Bani Risset dengan obat barunya Sofosbuvir (kuning. (Foto: Rio Tuasikal)

Bani Risset dengan obat barunya Sofosbuvir (kuning. (Foto: Rio Tuasikal)

Bani Rissetya baru selesai makan siang. Ini waktunya minum obat.  Setelah sebulan mengonsumsi obat baru, dia merasa jauh lebih baik. 

“Sangat OK. Saya sih semangat saja. Meskipun ada depresi depresi sedikit tapi ini jauh lebih baik dari pada interferon. Saya pernah dapat interferon dan itu sangat menyakitkan sekali,” kata Bani. 

Bani punya Hepatitis C, HIV, dan gejala bipolar. Banyak pasien HIV yang meninggal justru karena infeksi Hepatitis C.

Selama beberapa bulan, dia pernah menggunakan suntikan Interferon untuk menyembuhkan penyakitnya. Tapi obat itu semahal mobil baru, dan hasilnya tidak begitu bagus.

“Panas tubuh semakin naik. Jadi saya mulai wirid, ya Allah ya Allah. Sakit, sangat sakit sekali. Terus nangis sendiri, rambut habis, dan rontok. Bulan kedua, saya menyerah. Saya bilang ke dokter saya menyerah.  Dokter bilang tenang ini adaptasi obat. Akhirnya disimpulkan saya tidak dapat melanjutkan lagi, kisah Bani.

Sebuah obat baru bernama Sofosbuvir ditemukan baru-baru ini, tapi harganya juga sangat mahal.

Satu botol obatnya seharga 1,1 miliar Rupiah, dan versi generiknya dengan harga lebih murah tersedia hanya di India, Pakistan, dan Mesir.

Kelompok HIV di Indonesia, Indonesia AIDS Coalition, memutuskan mencari obat itu sendiri. 

Mereka mengumpulkan empat pasien, salah satunya Bani, yang kesulitan mendapatkan obat baru itu. Kelompok ini patungan uang untuk obat dan biaya perjalanan.

Juli lalu, Irwandy Widjaja aktivis dari kelompok itu, terbang ke India dan membeli obat tersebut. 

“Nggak ada kesulitan. Sampai sana saya ke hotel. Sebelumnya saya kabari teman saya dari kelompok HIV di India bahwa saya sudah sampai. Besok paginya mereka datang tepat waktu. Mereka membawa obatnya. Saya periksa lalu bayar. Mereka juga memberikan dokumen medis untuk saya bawa di perjalanan,” kata Irwandy. 

Irwandy membawa pulang dua koper obat yang cukup untuk perawatan enam bulan. Beruntung, tak ada petugas imigrasi yang mencek kopernya di bandara India dan Indonesia. 

“Saya akan bilang ini penggunaan pribadi bukan untuk dagang. Apa bedanya dengan orang berobat keluar negeri? Sekarang orang ingin sembuh, tapi obatnya belum ada di Indonesia, dan negara belum memfasilitasi,” tambah Irwandy.

Di akhir Juli kemarin, aktivis HIV berunjuk rasa, mendesak pemerintah segera menyediakan obat itu di Indonesia. Irwandy juga ada di sana bersama puluhan pendemo. 

“Kalau pemerintah mudah memberikan surat rekomendasi kepada kami untuk berangkat membeli obat Hepatitis C, kalau suratnya dua hari keluar, itu OK. Toh kami tidak mengambil keuntungan,” tutur Irwandy.

Pemerintah menuding Irwandy telah menyelundupkan obat. Pemerintah mengatakan belum mencapai kata sepakat dengan pembuat obat, Gilead. 

Sigit Priohutomo adalah Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung di Kementerian Kesehatan.

“Kami masih nego agar harganya bisa lebih rendah dari itu. Itu dimungkinkan. Mereka bisa kasih harga lebih rendah lagi tapi mereka ingin tahu berapa yang akan kita beli,” kata Sigit.  

Dia berjanji Sofosbuvir akan jadi obat pemerintah dan disubsidi – dan mungkin akan ditanggung BPJS. Tapi para pasien tak bisa menunggu.

Sekarang Irwandy bersiap-siap ke India lagi untuk membeli obat dan  menolong lebih banyak pasien. 

Sekitar 25 pasien sudah menghubunginya dan meminta dibelikan obat. 

“Orang tidak bisa menunggu untuk mati, gara-gara obatnya tersedia di luar negeri dan harganya terjangkau, tapi mereka harus menunggu 1 – 2 tahun lagi. Nggak mungkin lah,” kata Irwandy.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!