Pengungsi Afghanistan di Pakistan pulang ke negara asalnya. (Foto: Shadi Khan Saif)

Pengungsi Afghanistan di Pakistan pulang ke negara asalnya. (Foto: Shadi Khan Saif)

Ribuan pengungsi Afghanistan kembali ke negaranya setelah puluhan tahun hidup sebagai pengungsi di negara tetangga Pakistan.

Bagi banyak bekas pengungsi ini, negara asal mereka kini menjadi tempat yang asing.

Dari ibukota Kabul, Shadi Khan Saif menyusun laporannya.

Selama bertahun-tahun, migrasi telah meninggalkan tanda mendalam pada kehidupan warga Afghanistan. Saking dalamnya, kesedihan nasional ini sering menjadi tema dalam lagu-lagu rakyat Afghanistan.

Perang bertahun-tahun di negara itu, yang awalnya dipicu invasi Soviet pada 1980-an, memaksa jutaan warga Afghanistan meninggalkan negaranya.

Dan semakin banyak yang pergi menyusul jatuhnya negara itu dalam perang saudara mematikan di tahun 1990-an dan rezim opresif Taliban pada pertengahan 1990-an.

Ada sekitar tiga juta pengungsi Afghanistan yang tinggal di Pakistan. Kini mereka hanya punya waktu empat bulan untuk berkemas dan kembali ke negaranya untuk selamanya.

Dari awal tahun ini, sebuah laporan menyebut 30 ribu pengungsi sudah meninggalkan Pakistan karena meningkatnya penganiayaan dan ketidakpastian status hukum mereka di sana.

Pakistan memperpanjang izin tinggal pengungsi di saat-saat terakhir tapi hanya selama enam bulan dan tidak bisa lagi diperpanjang.


Nader Farhad, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menjelaskan beberapa alasan dibalik melonjaknya jumlah pengungsi yang kembali.

“Bulan lalu kami melihat sejumlah besar pengungsi pulang ke Afghanistan. Penyebabnya karena naiknya uang kompensasi dan berkembangnya penganiayaan di Pakistan. Setiap pengungsi yang pulang ke negaranya sekarang dibayar 5,2 jutaan rupiah. Kalau satu keluarga anggotanya ada lima orang, mereka bisa dapat 26 juta rupiah,” jelas Farhad.

Di masa lalu, para pengungsi hanya dibayar sekitar 2,6 juta rupiah. Jumlah ini bahkan tidak cukup untuk menutup biaya transportasi.

Meski ribuan pengungsi sudah memutuskan kembali ke Afghanistan, sebagian besar tidak tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Tila Mohammad, ayah dari empat anak, telah jadi pengungsi selama 25 tahun di Pakistan. Dia kini pulang dengan tangan kosong.

“Lihatlah tangan saya, dengan tangan ini kami bekerja di tanah ini untuk mendirikan sebuah rumah lumpur untuk tempat tinggal anak-anak kami. Baik pemerintah Afghanistan dan Pakistan berjanji akan membantu. Kami  tidak punya apa-apa kecuali uang yang diberikan oleh UNHCR saat kami tiba.” 

Kisah Tila Mohammad juga dialami hampir semua pengungsi Afghanistan dari Pakistan.

Mereka hidup penuh kompromi dan pengorbanan karena mereka tidak mendapat fasilitas dasar yang cukup di Pakistan.

Malik Sedique, warga Afghanistan yang bermigrasi ke Pakistan pada 1980-an. Dia mengatakan situasinya tidak banyak berubah.

“Kami dipanggil pengungsi selama kami tinggal di Pakistan dan sekarang saat kami kembali, orang-orang mengatakan para 'pengungsi' telah kembali. Pemerintah tidak pernah berkonsultasi dengan kami soal pemulangan ini,” tutur Sediq.

“Pada tahun-tahun itu, banyak perempuan menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim piatu. Mereka seharusnya disambut karena pulang ke rumah tapi itu tidak terjadi.”

 Hampir setiap keluarga yang pulang mengklaim membayar ratusan ribu rupiah kepada pasukan perbatasan Pakistan agar dibolehkan membawa kayu, hewan, peralatan dan barang-barang lainnya melewati perbatasan.

Banyak daerah yang saat ini masuk wilayah Pakistan, termasuk Khyber Pakthunwa dan banyak distrik di Baluchistan, dulunya adalah wilayah Afghanistan. Itu sebelum Inggris menguasai India.

Mayoritas pengungsi Afghanistan adalah etnis Pashtun - itu artinya mereka punya garis keturunan yang sama dengan penduduk Pakistan.

Analis Tahir Zaland percaya para pengungsi menanggung beban hubungan dingin antara kedua negara yang memburuk, setelah pertempuran lintas-perbatasan bulan lalu.

“Ini sesuatu yang baik ketika para pengungsi itu bisa kembali ke negara asal mereka. Tapi pemerintah dan lembaga donor harus menciptakan kondisi yang lebih baik dalam proses pembauran mereka dan mengatasi masalah-masalah yang muncul,” kata Zaland.

Pemerintah Afghanistan berjanji menyediakan lahan untuk setiap keluarga yang dipulangkan.

Di Kabul, sudah ada lahan di empat daerah yang diperuntukan bagi pengungsi. Tapi proses alokasinya berjalan lambat dan rumit.

Meski begitu beberapa bekas pengungsi seperti Dawlat Khan, yang baru kembali ke Afghanistan, senang bisa pulang.

“Seseorang bisa mati secara terhormat di negeri sendiri. Di negeri asing bahkan pangeran tidak benar-benar seorang pangeran.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!