ke India saat kakak perempuan Rawal menolak untuk naik. Dia tidak mau pergi tanpa suaminya yang belum juga sampai di stasiun kereta saat itu. Tapi penolakan ini menyelamatkan nyawa mereka sekeluarga. 

“Ibu saya bilang, kalau putri saya tidak pergi maka saya juga tidak akan pergi. Jadi ayah menyuruh kami semua turun. Jadi kereta api meninggalkan stasiun dan menuju India tanpa kami. Tapi di suatu tempat dekat perbatasan, kereta berhenti dan diserang orang-orang Mohammed, yang bersenjata tombak, senjata api dan lainnya. Mereka membantai semua penumpang,” tutur Rawal.


Di tengah kematian dan kehancuran, keluarga Rawal akhirnya melakukan perjalanan dengan sebuah karavan yang ditarik gerobak sapi jantan. Di India mereka memulai lagi dari nol. Dan sementara keluarga seperti Rawal tiba di India, jutaan lainnya menyeberang dari India ke Pakistan.

Aslam Sheikh, 82 tahun, baru berusia 11 tahun waktu itu. Suaranya tersedak dan matanya berkaca-kaca saat mengenang rumah leluhurnya di kota Jalandhar di India, dan perjalanannya ke Pakistan.

“Kami diberitahu jika tidak meninggalkan rumah dalam waktu tiga hari, kami akan dibunuh. Jadi orangtua kami mengumpulkan barang yang penting dan sedikit pakaian,  dan kami dibawa ke sebuah kamp pengungsian. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Banyak mayat dan orang-orang yang terluka dibawa ke kamp dengan truk,” kenang Sheikh. 

“Saya melihat seorang perempuan yang payudaranya terpotong. Dia bercerita anak balitanya dilempar ke udara dan dicincang dengan pedang. Kekejaman dan kegilaan semacam itu tidak pernah kami dengar sebelumnya. Dan ketika kami naik kereta api ke Pakistan, kami melihat mayat berserakan di ladang. Banyak di antaranya sudah membusuk.”

Ada jutaan cerita seperti ini selama pemisahan; kehilangan, kesedihan dan penjuangan hidup. Dan kebanyakan cerita itu tidak pernah diungkap. Tapi sebuah museum baru di India punya misi ambisius - mencatat kisah-kisah pribadi korban selamat dari pemisahan dan membagikannya kepada publik.

Kishwar Desai adalah ketua Yayasan Warisan Seni dan Budaya, organisasi yang mendirikan Museum Pemisahan.

“Peristiwa ini memaksa lebih dari 18 juta orang bermigrasi dan meninggalkan rumah mereka dalam semalam. Ini adalah migrasi terbesar dalam sejarah. Tujuh puluh tahun berlalu, belum ada dokumentasi yang memandai tentang tragedi itu. Kami telah kehilangan banyak catatan dan arsip pribadi banyak orang yang dicambuk dengan kejam saat itu. Jadi penting bagi kami untuk mencoba dan melestarikannya. Itu yang sedang kami kerjakan di sini,” jelas Desai.


Museum ini dibuka pada peringatan ke-70 pemisahan, bulan Agustus lalu. Letaknya sekitar 30 kilometer dari perbatasan India Pakistan di Amritsar. Ini adalah tempat peringatan pertama di dunia yang didedikasikan untuk pemisahan tersebut.

Asisten kurator Ganeev Dhillon menjelaskan museum itu menampilkan sejarah lisan yang direkam dari orang-orang yang selamat, serta arsip-arsip lainnya.

“Kami mencoba untuk menampilkan situasi saat itu lewat berbagai media. Kami mengumpulkan dokumen-dokumen pemerintah, dokumen dan surat pribadi, buku harian, foto, surat kabar, atau cuplikan gambar dari sumber resmi. Kami juga punya cerita yang ditulis orang-orang saat itu, puisi, atau barang-barang yang dibawa saat mengungsi. Kami akan menampilkan itu semua dalam satu tempat,” kata Dhillon.

Tapi Museum Pemisahan ini hanya bercerita dari sisi India. Orang-orang Bangladesh dan Pakistan yang juga ikut terdampak, tidak terwakili di museum ini.

Pendiri museum mengatakan mereka punya rencana untuk menjangkau semua korban yang selamat dan menyertakan cerita mereka. Tapi ada pihak yang tetap bersikap skeptis.

Javed Siddique adalah editor salah satu koran berbahasa Urdu terkemuka di Pakistan, Nawai Waqt.

“Ini tidak adil; mereka tidak berlaku adil terhadap sejarah bersama. Kami semua berjuang bersama dan meraih kebebasan dari Inggris. Semua juga menderita akibat kehilangan dan trauma saat pemisahan terjadi. Dan museum ini harus mencerminkan itu semuanya. Jika tidak mencerminkan gambaran sebenarnya dari kejadian itu dan hanya menampilkan sejarah dari sisi India,itu akan menjadi ketidakjujuran intelektual dan usaha untuk mendistorsi sejarah,” kata Javed.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1