Perempuan Afghanistan berunjuk rasa mengecam acara peringatan kematian pemimpin Taliban, Mullah Omar

Perempuan Afghanistan berunjuk rasa mengecam acara peringatan kematian pemimpin Taliban, Mullah Omar. (Foto: Ghayor Waziri)

Pemerintah Afghanistan melarang masyarakat berduka atas kematian Mullah Muhammad Omar, pemimpin gerakan Taliban Afghanistan.
 
Konfirmasi kematiannya yang dilaporkan terjadi dua tahun lalu, telah menimbulkan reaksi beragam di Afghanistan. Taliban menyatakan tiga hari berkabung nasional untuknya.
 
Sekelompok orang di Kabul berteriak ‘Kami tidak mau Taliban atau ISIS. Mereka seharusnya mati. Taliban adalah boneka orang asing’.
 
“Kami kemari untuk mengecam tiga hari berkabung nasional bagi Taliban. Ini bukan hari untuk berduka tapi merupakan hari bahagia karena salah satu musuh kami sudah tewas. Sangat memalukan ada acara mengenang dia di Kabul. Itu tidak menghargai para prajurit yang tewas dalam pertempuran melawan Taliban,” tegas salah satu aktivis masyarakat sipil yang ikut aksi itu, Hafez Rasekh.
 
Setelah aksi unjuk rasa ini, pemerintah Afghanistan mengumumkan larangan memperingati kematian pemimpin Taliban.
 
“Dia bertanggung jawab atas pembunuhan ribuan warga Afghanistan yang tidak bersalah. Dia adalah penyebab konflik ini berlangsung begitu lama. Itu sebabnya kami umumkan, siapa saja yang melakukan upacara peringatan kematiannya akan menjadi target pasukan keamanan. Kami menghimbau seluruh warga Afghanistan untuk tidak mengadakan acara seperti ini,” kata Abdul Haseeb Sidiqiis, juru bicara Direktorat Keamanan Nasional.


Mullah Omer berusia 50an tahun saat meninggal. Dia lahir di Afghanistan Selatan dan putra seorang ulama desa miskin yang meninggal saat dia masih kecil. Dia kemudian dibesarkan pamannya yang juga seorang ulama.
 
Bersama Taliban dia memerintah Afghanistan selama lima tahun, 1996 hingga 2001. Pengikutnya memproklamirkannya sebagai Amir ul-Momineen atau Pemimpin Setia, salah satu gelar tertinggi dalam Islam.
 
Laporan akan kematian dirinya menciptakan pertempuran dan perpecahan. Pemimpin baru Taliban, Mullah Akhter Mansoor, menghibau pengikutnya agar tetap bersatu.
 
“Saya meminta Anda semua untuk tetap bersatu seperti masa Mullah Omer. Jangan rusak itu. Jika kita mengikuti jalannya, ini akan menjadi keberhasilan bagi semua Muslim,” kata Mullah Akhter Mansoor.
 
Tapi kematian Omar telah menimbulkan harapan akan terobosan dalam pembicaraan damai antara pemerintah dan Taliban Afghanistan.
 
Tapi Haji Den Muhammad Afghanistan, anggota dari dewan perdamaian, skeptis.
 
“Kita mulai negosiasi damai dengan Taliban dua tahun lalu. Padahal Mullah Omer sudah meninggal saat itu. Jadi menurut saya kematiannya tidak berdampak pada perundingan perdamaian. “
 
Pemimpin baru Taliban Afghanistan, Mullah Akhter Muhammad Mansoor, menegaskan mereka tidak tertarik pada perdamaian.
 
“Laporan musuh kita tentang negosiasi perdamaian, adalah propaganda mereka. Kita akan mengabaikan mereka dan negosiasi perdamaian mereka. Perjuangan kita akan terus berlanjut sampai kita berkuasa di Afghanistan,” tekad Mullah Akhter Muhammad Mansoor.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!