Seorang penyanyi kabaret di belakang panggung. (Foto: Nicole Curby)

Seorang penyanyi kabaret di belakang panggung. (Foto: Nicole Curby)

Februari lalu, Menteri Pertahanan pernah membandingkan komunitas LGBT dengan ancaman nuklir.

Itu hanya satu dari sekian banyak komentar anti-LGBT yang ada di media Indonesia awal tahun ini. Dan itu adalah salah satu bentuk homofobia yang bisa kita lihat dengan jelas.

Pekan ini, Human Rights Watch merilis sebuah laporan komprehensif yang merinci dampak reaksi anti-LGBT baru-baru ini di Indonesia.

Nicole Curby menyusun laporannya dari Jakarta.

Penonton riuh rendah saat seorang penari yang menirukan gaya Beyonce naik panggung. Dia memakai konstum berpayet perak.

Seorang penonton laki-laki diajak naik panggung dan sang penari pun meliukkan badan di hadapannya.

Ini adalah pertunjukan di Cafe Oyot Godhong, Yogyakarta.

  

Saya menemui Rebecca di belakang panggung. ”Di sini saya berperan sebagai Beyonce. Saya lip sync lagu-lagunya Beyonce. Hari ini, Penuh, full. Ramai sekali. Pasti, Ya setiap Jumat sama Sabtu malam, di sini, pasti ada pertunjukan kabaret show.” 

Setelah pertunjukan, penonton menghampiri para penari untuk foto bersama.

Tapi penari waria seperti mereka ini tak selalu diterima dengan antusiasme seperti ini di Yogyakarta. 

Februari lalu, sebuah kelompok Islam garis keras mengancam pesantren waria yang sudah lama berdiri. Mereka memaksa agar pesantren itu ditutup.

Kyle Knight adalah peneliti dari Human Right Watch. Dia baru saja meluncurkan laporan mendalam soal meningkatnya ujaran kebencian anti-LGBT yang melanda Indonesia tahun ini.

“Kami melihat polisi gagal melindungi komunitas LGBT ketika mereka diserang oleh kelompok Islam militan. Kami melihat ada aktivis yang harus membakar file, menutup kantor dan menghentikan semua kegiatannya. Dan yang paling memilukan ketika mewawancarai orang-orang yang tidak pernah mengalami pelecehan dari tetangga dan keluarga, tapi karena liputan media yang negatif dan pernyataan para pejabat, mereka jadi dijauhi,” ujar Kyle.

Baru-baru ini Laporan Human Rights Watch menyebut pelecehan, diskriminasi institusional dan kekerasan acak yang dihadapi kelompok LGBT dalam beberapa bulan terakhir, sudah di tingkat yang mengkhawatirkan.


Dédé Oetomo adalah akademisi sekaligus aktivis LGBT di Indonesia sejak tahun 1987. 

“Tentu saja ada yang sampai parah ya, harus diusir. Dan bagi waria misalnya tanpa pernyataan seperti ini pun, sudah dari dulu bahaya. Kebanyakan waria sudah putus dengan keluarganya,” tutur Dede.

“Untuk aktivis masih gerak terus, cuma memang harus lebih hati-hati. Kalau buat acara tidak diumumkan secara publik, kalau pun diumumkan tanpa tempatnya dan jamnya pun disembunyikan. Baru diberitahukan lebih jalur pribadi.”

Tapi Dédé Oetomo mengatakan dengan makin terbukanya keberadaan mereka, kelompok LGBT juga menghadapi bahaya yang lebih besar.

Di banyak daerah, komunitas LGBT tidak lagi bisa berkumpul karena takut diserang.

Dan Jumat menjadi hari yang menakutkan bagi sebagian dari mereka. 

Dalam laporan Human Right Watch itu, seorang korban menyebut beberapa ulama menyerukan sentimen anti-LGBT saat shalat Jumat, dan setelahnya melakukan penyerangan. 

Aktivis dan orang-orang yang menyediakan pelayanan dukungan, termasuk bantuan bagi orang dengan HIV / AIDS, juga merasakan dampaknya, kata Kyle Knight dari Human Rights Watch.

“Mereka ketakutan dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri. Seperti menghancurkan dokumen, tidak mengadakan acara, dan merahasiakan alamat mereka. Selain itu mereka menjadi sangat skeptis terhadap orang-orang baru yang mencoba mengakses layanan mereka. Dan ini menakutkan. Krisis ini telah membatasi aktivitas mereka sehingga jangkauan layanan tidak seluas dulu,” kata Kyle.


Menurut hukum di Indonesia, homoseksualitas bukanlah perbuatan melanggar hukum.

Namun, menurut kelompok advokasi Arus Pelangi, sejumlah pemerintah daerah menerapkan aturan yang menargetkan dan berdampak pada hak-hak dasar kelompok LGBT.

Saat ini juga sedang berlangsung sidang uji materi di Mahkamah Konstitusi untuk mengubah pasal dalam KUHP agar mempidanakan homoseksualitas.

Tapi Dede Oetomo dari organisasi Gaya Nusantara mengatakan komunitas LGBT tetap bertahan.

“Ya jadi saya tetap melihat dengan serangan bertubi-tubi selama tiga bulan awal 2016, kelihatan ketangguhan teman-teman aktivis paling tidak, itu masih ada. Masih tetap mereka berhati-hati tapi tetap berorganisasi. Seperti biasanya yang paling berani adalah teman-teman waria. Tapi yang gay, lesbian, biseksual, yang sekutu - ally, juga tetap berorganisasi. Jadi agak susah berorganisasi karena nga bisa terbuka.”

Sementara itu, acara-acara seperti pertunjukan Kabaret Raminten di Yogyakarta ini menunjukkan kalau komunitas LGBT Indonesia tidak akan hilang begitu saja - meski hidup makin sulit. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!