Aksi protes warga Afghanistan yang memboikot produk asal Pakistan. (Foto: Afghan Journalist)

Aksi protes warga Afghanistan yang memboikot produk asal Pakistan. (Foto: Afghan Journalist)

Sebuah serangan bom bunuh diri di Kabul bulan lalu telah meningkatkan ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan. Dalam serangan itu 50 orang tewas dan ratusan lainnnya luka-luka.

Presiden Afghanistan mengklaim Pakistan terlibat dalam serangan di Kabul itu. 

Dan sejak bulan lalu, warga Afghanistan memboikot produk Pakistan sebagai bentuk protes.  

Video boikot seperti ini beredar dengan cepat di Afghanistan. 

Dalam video tampak seorang perempuan memegang botol minuman soda ternama asal Pakistan. Dia lalu menuang isi botol minuman itu...

“Saya meminta semua warga Afghanistan untuk memboikot produk Pakistan. Karena Pakistan terlibat dalam perang dan terorisme di negara kita. Jangan minum produk minuman Pakistan, minumlah air putih.”

Tak lama setelah video itu muncul, aksi unjuk rasa terjadi di jalan-jalan utama di Afghanistan.

Mereka meneriakan yel-yel yang menentang Pakistan. Bahkan beberapa pengunjuk rasa membakar bendera Pakistan.

“Saya tahu aksi boikot akan berdampak pada masyarakat biasa karena mereka biasanya memakai produk Pakistan. Sementara orang kaya lebih memilih produk yang mahal asal Eropa atau negara lain. Tapi meski begitu saya mendukung aksi boikot produk Pakistan,” ungkap seorang mahasiswa bernama Edrees Latifi yang ikut ujuk rasa.

Pakistan membalas aksi boikot itu dengan memberlakukan pembatasan bagi truk-truk asal Afghanistan yang masuk negara itu.

Sajjad Khan adalah petugas bea cukai di perbatasan Pakistan-Afghanistan. “Boikot ini mempengaruhi bisnis kami dan akan berdampak pada yang lain juga. Kedua negara seharusnya membangun hubungan bisnis bukan memboikot produk negara lain.”


Afghanistan dan Pakistan punya hubungan dagang yang erat.

Walid Khan, seorang eksportir asal Pakistan, mengatakan boikot ini hanya akan merugikan warga Afghanistan.

“Aksi boikot ini tidak menguntungkan Afghanistan karena negara itu tidak memproduksi barang. Bila mau mendatangkan barang dari Iran atau negara lain butuh waktu bermingu-minggu. Sementara barang dari Pakistan bisa datang dalam waktu dua hari,” papar Wahid Khan.

Beberapa restoran kecil yang terletak di jalan penghubung Pakistan-Afghanistan terkena dampak dari pembatasan truk ini.

Gulbat Khan dan keluarganya sudah menekuni bisnis restoran ini sejak 10 tahun silam. Dia berharap aksi boikot ini segera berakhir.

“Boikot ini akan menghentikan arus keluar masuk truk kemari. Padahal itu adalah sumber pemasukan kami. Kalau tidak ada truk yang melintas, kami akan kehilangan pendapatan dan ini berakibat pada kehidupan keluarga saya. Padahal saat ini sedang krisis keuangan,” harap Gulbat Khan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!