Pekan Air Dunia yang berlangsung di Swedia tahun ini menyoroti masalah air di Asia. (Foto: Ric Wasse

Pekan Air Dunia yang berlangsung di Swedia tahun ini menyoroti masalah air di Asia. (Foto: Ric Wasserman)

Ini adalah forum terkemuka di dunia untuk saling bertukar pengetahuan yang berhubungan dengan air.

Pekan Air Dunia tahun ini fokus pada kebutuhan mendesak untuk mengurangi resiko air pada masyarakat miskin.

Air adalah komoditas yang sangat berharga dan menjadi semakin mahal seiring pasokan yang menipis.

Yasmin Saddiqi adalah ketua pakar air di Bank Pembangunan Asia ADB.

”Pasar air, harga air, perdagangan air adalah masalah yang sensitif di negara seperti India. Karena air masih dilihat sebagai produk sosial. Bahkan dalam konteks pendesaan, air seharusnya tidak dipasangi harga. Karena bagi masyarakat berpenghasilan rendah, mengenakan biaya pada air akan menambah kesulitan mereka,” ujar Yasmin Saddiqi.

Selain itu perusahaan besar dituduh sebagai penyebab kekurangan air yang ekstrim di negara-negara seperti India.

Di Rajashtan, para petani tidak mampu mengairi ladang mereka setelah Coca Cola mendirikan pabrik pembotolan di sana.

Tapi ada satu orang yang berupaya mengubah kondisi itu. Ia membawa air untuk seribu desa di Rajashtan, negara bagian yang paling terdampak akibat kekeringan India.

Orang itu adalah Rajendra Singh yang dijuluki sebagai ‘Manusia Air Asal India’.

Baru-baru ini, dia dianugerahi Hadiah Nobel karena teknologi sederhananya yaitu pemanen air hujan. Fungsi alat ini untuk mencegah banjir, memulihkan tanah dan sungai dan mengembalikan kehidupan satwa liar.

Dia berbicara pada malam penganugerahan hadiah itu.

“Masyarakat India sangat mendukung dan memberikan cinta, kasih sayang dan rasa hormat mereka pada alam. Dan hari ini Sungai Severn kembali mengalir,” kata Rajendra.

PBB telah mengakui hak manusia atas air dan sanitasi sejak tahun 2010.

Tapi menurut Bank Pembangunan Asia, lebih dari 75 persen negara-negara di Asia Pasifik mengalami masalah keamanan air.

Banyak orang yang belum mendapat pasokan air yang aman ke rumah mereka.

Karena hidup tanpa air bersih bisa menyebabkan orang rawan terkena masalah kesehatan serius.

Namun upaya baru terus dilakukan untuk mengatasi masalah ini.

Di konferensi ini, para ilmuwan muda dari 15 negara bersaing untuk mendapatkan Penghargaan Air Junior dengan percobaan-percobaan mereka.

Para siswa sekolah menengah Singapura ini sedang memperkenalkan solusi murah untuk membersihkan air yang tercemar. 

”Pada dasarnya proyek kami adalah tentang penggunaan limbah kertas untuk menyerap ion logam berat. Kami melakukan penelitian dan menemukan kalau sampah kertas ada yang bisa  mengikat ion. Karena menurut kami, metode konvensional saat ini cukup mahal dan tidak efektif,” jelas salah satu siswa Jaron.

Industri lokal mendukung para ilmuwan muda dalam penelitian mereka.

Mahasiswa berusia 18 tahun bernama Ke Shuai dari Tiongkok membuat drone untuk membantu memantau sumber daya air.

”Dengan cara tradisional, pemantauan air bisa memakan waktu yang lama, bisa sebulan atau beberapa minggu. Dengan alat ini kita dapat monitoring air dalam beberapa jam,” papar Ke Shuai.

Tapi pakar sungai dari Nepal, Dr Arun Shresta, yakin ada ada bagian yang hilang dari konferensi ini. ”Sektor pemerintah kurang terwakili. Jika pemerintah tidak terlibat dalam diskusi ini, saya tidak yakin perubahan akan terjadi.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!