Anak pengungsi Rohingya tidak bisa melanjutkan sekolah ke universitas. (Foto: Phyu Zin Poe)

Anak pengungsi Rohingya tidak bisa melanjutkan sekolah ke universitas. (Foto: Phyu Zin Poe)

Universitas Sittwe di Burma dulu menerima mahasiswa dari etnis Rohingya. Tapi semuanya berubah sejak kerusuhan anti-Muslim meletus di negara bagian Rakhine itu tiga tahun lalu. Saat ini mahasiswa Muslim tidak bisa lagi kuliah di kampus itu.

Di negara bagian Rakhine, Phyu Zin Poe bertemu seorang pelajar yang berharap suatu hari dia bisa masuk universitas itu. 

Khin May Ye Than yang berusia 19 tahun adalah guru di kamp Thek Kal Pyin ini. Para siswanya belajar di sebuah ruang terbuka dan sedang belajar bahasa Burma. Dia sudah mengajar di sini selama dua tahun terakhir. 

“Kami punya beberapa guru yang berpengalaman di sekolah ini. Mereka yang mengajarkan saya cara mengajar. Lalu saya coba untuk mengajar para murid,” kisah Khin May Ye Than.

Khin May Ye Than juga tinggal di kamp ini bersama enam anggota keluarganya di sebuah gubuk bambu. Mengajar adalah satu-satu pekerjaan yang bisa dia dapatkan di sini. Tapi ini bukanlah cita-citanya.

“Saya mau kuliah dan belajar ilmu keperawatan. Saat saya di sekolah menengah, para alumni akan datang dan berbagi pengalaman mereka kepada kami. Saya ingin seperti mereka,” ungkap Khin May Ye Than.

Tapi cita-citanya sirna ketika dia harus pergi dari rumah menuju kamp pengungsian Sittwe ini menggunakan kapal nelayan tiga tahun lalu.

“Saya harus lari dari kerusuhan komunal itu. Kejadiannya satu hari setelah pengumuman kelulusan SMA saya keluar. Saya lihat nama saya ada di daftar tapi saya tidak sempat merayakannya dengan teman-teman,” sesal Khin May Ye Than.

Dia merasa putus asa karena tidak punya kesempatan untuk mewujudkan cita-citanya.

“Orang hidup dengan ambisinya. Saya bekerja keras saat SMA agar bisa diterima di universitas. Tapi itu tidak terwujud... Saya merasa saya tidak punya apa-apa.”

Ada sekira 120 ribu pengungsi tinggal di kamp ini. Sekitar 200 orang diantaranya adalah lulusan SMA. Tapi mereka tidak punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. 

Meski Universitas Sittwe hanya berjarak delapan kilometer dari kamp, tapi para pengungsi tidak diizinkan berada di luar area kamp.

Para penjaga kamp melarang orang Rohingya melewati batas wilayah kamp pengungsi.

Hla Thein adalah juru bicara negara bagian Arakan. “Jika kami bolehkan mereka belajar bersama, mereka akan saling bunuh.””

Dia menambahknan orang Rohingya bisa mengikuti  kuliah jarak jauh dari dalam kamp.  

Tapi Tin Hlaing yang mengadvokasi pengungsi untuk mendapatkan pendidikan mengatakan pemerintah seharusnya bisa berbuat lebih banyak.

“Jika pemerintah berpikir mereka tidak bisa belajar bersama di sini, pemerintah bisa mengirim para pelajar ke Yangon atau kota lain. Jadi anak-anak kami bisa melanjutkan pendidikan mereka. Kami sudah tinggal di sini selama beberapa tahun tapi belum juga ada kesempatan untuk melanjutkan sekolah,” kata Tin Hlaing. 

Kembali ke kamp pengungsian. Khin May Ye Than sedang menulis kalimat dalam bahasa Burma di papan tulis. Dan para siswa mengulangi kata-katanya. 

“Masa depan para siswa tidak jelas, apakah mereka bisa melanjutkan kuliah ke universitas atau tidak. Tapi saya tetap mendorong mereka. Mungkin suatu hari nanti ada kesempatan bagi kami untuk masuk perguruan tinggi,” harap Khin May Ye Than.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!