Tempat penyimpanan ASI di bank ASI India. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Tempat penyimpanan ASI di bank ASI India. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Sonu Nagda sedang menyusui bayi perempuannya yang berusia delapan bulan. Karena ASI-nya berlebih, dia secara teratur menyumbangkan ASI-nya pada Bank ASI lokal.
 
“Menyumbangkan ASI tidak membebani saya. Saya hanya memikirkan bayi-bayi yang ibunya meninggal atau ibunya tidak bisa menyusui,” ungkap Sonu.
 
Bank ASI Divya dikelola LSM lokal yang juga mengelola panti asuhan bagi anak-anak terlantar di Udaipur.
 
Devendra Agrawal, ketua LSM yang juga seorang pelatih yoga, mengatakan sebagian besar anak-anak di pantinya adalah anak perempuan.
 
“Di daerah ini anak perempuan tidak disukai. Setelah dilahirkan mereka kerap ditinggalkan di semak-semak, tong sampah, sungai, kolam, bahkan di kuil, bus dan kereta api. Kami memutuskan untuk mendidik masyarakat, jika Anda tidak suka pada anak Anda, jangan buang mereka. Berikan pada kami. Dalam waktu singkat, ratusan anak perempuan ditinggalkan di panti asuhan kami,” papar Devender.
 
Ia melihat banyak dari anak-anak itu punya kekebalan tubuh yang rendah. Dia pun menyadari kalau penyebabnya adalah karena anak –anak itu tidak mendapat ASI.
 
ASI merupakan makanan ideal bagi bayi agar mereka bisa tumbuh sehat dan punya kekebalan seumur hidup.

Bank yang sudah berjalan sejak April 2013 ini mengumpulkan 40 liter ASI setiap bulan.
 
Kebanyakan, ASI dari bank ini diberikan kepada bayi prematur yang dirawat di rumah sakit pemerintah di Udaipur.
 
“Selama dua tahun terakhir setelah bank ini muncul, hampir 2.500 ibu telah menyumbangkan lebih dari enam belas ribu unit ASI untuk menyelamatkan hampir 1.300 bayi dari kematian,” tambah Devender.


Meski ini terobosan besar dalam mengurangi angka kematian anak, India masih menyumbang 20 persen dari angka kematian bayi di dunia.
 
Para dokter mengatakan pembunuh utama anak-anak India adalah infeksi dan berat badan kurang ketika dilahirkan.
 
Untuk mencegah kematian ini, badan amal Save the Children menyatakan ASI adalah solusi yang paling efektif. Terutama bila bayi segera disusui ketika baru lahir dan mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama.
 
Bank ASI melakukan langkah-langkah pengawasan yang ketat.
 
Manorma Dangi adalah petugas laboratorium.
 
“Kami memeriksa ASI yang masuk apakah bebas dari tiga penyakit utama termasuk HIV yang bisa ditularkan ke bayi. Kami juga melakukan pemeriksaan kesehatan donor. Para ibu diperiksa tekanan darahnya, apakah dia punya malaria, TBC, penyakit kuning dan penyakit lainnya atau tidak. Kami baru bisa menerima seorang donor bila semua laporan ini negatif,” kata Manorma.
 
Saroj Kumari yang berusia 15 tahun datang kemari untuk mendapatkan ASI untuk anak-anak bibinya. Produksi ASI bibinya tidak cukup untuk bayi kembarnya yang baru berumur dua minggu.
 
“Sejak mendapat ASI dari sini, berat badan si kembar naik signifikan. Sebelumnya mereka sangat kecil,” kisah Saroj.
 
Dia berjanji akan menjadi donor bank ini bila nanti menjadi seorang ibu. "Saya pasti akan mendonorkan ASI saya...”
 
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!