Shui Meng (Foto: Aisyah Khairunnisa)

Shui Meng (Foto: Aisyah Khairunnisa)

“Saya Shui Meng, istri dari Sombath Somphone. Usia saya 68 tahun. Saya bekerjasama dengan berbagai kelompok untuk mencari tahu apa yang terjadi pada suami saya.”

Selama tiga tahun terakhir, Shui Meng terus mencari suaminya. Berdasarkan rekaman CCTV, Sombath Somphone terakhir kali terlihat di depan sebuah kantor polisi di Vientiane, dibawa masuk mobil dan kemudian dibawa pergi.

“Pencarian suami saya tidak berjalan baik. Meski aksi penculikan itu terekam CCTV, tapi polisi mengatakan mereka masih menyelidikinya tapi tidak menemukan apapun,” kisah Shui Meng.

Kasus ini menimbulkan sorotan yang langka terhadap situasi politik di negara yang dianggap salah satu negara paling represif secara politis di Asia.

Namun pemerintah Laos bungkam soal keberadaan Sombath dan tidak ada organisasi pegiat HAM di negara itu.

“Laporan resminya selalu menyebut kalau Sombath mungkin diculik atau punya masalah terkait kepentingan bisnis. Tapi suami saya tidak punya musuh dan tidak punya kepentingan bisnis," lanjut Shui Meng.

Sombath Somphone bekerjasama dengan berbagai komunitas di Laos untuk mengurangi kemiskinan dan mengkampanyekan pendidikan selama hampir 30 tahun. Tahun 2005 dia menerima Penghargaan Ramon Magsaysay, Hadiah Nobelnya Asia.

“Posisinya sangat jelas. Menyumbangkan ide masyarakat Laos seperti apa yang ingin kita bangun. Dia tidak menyerang dan mengkritik pemerintah secara terbuka. Mungkin apa yang dia katakan dan lakukan dianggap mengganggu kepentingan politik tertentu. Itu yang saya tidak tahu,” tegas Shui Meng.

Shui Meng menyebarluaskan kasusnya di Laos dan dunia maya.

“Karena Sombath terkenal banyak kelompok yang secara sukarela mengajukan banding ke pemerintah Laos untuk menemukan di mana dia, untuk menyelesaikan kasus ini, dan mengembalikan dia dengan selamat.”

Januari lalu, Laos mengirim laporan kepada Dewan HAM PBB yang menyebutkan kalau kasus Sombath masih dalam penyelidikan.

“Menurut saya komunitas internasional tidak puas. Banyak yang bilang pada saya kalau mereka tidak puas dengan jawaban yang diberikan pemerintah Laos,” tambahnya.

Shui Meng saat ini tengah berada di Indonesia untuk berkampanye soal penghilangan paksa dan setelah ini akan mengunjungi negara-negara lain.

Jumlah kasus penghilangan paksa di Asia adalah yang tertinggi di dunia. Dan seperti keluarga korban yang lain, Shui Meng terus menunggu informasi keberadaan orang yang dia cintai...

“Kami tidak bisa menerima kalau orang yang kami sayangi hilang begitu saja, diculik dan tidak pernah tahu apa yang terjadi padanya. Sebagai manusia wajar kalau kami mencari jawaban atas apa yang terjadi pada orang yang kami cintai. Tidak peduli harus berapa lama,” tutup Shui Meng.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!