Yar Yar Kan dan keluarganya. (Foto: Phyu Zin Poe)

Yar Yar Kan dan keluarganya. (Foto: Phyu Zin Poe)

Yar Yar Kan sedang memberi makan bayinya. Keluarganya yang berjumlah enam orang sudah tinggal dalam gubuk bambu sempit ini selama tiga tahun. 

Dia tidak punya pekerjaan dan bergantung pada bantuan yang jumlahnya tidak seberapa. Dia kembali ke kamp ini setelah berjuang di lautan selama tiga bulan.

“Saya tahu kalau saya cerita ke istri saya, dia akan menangis dan saya takut tidak bisa pergi,” kisah Yar Yar Kan.

Tapi dia sangat ingin memperbaiki kehidupan keluarganya. “Kehidupan keluarga saya akan lebih baik bila saya sampai di Malaysia. Karena saya bisa mengirimi mereka uang.”

Temannya yang memperkenalkan dia pada seorang calo.

“Saya cerita pada calo itu kalau saya mau ke Malaysia. Dia bilang bisa tapi saya harus membayar ongkos lebih dari 20 juta rupiah. Saya bilang saya tidak punya uang sebanyak itu. Lalu dia bilang saya bisa bayar dengan gaji saya selama enam bulan setelah dapat pekerjaan di Malaysia,” tuturnya.

Di satu tengah malam, tanpa memberitahu istrinya, dia melarikan diri dari kamp yang dijaga ketat itu.

“Anak buah kapal merampas telepon selular dan makanan kami. Mereka juga menodongkan senjata ke arah kami supaya kami tidak melawan. Saat itu saya pikir saya sudah melakukan kesalahan. Saya pikir saya tidak akan bertemu ibu, istri, kakak dan adik saya lagi,” lanjut Yar Yar Kan.

Saat itu ada 400 orang di atas kapal, 100 diantaranya adalah perempuan.

“Mereka memberi kami segenggam nasi dua kali sehari. Selain itu mereka memberi seporsi kecil kari. Tapi air minum yang kami dapat sedikit sekali. Mereka akan memukuli kami kalau minta tambah,” kata Yar Yar Kan.

Dan perempuan di atas kapal menghadapi bahaya yang sangat besar, kata Yar Yar Kan.

“Ada teriakan di malam hari. Dan kami bertanya pada para perempuan apa yang terjadi. Mereka bercerita kalau para perempuan diperkosa. Para perempuan menolak dan berteriak minta tolong, tapi mereka dipukuli. Anak buah kapal bahkan memberikan obat sehingga perempuan itu tidak bergerak dan merasa pusing.”

Setelah dua bulan di lautan, kapal yang ditumpanginya tiba di perairan Thailand. Tapi Pemerintah Malaysia mengawasi daerah itu. Akibatnya para calo meninggalkan para pengungsi dan lari dengan kapal lain.

“Anak buah kapal menyuruh saya untuk mengawasi mesin dan mengajari saya cara mengemudikan kapal selama tiga jam. Lalu mereka meninggalkan kapal. Kami lalu berlayar kembali ke Myanmar. Butuh waktu satu bulan untuk tiba di perairan Myanmar,” kata Yar Yar Kan.

Tidak ada angka resmi berapa banyak pengungsi yang mencoba melarikan diri. Tapi petugas imigrasi Arakan mengatakan ada sekitar 200 orang yang kembali ke kamp setelah sempat melarikan diri.

Sejauh ini pemerintah telah menangkap sembilan calo dan menjerat mereka dengan UU Anti-perdagangan orang.

“Ada 14 gerbang bagi orang Bengali untuk keluar dari kamp. Kami memeriksa setiap orang yang keluar masuk. Pasukan Angkatan Laut kami memeriksa siapa saja yang berupaya naik ke kapal,” jelas kepala kantor imigrasi di Sittwe, Khin Soe.

Hla Thein, juru bicara pemerintah negara bagian Arakan mengatakan tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menghentikan perdagangan manusia.

“Kami membentuk sebuah kelompok yang berkampanye diantara para pengungsi. Tapi kami tidak bisa melakukan apa-apa bila mereka pergi secara ilegal karena kami tidak tahu rute mereka.”

Kembali ke kamp pengungsian. Nu Nar Balcon adalah istri Yar Yar Kan. Dia mengatakan sekarang tahu kemana suaminya pergi selama beberapa bulan terakhir.

“Saya bermimpi dia berhasil pergi ke luar negeri dan selamat dari para calo. Lalu dia bisa mengirim uang untuk kami. Tapi sekarang mimpi itu sudah hilang.”

Dan Yar Yar Kan berencana untuk kembali melarikan diri...dalam waktu dekat. “Saya kecewa dengan hidup saya dan ingin mencoba lagi pergi dari kamp ini. Saya tidak bisa hidup tanpa pekerjaan.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!