Ratusan Petugas Kebersihan di India Meninggal Setiap Tahun

Tanpa sarung tangan, masker atau pakaian pelindung, mereka mengumpulkan sampah dengan tangan telanjang.

Senin, 21 Agus 2017 08:05 WIB

Aksi protes menuntut dihentikannya pekerjaan kebersihan manual. (Foto: Bismillah Geelani)

Aksi protes menuntut dihentikannya pekerjaan kebersihan manual. (Foto: Bismillah Geelani)

Di India, toilet, saluran pembuangan dan septic tank yang penuh dengan kotoran manusia dan hewan dibersihkan masyarakat dari kasta terendah.

Tanpa sarung tangan, masker atau pakaian pelindung, mereka mengumpulkan sampah dengan tangan telanjang. Praktek ini sangat berbahaya dan tidak sehat. 

Dalam beberapa pekan terakhir, beberapa petugas kebersihan, yang juga dikenal sebagai 'pemulung manual', meninggal saat bekerja. Tapi ini bukan kasus baru. Setiap tahun, ratusan orang meninggal dengan cara yang sama.

Padahal pekerjaan ini telah dilarang bertahun-tahun yang lalu karena dianggap berbahaya dan tidak manusiawi.

Tapi seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani dari New Delhi, puluhan ribu orang Dalit, kasta rendah di India, terus mempertaruhkan nyawa mereka mengerjakan pekerjaan bergaji rendah dan berisiko besar.

Keluarga para petugas kebersihan berkumpul di luar sebuah rumah sakit di New Delhi. Mereka sedang berduka. Empat rekan mereka baru saja meninggal saat membersihkan septic tank di New Delhi.

Adik bungsu Prem Singh, 35 tahun, adalah salah satu korban tewas. Prem bercerita pada saya apa yang terjadi.

“Pertama, dua dari mereka masuk ke lubang. Tapi begitu mereka membuka tutupnya dan masuk, mereka langsung jatuh pingsan karena akumulasi gas beracun di dalam lubang. Lalu yang ketiga mencondongkan badan ke lubang untuk melihat apa yang terjadi,” kisah Singh. 

“Tapi dia juga pingsan dan jatuh ke dalam lubang. Kemudian adik saya masuk dengan seutas tali. Dia ingin membantu dan membawa mereka ke luar, tapi setelah beberapa saat dia juga pingsan dan tidak bergerak di dasar lubang.”

Keempatnya mati lemas di dalam lubang.

Bezwada Wilson, Presiden Safai Karamchari Andolan atau Gerakan Petugas Kebersihan mengatakan ratusan kematian seperti ini terjadi setiap tahun.

“Dalam lima hingga enam tahun terakhir jumlahnya lebih dari 1400 orang. Ini data yang kami kumpulkan sendiri dan ada dokumennya. Bisa saya katakan jumlah sebenarnya jauh lebih banyak dari ini. Kami juga mengamati dari tanggal 1 sampai 10 Juli, selama 100 hari, terjadi 39 kematian. Sekarang ini setiap hari ada kejadian di lokasi berbeda,” tutur Wilson.

Petugas kebersihan di India adalah orang-orang Dalit atau kerap disebut kelompok tak tersentuh. Mereka ini berada di anak tangga paling rendah dalam sistem kasta India yang kaku.

Mereka dipekerjakan oleh pemerintah, baik secara langsung atau melalui kontraktor untuk melakukan berbagai pekerjaan kasar dan kotor. Seperti menyapu jalan, membersihkan toilet, got dan mengosongkan septic tank.

Dan mereka melakukan semua ini dengan tangan kosong dan tanpa pelindung,

Shambunath yang berusia 55 tahun telah membersihkan pipa saluran pembuangan selama beberapa dekade.

“Kondisi kami telah berubah dari buruk menjadi lebih buruk. Kami terserang banyak penyakit dan hampir 90 persen dari kami sakit. Dokter bahkan tidak mau mengobati kami. Saat ini warga ketakutan akan wabah demam berdarah tapi tidak ada yang berpikir tentang kami,” keluh Shambunath. 

“Mereka tidak menganggap kami manusia, mereka pikir kami terbuat dari besi sehingga tidak perlu dilindungi. Tidak ada asuransi, tunjangan kesehatan, alat kerja, bahkan sekedar sarung tangan.”

Kebanyakan petugas kebersihan ini adalah perempuan. Shanti, 60 tahun, meninggalkan rumah setiap pagi sambil membawa sekeranjang abu di kepalanya.

Dia pergi dari rumah ke rumah dan ke WC umum untuk menabur abu di atas kotoran manusia di toilet kering. Setelah itu dia memasukkan semuanya ke dalam keranjang, membawanya di kepala dan pergi.

“Setiap hari saat mulai bekerja, saya rasanya mau muntah.  Baunya sangat menyengat. Sebenarnya sulit untuk melakukan ini tapi tidak ada jalan lain. Kadang saya libur satu hari tapi itu membuat pekerjaan saya jadi bertambah besoknya,” kisah Shanti.

Pada 1993, Parlemen India mengesahkan sebuah undang-undang yang melarang pembersihan secara manual. Pekerjaan ini dianggap tidak bermartabat.

Tapi pemerintah nasional dan negara bagian secara terbuka mengabaikan undang-undang itu dengan terus menggunakan petugas kebersihan manual meski dilarang.

Departemen Kereta Api mempekerjakan paling banyak pemulung manual. Mereka membersihkan sejumlah besar limbah manusia dari jalur kereta api.

Bezwada Wilson dari Gerakan Pekerja Kebersihan melihat sistem kasta India sebagai pelaku sesungguhnya.

“Bila Anda dilahirkan dalam kasta tertentu, Anda harus melakukan pekerjaan tertentu. Jadi ketika Dalit melakukan pekerjaan mereka dan sekarat, masyarakat lain menganggapnya bukan masalah besar. Mereka pikir Dalit hanya melakukan tugas mereka yaitu membersihkan kotoran. Jika mereka kehilangan nyawa saat bekerja, ya mau gimana lagi,” kata Wilson. 

“Mereka tidak berpikir kalau itu hanya omong kosong yang mereka ciptakan sendiri. Pemerintah seharusnya bertanggung jawab menyediakan sanitasi. Semua penguasa, dari semua partai dan posisi, hanya diam.”

Selamat berabad-abad, orang-orang Dalit menghadapi penganiayaan dari kasta-kasta yang lebih tinggi di India.

Tak lama setelah kemerdekaan pada 1947, India menyatakan dirinya sebagai negara demokrasi sekuler dan mengadopsi sebuah konstitusi. Tak lama berselang diskriminasi berdasarkan kasta pun dilarang di negara itu.

Konstitusi menyediakan kuota di bidang pendidikan dan pekerjaan untuk orang-orang Dalit dan kasta rendah lainnya. Tindakan afirmatif ini memang membantu dan saat ini kehadiran Dalit terlihat di hampir semua aspek kehidupan di India.

Orang-orang Dalit terlibat dalam politik dan duduk sebagai anggota Parlemen. Dan bulan lalu, India memilih seorang presiden Dalit untuk kedua kalinya.

Namun, terlepas dari itu, status Dalit sebagai komunitas tidak banyak berubah, kata Vivek Kumar, Sosiolog dan pakar Kajian Dalit.

”Beberapa orang yang memegang posisi tidak berbuat banyak untuk seluruh komunitas. Mereka belum bisa memberikan keterwakilan yang adil, menciptakan institusi atau mempengaruhi perubahan kebijakan yang mendukung kelompok Dalit. Faktanya saat ini, orang-orang Dalit adalah anak yatim piatu politik tanpa akses ke kekuasaan dan tidak ada yang bersuara mewakili mereka,” kata Kumar.

Tapi Dalit sekarang mulai mengatur diri mereka dengan mengadakan demonstrasi besar di seluruh India. Mereka menuntut kesetaraan dan martabat.

Ratusan ribu perempuan Dalit membuang sapu dan keranjang mereka. Mereka berkomitmen untuk melepaskan pekerjaan yang tidak manusiawi itu, kutukan kasta yang mengikat mereka. 

“Ketika mereka membuang keranjang, itu seperti membuang keseluruhan struktur sosial, sistem kasta. Itu sebab kami menganggapnya sebagai tantangan. Tapi pemerintah belum siap memberikan dukungan apapun dan itu adalah masalah utama,” kata Wilson. 

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Bamus Tunda Penggantian Setnov

  • Hoaks 8 Penyakit Tak Ditanggung BPJS Resahkan Warga Bengkulu
  • Salah Sasaran, Puluhan Ribu Penerima PKH Dihapus
  • Koresponden Asia Calling di Pakistan Terima AGAHI Award

PLN menggenjot pemerataan pasokan listrik dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur