Migrant Care berupaya menjangkau pekerja migran di bandara sebelum mereka berangkat ke negara tujuan

Migrant Care berupaya menjangkau pekerja migran di bandara sebelum mereka berangkat ke negara tujuan. (Foto: Nicole Curby)

Ada sekitar tujuh juta orang Indonesia bekerja di luar negeri. Sebagian besar adalah perempuan yang bekerja sebagai pekerja rumah tanggal di negara-negara Asia dan Timur Tengah.

Iming-iming gaji yang lebih besar adalah salah satu alasan mereka, meski resikonya juga lebih besar.

Dari Jakarta, Nicole Curby menyusun laporan soal inisiatif unik untuk membantu pekerja migran beberapa saat sebelum mereka berangkat.

Bagi mata yang tidak terlatih, tidak mudah membedakan mana yang pekerja migran mana yang penumpang biasa - apalagi menebak tujuan mereka.

Tapi berkat pengalaman bertahun-tahun, Rima, Dede dan Hajid, dari LSM Migrant Care bisa membedakan mereka.

Di Bandara Sukarno Hatta Jakarta, mereka mencoba mengenali pekerja migran dari jenis sepatu atau cara berpakaian. Menurut mereka, pekerja yang mau ke Taiwan atau Hong Kong biasanya memakai seragam.

Sementara yang akan ke Timur Tengah memakai jilbab dan sendal bukan sepatu.

Penganiayaan terhadap buruh migran Indonesia di luar negeri adalah masalah yang terus terjadi.

Banyak kisah pilu kita dengar bertahun-tahun terkait kekerasan fisik, pekerja rumah tangga disetrika, atau kisah majikan yang menyita paspor pekerjanya.

Karena itu, pada Mei lalu Pemerintah Indonesia memberlakukan larangan mencari pekerjaan di 21 negara di kawasan Timur Tengah. Meski begitu, tetap banyak yang nekat berangkat.

Itu sebabnya tim dari Migrant Care melakukan upaya maksimal untuk menyampaikan informasi penting kepada para pekerja migran. Mereka mensosialisasikan hak-hak dan apa yang bakal dihadapi pekerja migran di luar negeri, beberapa jam sebelum mereka berangkat.

Setiap hari ada sekitar 100 pekerja migran berangkat menuju berbagai negara seperti Taiwan dan Hong Kong. 

Tapi jumlah yang lebih besar berangkat ke Timur Tengah.

Pernah dalam satu tahun, Migrant Care menerima laporan lebih dari lima ribu kasus kekerasan yang dialami pekerja migran. Bentuknya beragam mulai dari kekerasan seksual, fisik, dan ekonomi yang dilakukan para majikan. Tapi angka  dilapangan diyakini bisa lebih tinggi.


Tapi direktur Migrant Care, Anis Hidayah, mengatakan moratorium ini membuat pekerja makin rentan. Karena jika tetap nekat pergi, mereka tidak punya izin resmi dan perlindungan hukum terhadap mereka sangat kurang. 

“Selama bekerja mereka tidak mendapatkan batasan jam kerja kemudian akses hari libur , beribadah, akses untuk berkomunikasi, gaji yang layak. Bahkan kontrak kerja yang mereka tanda tangani sama sekali berbeda dengan situasi di dalam rumah dimana mereka bekerja. Sehingga mereka bekerja sangat tidak layak,” kata Anis.

Saat saya bertemu Dewi, bukan nama sebenarnya, di bandara, dia hendak kembali bekerja di Arab Saudi setelah cuti tiga bulan.

Dewi sudah bekerja di Timur Tengah sejak putranya, yang kini sudah dewasa, masih duduk di bangku SD. Jadi dia banyak mendengar banyak cerita buruk yang menimpa pekerja migran.

“Ini majikannya yang ini, terus dipindahin ke sini. Itu kalau orangnya pintar, ya nggak mau, bisa ngadu. Nanti kan bisa mengadu ke sana ke sini kalau pintar,” tutur Dewi. 

Majikan tempat pekerja migran biasanya dipilih oleh agen. 

Tapi ada beberapa, yang bahkan sesaat sebelum berangkat, tahu sedikit sekali soal tujuan mereka. Bahkan ada yang tidak menguasai bahasa negara tujuan.

Ini mempersulit saat mereka mengalami masalah di sana.

Kembali ke bandara.

Setelah mengamati rombongan yang terdiri dari empat perempuan berjilbab dan memakai sendal, Hajib dari Migrant Care mendekati dan berbincang dengan mereka.

“Dia mau ke Arab Saudi. Saya tanya beberapa saja, berangkat dari PT mana. Untung tadi dia ingat, satu orang ingat dari PT apa. Tiga orang lain nggak ingat PT apa. Meskipun dia bilang ditampung dua bulan di PT, tapi dia tidak tahu PT-nya apa,” ungkap Hajib.

“Bahkan PK belum ditandatangani. Kami ingin memperlihatkan PK-nya tidak ada tapi dia sudah mau berangkat. Intinya yang ke Timur Tengah saat ini benar-benar kacau.”

Dari pendekatan langsung ini, Migrant Care juga mendapatkan data-data.

Inisiatif mereka ini juga menarik perhatian Kementerian Tenaga Kerja, dimana kedua lembaga akan bekerja sama melakukan survei untuk mengumpulkan data penting.

Rima, Hajid dan Dede dari Migrant Care juga tidak lupa memberikan kartu kecil kepada para pekerja yang mau berangkat. 

“Di kartu nama itu, ada nomer handphone kita, nomer handphone teman teman, nomor kantor. Karena mungkin lebih simple, mereka merasa lebih simple, mereka kebanyakan chat pribadi, langsung ke kantor, laporan di situ,” jelas Hajib. 

“Dan dari situ, sudah lumayan banyak chat chat pribadi dan kemudian kita laporkan. banyak sekali. Tapi kita juga kadang laporan di sini, di bandara, makanya begitu pentingya Migrant Care ada di sini.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!