Aksi Bersih 4.0 di Malaysia. (Foto: Jarni Blakkarly)

Aksi Bersih 4.0 di Malaysia. (Foto: Jarni Blakkarly)

Selama gerakan Bersih yang berlangsung di Kuala Lumpur belum lama ini, ribuan orang turun ke jalan memakai kaos kuning.

Mereka menuntut reformasi demokrasi dan pemecatan Perdana Menteri.

Politikus oposisi Rafizi Ramli mengatakan ini adalah suara rakyat Malaysia. 

“Ketika Malaysia punya Perdana Menteri yang korup, semua orang apapun etnisnya akan menderita. Maka semua harus bersatu dan menolak Najib,” ujar Rafizi.

Rafizi mengatakan mereka tidak takut dengan propaganda rasial pemerintah.

Surat kabar milik UMNO, partai yang sudah memimpin pemerintah sejak lama, menyoroti kalau pendukung Bersih berasal dari etnis tertentu.

“Apakah saya orang Tionghoa? Bukan. Apakah mereka orang Tionghoa? Bukan. UMNO menyatakan hanya orang Tionghoa yang bergabung dengan Gerakan Bersih. Padahal semua orang turun ke jalan. Anda telah memilih hal yang benar dan saya bangga pada Malaysia,” tegas Rafizi. 

Para politisi oposisi mengatakan etnisitas selalu digunakan pemerintah untuk memecah belah warga negaranya.

“Ini bukan lagi soal etnisitas. Kesadaran sudah melintasi ras dan kepatuhan agama. Saya pikir sangat buruk dan salah tempat untuk mengatakan karena ada orang Tionghoa, Bersih tidak beragam. Menurut saya itu tidak adil,” ungkap Dzulkefly Ahmad, politisi Malaysia dari partai oposisi Islam moderat baru.

Tapi survei dari jajak pendapat independen Merdeka Center menunjukkan jumlah etnis Tionghoa pendukung aksi ini tiga kali lipat dari orang Melayu.

Oposisi dan pemimpin Bersih seperti Rafizi mengatakan apapun ras mereka, semua pendukung adalah orang Malaysia.

“Ini bukan soal kami orang Tionghoa, India, atau Melayu, tapi kami melawan penjahat. Perdana Menteri tidak menghargai nilai-nilai orang Melayu, Tionghoa dan India. Semua penjahat, terlepas dari identitas mereka, akan kami lawan!” tegas Rafizi.

Aksi protes ini diadakan organisasi non pemerintah yang disebut ‘Bersih” – yang terdiri dari lebih 20 organisasi sipil dan partai politik.

“Meski saya perhatikan sebagai besar orang Tionghoa, tapi yang terpenting adalah menyadari, tidak peduli apapun rasnya dan jumlahnya, ada 100 ribu hingga 200 ribu warga Malaysia turun ke jalan menyuarakan pendapat mereka,” kata aktivis sosial dan kolumnis Niki Cheong.

Menurutnya kelompok Melayu sulit mengikuti aksi ini karena mereka kebanyakan tinggal di pedesaan.

Sementara sebagian besar orang Tionghoa Malaysia tinggal di kota dan mengerti internet. Itu sebabnya mereka mudah mendapatkan informasi soal gerakan sosial ini. Tapi dia mengakui memang ada perpecahan etnis di sini...

“Ini tertanam begitu dalam. Kami butuh waktu bertahun-tahun untuk sadar kalau sebenarnya kami terpecah secara politis. Begitu pula butuh waktu panjang untuk bisa mengubah institusi dan struktur ini,” kata Niki. 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!