Penyanyi yang ikut menyemarakan Festival Bamiyan di Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Penyanyi yang ikut menyemarakan Festival Bamiyan di Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Ratusan orang berkumpul di depan dua buah patung Buddha raksasa.

Lampu menyala... dan Anda bisa melihat gambaran kedua patung dengan bantuan proyeksi lampu tiga dimensi.


Patung aslinya sendiri dihancurkan pada 2001 oleh Taliban karena dianggap tidak Islami.

Muhammad Ariful Islam yang berasal dari Bangladesh merasa sangat terkesan.“Saya hanya bisa membayangkan betapa hebatnya peradaban kuno itu dan saya merasa sangat tersentuh.”

Pertunjukan itu merupakan rangkaian dari Festival Bamiyan yang diadakan di lembah yang terkenal dengan pegunungan bersaljunya dan pemandangan alam yang indah.

Festival ini diisi pertunjukan film dan musik, pameran kuliner dan kerajinan lokal. 

Kepala Departemen Budaya Bamiyan Kabeer Dadras Bamyan punya harapan yang tinggi terhadap festival ini. 

“Dalam festival ini disajikan makanan lokal dan tradional, kerajinan dan pertunjukan musik. Kami ingin membangun kembali tradisi dan budaya Afghanistan yang hancur selama perang sipil,” kata Kabeer Dadras. 

Bamiyan yang terletak di dataran tinggi Afghanistan, kaya akan warisan budaya yang dipengaruhi budaya Yunani dan Buddha. Tapi Taliban menghancurkannya karena dianggap tidak Islami.

Juni lalu, Bamiyan dinyatakan sebagai ibukota budaya Asia Selatan oleh Asosiasi Asia Selatan untuk Korporasi Regional SAARC. 

“Saat kami melakukan proses pemilihan ibukota budaya, kami melakukan riset dengan mengunjungi banyak tempat. Ketika kami tiba di Afghanistan untuk kali pertama, kami mengunjungi kota Bamiyan. Kami tahu kalau tempat ini kaya akan nilai budaya kuno,” jelas Wasnathe Kotuwella dari SAARC.


Pemerintah Afghanistan berupaya mengembalikan kejayaan kawasan itu.

Kotuwella yakin festival Bamiyan bisa membantu memperbaiki hubungan antara negara-negara Asia Selatan.

“Pertemuan dan pembicaraan tidak akan memperbaki hubungan. Tapi kegiatan seni semacam ini bisa mengubah perilaku dan bagaimana dunia melihat negeri Anda,” kata Wasnathe Kotuwella.

Tanezja Mojen adalah pelukis asal Bhutan. Dia melukis keindahan pemandangan alam Bamiyan bersama dengan seniman Afghanistan.  Ini kali pertama dia mengunjungi Bamiyan.

“Bisa berinteraksi dengan seniman hebat dari Asia Selatan adalah kesepatan besar. Saya bisa belajar banyak hal dari berbagai seniman di sini,” kata Tanezia.

Di festival ini juga disajikan 23 jenis makanan tradisional Bamiyan.

“Saya memasak Kocha, yaitu masakan domba dengan gandum. Kelompok saya memasak sekitar 19 jenis masakan tradisional Bamiyan. Semua makanan dihidangkan di atas meja. Para tamu bisa mengambil makanan mana saja yang mereka suka,” tutur salah satu juru masak, Ghulam Riza.

Roya Haidari adalah sutradara film Afghanistan ternama. Dia sangat senang dengan acara ini.

“Ini kali pertama saya ke Bamiyan. Acaranya bagus dan saya sangat senang.”

Pejabat daerah Bamiyan siap mengadakan lebih banyak festival di provinsi itu. 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!