Kaum Muda Korea Selatan Hadapi "Zaman Es" di Dunia Kerja

Angka pengangguran kaum muda di sana sekitar 10 persen, jauh di atas rata-rata angka nasional.

Senin, 04 Sep 2017 10:38 WIB

Kelas persiapan untuk ujian pegawai negeri di Seoul. (Foto: Jason Strother)

Kelas persiapan untuk ujian pegawai negeri di Seoul. (Foto: Jason Strother)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Korea Selatan sedang mengalami apa yang disebut sebagai ‘zaman es’ di dunia kerja.

Kaum muda Korea Selatan berpendidikan tinggi. Tapi banyak dari mereka yang belum menemukan pekerjaan. Tujuh puluh persen dari mereka berusia 20an hingga awal 30an dan lulusan universitas. 

Angka pengangguran kaum muda di sana sekitar 10 persen, jauh di atas rata-rata angka nasional.

Kini kondisinya makin parah, setelah perusahaan raksasa seperti Samsung dan LG mengatakan tidak akan menambah jumlah karyawan tahun ini.

Padahal perusahaan yang lebih kecil menyebut punya banyak lowongan kerja. Masalahnya jarang yang mau melamar ke sana.

Koresponden Asia Calling KBR, Jason Strother, menyusun laporan lengkapnya dari Seoul.

Pagi-pagi sekali, Lee Seung-hoon naik kereta bawah tanah ke Noryangjin. Itu adalah kawasan yang dipenuhi tempat kursus swasta untuk mempersiapkan siswa ikut ujian pegawai negeri. Sekolah itu terletak di sebuah bangunan bertingkat tujuh yang disebut Mega Study Tower.

Pekerjaan di sektor publik dikenal sebagai mata pencarian yang tahan banting. Karena meski ekonomi tidak begitu baik, pemerintah tetap mempekerjakan mereka dan sangat sulit dipecat dari pekerjaan seperti ini.

Presiden baru Korea Selatan, Moon Jae-in, berjanji akan menciptakan ribuan lapangan kerja di sektor layanan publik bagi lulusan universitas.

Lee Seung-hoon, 23 tahun, sebenarnya saat ini sedang kuliah jurusan teknik. Tapi dia mengaku mengambil pilihan pragmatis untuk cuti kuliah dan belajar untuk ikut ujian pegawai negeri.

“Bukannya saya berpikir kalau jadi pegawai negeri itu pekerjaan yang bagus, hanya lebih aman. Beberapa teman saya ingin mendapat banyak uang jadi mereka akan mencoba bekerja untuk perusahaan besar. Tapi saya lebih memilih yang stabil,” jelas Lee.

Dia mengaku baik insyisur maupun pegawai negeri bukanlah minatnya.

“Orangtua ingin anak mereka mendapat pekerjaan bagus. Jadi Anda harus masuk universitas, tidak masalah apa jurusannya. Minat tidak penting. Jadi, kami kehilangan minat untuk belajar,” tambah Lee.

Sebagian besar keluarga Korea Selatan mendefinisikan jenis pekerjaan yang tepat itu secara sempit.

“Di sini pekerjaan yang tepat adalah jadi pegawai negeri atau bekerja di salah satu perusahaan besar ini. Jadi orangtua mengerahkan semua sumber dayanya baik ekonomi maupun emosi agar anak-anak mereka bisa mencapai tujuan ini,” kata Jasper Kim, yang mengajar di Kajian Internasional di Ewha Women's University di Seoul.


Negara-negara Asia Timur Laut lainnya, seperti Jepang dan Taiwan, juga menghadapi tingginya tingkat pengangguran kaum muda. Tapi Kim berpendapat di Korea kondisinya sedikit berbeda.

Orangtua Korea yang ingin anaknya dapat pekerjaan bagus tidak hanya memasukkan sang anak ke universitas. Mereka juga menghabiskan banyak uang untuk memasukkan anaknya ke tempat kursus. Di sini Korea, ada tempat kursus untuk hampir semua profesi.

Kim bilang secara statistik tidak mungkin semua orang berpendidikan ini bisa menempati posisi yang mereka inginkan. Dan itulah yang terjadi di balik angka pengangguran kaum muda di Korea.

“Korea pada dasarnya menderita karena terlalu banyak pendidikan. Anak-anak punya terlalu banyak gelar dan menghabiskan terlalu banyak waktu di sekolah. Dan itu dipicu karena tingginya harapan dan kegembiraan irasional terhadap peluang pekerjaan yang akan didapat setelah lulus,” kata Kim.

Kim mengatakan banyak lulusan perguruan tinggi tidak akan mempertimbangkan bekerja untuk usaha kecil atau menengah, UKM. Tapi sekarang perusahaan-perushaan besar itu tidak lagi menciptakan lapangan kerja yang cukup. Ini membuat beberapa kaum muda Korea berpaling pada perusahaan-perusahaan yang lebih kecil.

Saya datang ke sebuah bursa kerja untuk kaum muda di kota Goyang, di luar Seoul. Ada sekitar 50 perusahaan kecil dan menengah yang ikut serta. Beberapa pencari kerja, seperti Choi Kang-min, 27 tahun, datang ke sini memakai jas dan dasi.

Dia lulus awal tahun ini dengan gelar sarjana di bidang teknik otomotif. Dia mengaku tidak mau bekerja di perusahaan kecil karena sering dengar berita negatif tentang mereka.

“Saya punya teman yang bekerja di sebuah perusahaan kecil dan dia selalu bekerja lembur. Menurut saya ini sangat buruk,” kata Choi.

Heo Gun, pemilik perusahaan yang membuat bungkus kabel listrik, salah satu yang hadir di bursa kerja ini. Dia mengatakan perusahaan kecil seperti miliknya mendapatkan reputasi yang tidak adil.

“Pencari kerja di sini punya prasangka kalau semua perusahaan kecil dan menengah suka mengeksploitasi karyawan mereka. Ya ada yang melakukan itu tapi tidak semua. Saya berharap mereka mau membuka diri untuk bekerja di perusahaan seperti kami,” kata Heo.

Karyawan dengan jam kerja berlebih bukanlah satu-satunya masalah yang terjadi di UKM. Gaji yang mereka bayarkan juga lebih kecil dari perusahaan besar.

Itu sebabnya Han Yoo-jung, 23 tahun, ragu untuk bekerja di perusahaan kecil. Katanya, “Profesor saya mengatakan jika Anda bekerja satu tahun untuk perusahaan besar hasilnya sama dengan kerja 10 tahun di sebuah perusahaan kecil.”

Tapi Han menambahkan meski begitu dia akan mengambil peluang apa saja yang tersedia karena sedikitnya lowongan kerja saat ini.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi