Invasi Makanan Siap Saji di India

Penjual makanan tradisional harus mengganti resep-resep lama demi variasi baru yang meniru makanan cepat saji.

Senin, 18 Sep 2017 11:13 WIB

Seorang pria India sedang menyantap burger. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Seorang pria India sedang menyantap burger. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Baru-baru ini, McDonalds mengumumkan kalau 169 dari 430 restorannya di India akan ditutup. Berita ini disambut gembira pengusaha makanan lokal. Mereka adalah pihak yang paling terdampak dari ledakan makanan siap saji di negar a itu.

Saat mereka mencoba mengikuti selera yang berubah, penjual makanan tradisional harus mengganti resep-resep lama demi variasi baru yang meniru makanan cepat saji.

Jasvinder Sehgal berkunjung ke Gaurav Tower, sebuah pasar makanan siap saji populer di kota bagian barat India, Jaipur, untuk mencari tahu.

Prabhjas Singh yang berusia 15 tahun mengaku sangat menyukai burger. Prabhjas makan burger keju ukuran besar dari McDonals setidaknya tiga kali seminggu dan bahkan kadang dua kali sehari.

Hari ini dia datang ke Gaurav Tower, pasar makanan terkenal di Jaipur, untuk makan siang bersama ibunya. Prabhjas ingin memesan burger tapi ibunya Anu tidak setuju.

Burger tidak baik untuk kesehatannya tapi dia tidak mau mengerti. Anda tahu dua pertiga penduduk perkotaan di India mengalami kelebihan berat badan. Penyebabnya makanan siap saji ini. Saya tidak mau melihat putra saya menjadi pria berperut buncit seperti ayahnya,” kata Anu.

Di dekat situ ada toko manisan tradisional terkenal bernama Jodhpur Misthan Bhandaar. Pemilik toko Rajesh Sharma, 46 tahun, mengatakan sekarang pembeli di tokonya tidak sebanyak dulu.

“Anak-anak tidak suka makanan tradisional. Mereka tidak berminat dengan makanan kecil atau manisan yang dibuat dengan cara tradisional. Prioritas utama mereka makanan siap saji terutama burger dan mi,” tutur Rajesh.

Serbuan budaya makanan siap saji menjadi alarm bagi budaya kuliner tradisional India. Anu Singh mengatakan baik di rumah dan pasar, resep tradisional disesuaikan agar cocok dengan rasa makanan siap saji.

“Memuaskan selera anak muda India adalah sebuah tantangan. Saya sampai mengubah cara memasak dengan menambahkan berbagai saus ala barat saat memasak sayuran hijau dan kari India. Saus ini biasanya digunakan untuk membuat burger. Makanan India samosa yang biasanya diisi kentang diganti dengan mi, sementara falafel dilengkapi taburan pizza. Banyak bahan olahan dan buatan digunakan untuk mengubah resep tradisional menjadi jajanan ala barat,” kata Anu.

Kembali ke pasar, Sanjay Sharma berusia 53 tahun sedang membuat omelet pizza. Dia adalah pemilik dan koki di kedai omelet Sanjay. Dia bercerita menambahkan rasa-rasa makanan cepat saji di resep omelet miliknya.

“Saya membuat 150 jenis omelet termasuk omelet pizza, omelet pizza Afghanistan, dan omelet Hong Kong dengan bahan-bahan dari Tiongkok, omelet mentega  keju, dan omelet burger Moroko. Selain kedai ini, saya juga membuka restauran omelet bernama namanya Egg-dee,” jelas Sanjay.

Menurut PBB, kebiasaan makan orang India berubah secara drastis dalam 50 tahun terakhir. Orang India kini lebih banyak mengkonsumsi gula, lemak, daging dan produk berbahan daging dan lebih sedikit biji-bijian.

Kelas menengah India yang tumbuh pesat, membelanjakan lebih banyak uang untuk membeli makanan siap saji yang harganya relatif lebih mahal ketimbang makanan tradisional. Dr. Sukant Sharma adalah ahli ekonomi di Kampus Pemerintah, Dausa.

“Orang-orang tidak punya banyak waktu dan ingin makanan yang siap saji. Mereka suka makanan seperti ini karena mudah mendapatkannya. Setidaknya mereka tahu apa yang mereka makan karena mereknya sudah terkenal. Anak-anak suka dengan makanan siap saji karena tampilan dan gambaran mereka yang menarik. Selain itu makanan barat itu adalah simbol status,” kata Sharma.

Tapi pola makan baru ini membuat orang India kelebihan berat badan. Saat ini, hampir 70 juta warga negara itu dianggap mengalami kelebihan berat badan dan angka ini salah satu yang tertinggi di dunia.

Ahli bedah kosmetik, dokter Akhilesh Sharma, mengatakan sudah makin banyak orang yang melakukan operasi sedot lemak untuk mengurangi berat badan mereka.  

“Saya melakukan satu atau dua kali operasi sedot lemak setiap minggu dan pasien datang dari semua lapisan masyarakat. Mereka mungking berasal dari kelompok terpelajar, kelas atas, atau orang biasa tapi tujuan mereka sama: menjadi langsing,” tutur dr. Akhilesh.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi