Para pria Afghanistan menunggu di jalanan Kabul mencari pekerjaan. (Foto: Ghayor Waziri)

Para pria Afghanistan menunggu di jalanan Kabul mencari pekerjaan. (Foto: Ghayor Waziri)

Di sebuah jalanan yang sibuk, sekelompok anak muda sedang membagikan-bagikan buku, surat kabar dan majalah kepada orang-orang yang lalu lalang.
 
Mereka tergabung dalam kelompok Round She yang berarti tren ketiga. Tujuan utama mereka adalah mendorong masyarakat gemar membaca.
 
“Kampanye hari ini bertujuan untuk mempromosikan budaya belajar dalam masyarakat. Kami membagikan buku, surat kabar, dan majalah ke masyarakat agar mereka suka membaca. Kami membagikannya di jalanan bahkan ke rumah-rumah,” kata ketua kelompok itu Said Ihsan Tahery.
 
Tapi ternyata orang yang berpendidikan juga kesulitan mencari pekerjaan di negeri itu.
 
Mati Allah Mayar, seoranng lulusan universitas, sudah setahun ini mencari pekerjaan.

“Perhatian untuk menciptakan lapangan kerja dan membantu para pekerja masih kurang. Setelah belajar keras di universitas, sekarang kami jadi pengangguran. Jadi orang mulai berpikir apa gunanya sekolah,” tanya Mati Allah Mayar.


Saat ini pukul 9 pagi. Jalan Kote Sangi dipadati ratusan pria yang berharap bisa direkrut jadi pekerja karena hari ini adalah hari mencari pekerja di proyek-proyek pembangunan di sana.
 
Rahmanullah adalah seorang tukang yang tidak punya pekerjaan tetap selama delapan bulan ini.

Dia datang ke sini setiap hari dan mengatakan dia bisa bekerja di sini selama dua atau tiga hari dalam seminggu. Dia menyalahkan pemerintah baru yang membuat situasi lebih buruk.
 
“Selama masa Presiden Karzay ada lebih banyak kesempatan. Saya tidak pernah harus mencari pekerjaan karena saya selalu punya pekerjaan. Ada banyak pekerjaan dengan upah yang layak. Tapi di masa pemerintahan saat ini, semuanya makin parah, keamanan dan kesempatan kerja,” kata Rahmanullah.
 
Sekitar 50 ribu kesempatan kerja dilaporkan berhenti karena penarikan pasukan NATO dari negara itu. Dan pemerintah baru juga diguncang serangkaian kasus korupsi.
 
Banyak orang menyerah mencari pekerjaan di dalam negeri dan memilih untuk pergi ke luar negeri.  

Ratusan orang berbaris di luar Kedutaan Besar Iran di Kabul. Mereka di sini untuk mengajukan permohonan visa. Muhammad Husain Rahimi adalah salah satunya.
 
“Kesempatan kerja sangat kurang di sini itu sebabnya saya ingin keluar negeri. Jika kondisi membaik saya akan pulang. Jika saya dapat pekerjaan di sini, saya tidak akan mencari kerja di luar negeri dan meningalkan keluarga saya. Bila di sini saya bisa dapat 50 ribu rupiah sehari, saya tidak akan pergi ke Iran.”
 
Iran adalah batu loncatan menuju Eropa meski banyak yang meninggal saat melakukannya secara ilegal.
 
Mustafa seorang warga Afghan berpendidikan, mengaku tahu resiko yang akan dilaluinya tapi dia bersikukuh untuk meninggalkan Afghanistan dan pergi ke Eropa.
 
“Saya ingin pergi ke negara di Uni Eropa yang menerima pengungsi. Saya tahu risikonya yaitu saya bisa tewas. Lima saudara laki-laki saya sudah pergi dari negeri ini dan sekarang tinggal di Eropa,” tekad Mustafa.


Pemerintah Afghanistan mengatakan mereka mencoba menciptakan pekerjaan yang aman dan legal di luar negeri bagi warganya.
 
Menteri Sosial dan Tenaga Kerja yang baru, Nasrin Oriakhil, mengatakan mereka sedang membuat kontrak dengan negara-negara Teluk.
 
“Kami segera melakukan kontrak kerjasama dengan negara-negara seperti Iran, Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab. Kontrak ini akan memberi kesempatan kerja pada pekerja Afghanistan di negara itu secara resmi. Dan mendapatkan hak yang sama seperti pekerja negara lain,” kata Nasrin.
 
Termasuk asuransi kesehatan, jaminan upah dan cuti.

Lebih dari empat juta orang Afghanistan baik terdaftar maupun tidak, masih tinggal di negara-negara tetangga seperti Iran dan Pakistan. Meski lebih dari 5,7 juta pengungsi Afghanistan telah kembali ke negaranya sejak 2002.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!