Pakistan Korbankan Pohon Demi Proyek Transportasi

Tingkat polusi negara itu keempat tertinggi di dunia.

Senin, 07 Agus 2017 11:55 WIB

Pohon ditebang untuk proyek transportasi di Pakistan. (Foto: Naeem Sahoutara)

Pohon ditebang untuk proyek transportasi di Pakistan. (Foto: Naeem Sahoutara)

Saat ini di Pakistan sedang musim panas dan tercatat sebagai yang terpanas. Penyebabnya kondisi iklim yang makin parah di negara ini. Negara itu berada di urutan keempat dengan polusi tertinggi di dunia, dimana level polusi udaranya sepuluh kali lebih tinggi dari tingkat aman yang direkomendasikan oleh WHO.

Pemerintah tengah mempelopori proyek angkutan umum di kota-kota besar, yang biasanya dianggap sebagai kemenangan bagi pembangunan berkelanjutan dan lingkungan. Tapi kali ini, para pemerhati lingkungan menolak proyek itu karena harus mengorbankan pepohonan.

Koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, menyusun laporannya dari Karachi dan Lahore.

Ratusan pohon ditebang di kota Karachi Pakistan. Ini dilakukan untuk membuka jalan bagi layanan bus baru yang ironisnya bernama Green Line Bus Service atau Layanan Bus Jalur Hijau.

Menelayan biaya hampir 300 milyar rupiah, layanan bus ini diperkirakan akan mampu melayani 300 ribu penumpang setiap hari. Nantinya ini akan menghubungkan daerah pemukiman dan pusat kota.

Warga seperti Karam Din bilang bus ini akan membawa perubahan yang dinantikannya.

“Orang tidak bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu karena sering macet. Banyak orang, terutama yang sakit, menghadapi kesulitan besar. Saya harap kalau proyek ini selesai, akan bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Karam.

Karachi adalah kota terbesar di Pakistan. Kota berpenduduk 20 juta jiwa ini adalah pusat ekonomi negara itu. Tapi dibandingkan kota-kota lain di Asia Selatan, infrastrukturnya masih tertinggal.

Di sana kemacetan lalu lintas bisa berlangsung berjam-jam. Bus-bus yang melintas sudah berusia puluhan tahun, aus dan mengeluarkan asap tebal. Tak jarang mereka mogok di tengah jalan.

Februari lalu, bekas Perdana Menteri Nawaz Sharif meluncurkan proyek layanan bus baru ini dan menyebutnya sebagai hadiah untuk warga Karachi.

Sebuah sistem transportasi umum yang efisien biasanya dianggap sebagai langkah positif bagi lingkungan. Tapi pemerhati lingkungan menyebut proyek ini sebagai 'bencana hijau'.

“Proyek transportasi umum ini bagus karena akan mengurangi emisi karbon. Tapi kerusakan yang diakibatkan proyek ini juga harus diganti. Jika tidak, ini adalah pembangunan yang tidak berkelanjutan. Di satu sisi menguntungkan masyarakat tapi di sisi lain merugikan lingkungan,” jelas Rafi-ul-Haq.

Ini adalah ahli hortikultura, Rafi-ul-Haq. Dia lahir dan besar di Karachi. Dua puluh ribu pohon di Karachi akan ditebang untuk memberi ruang bagi Layanan Bus Jalur Hijau ini. 

Rafi-ul-Haq mengatakan tindakan ini tidak boleh dibiarkan. 

“Dulu di Karachi masih ada enam sampai tujuh persen hutan kota. Hutan itu telah menyusut menjadi kurang dari tiga persen dari ukuran awalnya. Jika lebih banyak pohon ditebang, dan tanaman baru tidak ditanam, apakah kita perlu mengimpor oksigen agar masyarakat bisa bernafas?” kata Rafi-ul-Haq.

Pemerintah berjanji akan menanam 17 ribu pohon untuk menggantikan pohon yang hilang. Tapi Rafi-ul-Haq bilang pemerintah tidak menepati janjinya.

“Pemerintah berjanji pohon-pohon di rute Bus Jalur Hijau akan dicabut dengan hati-hati dan kemudian ditanam kembali di tempat lain. Sudah beberapa pohon ditanam kembali dan semuanya mati karena prosedurnya tidak dilakukan dengan benar.”

Pemerintahan bekas Perdana Menteri Nawaz Sharif bangga dengan proyek infrastruktur yang mereka buat di seluruh negeri. Tapi semua proyek ini mengikuti pola serupa.

Pada 2013, Layanan Bus Metro pertama diluncurkan di kota Lahore, yang dulu dikenal sebagai 'Kota Boulevards'. Tapi untuk mewujudkan proyek itu, 500 pohon ditebang. Ini membuat Lahore sekarang lebih bising dan kotor dari sebelumnya.

Dua tahun kemudian, Islamabad juga kehilangan seribu pohon dalam proyek serupa.

Pemerintah baru saja meluncurkan proyek kereta api di Lahore. Tapi Pengadilan Tinggi menghentikan sementara pembangunan itu menimbang dampaknya terhadap lingkungan dan situs peninggalan.

“Lebih dari 25,7 kilometer akan dilapisi beton. Anda tahu, sudah terbukti dalam penelitian ilmiah bahwa setiap beton sepanjang satu kilometer akan menaikkan suhu kota dua derajat Celcius. Dan pastinya orang-orang miskin di Punjab akan menderita,” jelas Humayun Faiz, seorang pengacara yang mengajukan tuntutan publik.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pakistan mengalami perubahan pola iklim yang cepat, dimana musim dingin dan musim panas semakin parah. 

Pada tahun 2015, gelombang panas yang ekstrim menewaskan setidaknya tiga ribu orang di Karachi.

Karena itu sistem transportasi umum yang efisien dan pembangunan berkelanjutan sangat penting. Namun Pengacara Humayun Faiz mengatakan alih-alih mengatasi tantangan jangka panjang, proyek infrastruktur ini menghancurkan lingkungan untuk keuntungan politik jangka pendek.

“Ketika pemerintah memulai proyek ini, niatnya untuk meraih suara dan simpati. Masyarakat membutuhkan pendidikan, kesehatan dan lingkungan yang baik. Mereka telah menebang ratusan pohon sebelum menanam satu pohon. Ini adalah kerugian besar,” kata Humayun.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

OTT di PN Jaksel, KPK Tetapkan Dua Orang Tersangka

  • DPR Akan Panggil Panglima TNI Terkait Pembelian Helikopter AW 101
  • Polres Jombang Temukan Modus Penjualan Narkoba Secara Kredit
  • Presiden AS Pilih Pertahankan Pasukan dari Afghanistan

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.