Pasang Surut Kehidupan Atlet Sepak Bola Anak Jalanan Pakistan

Pada 2014, sembilan anak pencinta sepak bola yang berasal dari desa dan kapal nelayan berangkat ke Brazil.

Senin, 31 Jul 2017 08:00 WIB

Mehr Ali jadi Pemain Terbaik di Piala Dunia Sepak Bola Anak Jalanan di Brazil 2014. (Foto: Naeem Sah

Mehr Ali jadi Pemain Terbaik di Piala Dunia Sepak Bola Anak Jalanan di Brazil 2014. (Foto: Naeem Sahoutara)

Pakistan adalah salah satu negara penghasil bola sepak terbesar di dunia. Tapi tim nasional negara itu tidak pernah lolos ke Piala Dunia Sepak Bola. Di negara itu, sepak bola merupakan olahraga favorit kedua setelah kriket.

Pada 2014, sembilan anak pencinta sepak bola yang berasal dari desa dan kapal nelayan berangkat ke Brazil. Mereka menjadi kebanggaan Pakistan.

Koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, mengunjungi kampung halaman mereka di desa pinggir pantai Ibrahim Hyderi, dekat Karachi.

Di pagi hari, para nelayan di desa ini menuju Laut Arab untuk mencari ikan. Salah satunya nelayan berusia 18 tahun bernama Mehr Ali. Dia menatap ombak yang muncul tenggelam ke perairan dalam. Dia bercerita ombak mengingatkannya akan pasang surut hidupnya.

“Ketika orang-orang dari berbagai negara mendatangi saya dan minta tanda tangan, saya merasa seperti sedang terbang di langit. Saya pikir, mimpi saya telah terwujud. Tapi kemudian saya terlempar kembali ke bumi,” kenang Ali.

Ali berambut tebal dan keriting serta berkulit gelap. Dia adalah bagian dari etnis minoritas Sheedi dan Baloch Pakistan. Dan seperti banyak orang Pakistan keturunan Afrika, dia tergila-gila pada sepak bola.

Ali meninggalkan sekolah saat duduk di kelas delapan dan bergabung dengan ayahnya untuk menangkap ikan. Tapi sepak bola adalah mimpinya.

”Saya pergi ke laut dalam selama sepuluh hari, dua minggu atau tiga minggu untuk menangkap ikan. Kami bahkan pergi jauh hingga dekat India, Iran atau bahkan Somalia. Dan ketika saya kembali dari laut, saya hampir tidak pernah ada di rumah. Saya tidak pernah beristirahat atau tidur. Saya terus bermain bola siang malam,” tutur Ali.

Dedikasinya terbayar. Pada 2014, Ali adalah satu dari sembilan anak Pakistan yang terpilih mengikuti Piala Dunia Sepak Bola Anak Jalanan di Rio Brazil.

“Bermain di Brasil adalah mimpi saya. Kami biasa berlatih di lapangan terbuka tempat kandang keledai. Saya memenangkan medali emas internasional, perunggu dan banyak medali lainnya untuk negara saya,” kata Ali.

Saat itu tim Pakistan menempati posisi ketiga, bersaing melawan 200 tim dari 52 negara. Ali bahkan meraih predikat ‘Pemain Terbaik’. Tapi di sana dia juga harus patah hati. Dia jatuh cinta pada seorang gadis Brasil.

“Selama kunjungan kedua saya ke Brazil, keluarganya memberi kami restu. Tapi tidak ada harapan saya bisa kembali ke Brasil dan menikahinya," katanya.


Seluruh Pakistan merayakan kemenangan tersebut dan menyebut anak-anak itu sebagai pahlawan kecil. Ucapan selamat berdatangan mulai dari politisi hingga selebriti. 

Perdana Menteri bahkan memberi hadiah uang tunai senilai 13 juta rupiah kepada setiap pemain.

Tapi anak-anak itu menuduh LSM Azad Foundation, yang membantu membawa mereka ke Piala Dunia Anak Jalanan, menggunakan uang itu.

“Mereka mengeksploitasi kami, mengambil semua uang dan hadiah yang kami terima di luar negeri. Mereka tidak membayar uang saku bulanan yang telah disetujui oleh sponsor untuk dibayarkan selama empat tahun. Kami juga harus mengemis pada mereka agar gaji kami dibayarkan,” jelas Aurangzeb Baloch, salah satu anggota tim.

Setelah kemenangan mereka, anak-anak itu dibanjiri berbagai tawaran, mulai dari tawaran bekerja di bank hingga sponsorship dari perusahaan. Juga tawaran pendidikan gratis dan pekerjaan di kantor pemerintah Provinsi Sindh.

Tapi mereka telah menandatangani sebuah kesepakatan eksklusif dengan LSM tersebut. “LSM Azad Foundation meminta kami untuk tidak bermain untuk tempat lain.”

Azad Foundation tidak menanggapi permintaan wawancara dari Asia Calling.

Akhirnya, anak-anak itu kembali ke tempat mereka memulai. Tinggal dengan kondisi hidup seadanya di desa nelayan mereka. Ali dan Aurangzeb pun kembali melaut.

Sampai baru-baru ini, seorang dermawan memberi mereka uang saku bulanan. Ini memungkinkan mereka untuk fokus pada sepak bola. Tapi pelatih tim, Rashid Baloch mengungkapkan ada agenda lain yang juga sedang dimainkan.

“Sepak bola itu seperti pacar bagi orang-orang Baloch. Seperti kebanyakan orang Afrika tergila-gila dengan sepak bola. Ada begitu banyak talenta olahraga di jalanan Pakistan,” jelas Rashid.

Bagi mereka yang tidak punya banyak uang, harga bola lebih murah ketimbang pemukul kriket atau raket tenis.

”Sayangnya, pemerintah lebih suka kriket daripada olahraga lain. Padahal semua olahraga harus didukung. Anak jalanan ini telah mengalahkan pemain internasional terbaik. Saya harap pemerintah akan segera memberikan dukungan,” harap Rashid.

Mendengar nasib mereka, pemain Brasil yang terkenal, Ronaldinho, berencana membawa anak-anak Pakistan itu kembali ke lapangan sepak bola. Dan bahkan mungkin kembali ke Brasil.

Ini menumbuhkan harapan di hati Ali kalau dia bisa bertemu lagi dengan kekasih hatinya suatu hari nanti. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Kuasa Hukum: Ada Gangguan di Otak Setnov

  • Beredar Surat Dari Novanto Soal Jabatannya, Fahri Hamzah: Itu Benar
  • Gunung Agung Meletus, Warga Kembali Mengungsi
  • Kasus PT IBU, Kemendag Bantah Aturan HET Beras Jadi Biang Penggerebekan