Seorang petugas bioskop di Kabul sedang memeriksa karcis penonton. (Foto: Ghayor Waziri)

Seorang petugas bioskop di Kabul sedang memeriksa karcis penonton. (Foto: Ghayor Waziri)

Bioskop Pamer di Kabul sedang memutar sebuah film India. Hanya 150 kursi yang terisi dari 600 kursi yang tersedia di dalam bioskop ini. Salah satu penonton Said Agha adalah anggota tentara Afghanistan.

“Saya sedang libur. Saya datang kemari karena mau menonton film bagus dan saya merasa senang. Tapi saya berharap ada lebih banyak film Afghanistan yang diputar karena kita juga punya banyak film bagus,” tutur Said Agha.

Bioskop Pamer adalah satu dari lima bioskop yang bertahan di Kabul sampai hari ini.

“Saat ini sudah tidak banyak lagi orang yang tertarik ke bioskop. Dari enam juta penduduk Kabul, mungkin hanya 300-400 orang saja yang pergi ke bioskop,” jelas manajer bioskop, Said Khalid.

Tapi di tahun 1960, situasinya jauh berbeda.

Raja Afghanistan saat itu, Raja Zahir, mendirikan rumah produksi negara yang menghasilkan ratusan film. Dan banyak studio film baru bermunculan di seluruh begeri.

Saat itu di seluruh Afghanistan ada 45 bioskop yang menayangkan 60 film, tiga kali sehari.

Atiq Allah yang berusia 57 tahun masih ingat masa-masa itu. 

“Masa itu sangat menyenangkan. Bioskop buka sampai tengah malam. Saya sering ke bioskop dan harus buru-buru kalau mau beli tiket. Kadang tiket dijual dengan harga 13 kali lipat dibandingkan harga aslinya. Keluarga dan masyarakat suka menonton di bioskop. Tapi perang mengubah semuanya.”

Saat Taliban berkuasa, film dianggap sebagi sesuatu yang tidak Islami. Mereka menghancurkan studio-studio film dan merubuhkan bioskop-bioskop. Tapi setelah Taliban runtuh, industri film di negeri itu tetap harus berjuang merebut kembali popularitasnya.

Manajer bioskop Pamer, Said Khalid, mengaku kini mereka menghadapi tantangan baru.

“Sekarang sudah ada TV kabel, telepon selular, pemutar DVD dan makin banyak saluran TV. Ini tantangan yang dihadapi bioskop saat ini. Masyarakat bisa menonton film dimanapun mereka mau. Itu sebabnya penonton bioskop makin berkurang. Hanya ada 200 penonton di bioskop kami setiap hari,” kata Said Khalid.

Dan banyak warga Afghanistan seperti mahasiswa bernama Muhammad Bashir yang tidak merasa nyaman menonton di bioskop. “Banyak yang menyalahgunakan bioskop dan membuat keributan.”

Di dalam bioskop, para penonton bebas merokok, berbicara lewat telepon, bahkan bertepuk tangan dan bersiul saat ada adegan menyanyi dan laga.

Penulis sejarah Habib Allah Rafee menjelaskan penyebab para penonton bersikap seperti itu.

“Perang telah membuat masyarakat terbiasa dengan aksi kekerasan. Bioskop juga memutarkan film-film tanpa pengawasan yang layak dari pemerintah. Masyarakat juga makin tidak menjaga sopan santun saat menonton di bioskop.”

Kembali ke bioskop Pamer. Manajer bioskop, Said Khalid, berharap bisnis bioskop di Afghanistan kembali berjaya.

‘Tujuan kami tidak mencari uang dari bioskop. Kami hanya ingin bioskop populer lagi. Sehingga masyarakat bisa menikmati film dan menggunakan bioskop sebagai tempat belajar. Bioskop membawa dampak baik bagi masyarakat.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!