Veteran India. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Veteran India. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Di Jantar Mantar New Delhi, ratusan veteran menyanyikan lagu yang liriknya berbunyi ‘pensiun untuk semua, beri kami keadilan....’

Aksi unjuk rasa ini sudah berlangsung selama dua bulan terakhir.

V.K. Gandhi dari Barisan Veteran Bersatu mengatakan mereka menuntut apa yang disebut ‘satu pangkat satu pensiun’ atau OROP.

“Satu pangkat satu pensiun maksudnya orang-orang harus mendapat pensiun yang sama terlepas kapan dia pensiun. Ini artinya, komandan militer yang pensiun tahun 1976, setelah 24 tahun akan mendapatkan pensiun yang jumlahnya sama dengan yang pensiun 2014,” jelas Gandhi.  

Aksi protes ini mendapat dukungan masyarakat...termasuk dari putri seorang menteri yang saat ini tengah menjabat. 

Mrinali mengungkapkan alasannya bergabung dengan aksi ini.

“Kakek saya dulu tentara, ayah saya seorang veteran dan suami juga militer. Suatu hari nanti, putra saya juga akan bergabung dengan kemiliteran. Jadi ini alasan saya datang kemari. Kita harus menghormati para veteran kita,” tegas Mrinali.

Setelah dua bulan berunjuk rasa pemerintah akhirnya menyetujui skema pensiun yang baru.

Berdasarkan skema OROP itu, uang pensiun akan direvisi setiap lima tahun, terlepas kapan mereka pensiun.

Tapi pemerintah hanya menyetujui satu dari lima tuntutan para pensiunan. Tuntutan yang ditolak adalah pembentukan Komisi Veteran yang beranggotakan lima orang dan frekuensi revisi skema.

Satbir Singh, wakil ketua gerakan veteran mengatakan para veteran tidak sepenuhnya puas dengan skema OROP versi pemerintah.  

Bila skema ini tidak diberlakukan untuk semua prajurit termasuk yang pensiun dini, Sabir mengatakan mereka akan terus berunjuk rasa.

“Jika hak yang diberikan pada para prajurit yang pensiun dini sesuai yang kami harapkan, aksi mogok makan akan kami hentikan. Aksi kami akan berlanjut sampai tiga tuntutan lain dipenuhi,” tekad Satbir.

Singh mengaku mereka akan tetap menuntut sampai semua tuntutan mereka dipenuhi. 

“Kami sudah mengembalikan 22 ribu medali kepada pemerintah lewat Presiden. Tapi dia menolak menerimanya. Saya masih menyimpan 10 ribu medali lainnya. Beliau tidak menghargai medali-medali ini,” kata Satbir.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!