Para penyanyi Qawwali di Fatehpur Sikri. (Foto: CC/Joshua Singh)

Para penyanyi Qawwali di Fatehpur Sikri. (Foto: CC/Joshua Singh)

Qawwali adalah puisi mistis dan perenungan Sufi yang mempromosikan sebuah bentuk toleransi Islam.

Tapi seiring berkembangnya musik Rock dan Bollywood, banyak yang melupakan tradisi kuno ini.

Dari Old Delhi, tempat kelahiran puisi unik ini, Koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, menyusun kisah tentang sebuah kelompok yang berupaya melestarikan budaya klasik ini.

Ini kamis malam di Old Delhi yang bersejarah.

Ada puluhan peziarah di kuil tokoh Muslim, Hazrat Nizamuddin Auliya. Kuil ini sudah berdiri sejak abad ke-12.

Jalanan yang sempit dipenuhi pedagang kaki lima yang menjual kelopak mawar segar dan dupa.

Di dalam kuil,  ada sekelompok penyanyi tradisional yang sedang bersiap-siap untuk tampil malam ini.

Mereka membuka penampilannya dengan puisi Islami Persia, Kun Faya Kun, yang ditulis oleh penyair terkenal di kawasan ini, Amir Khushrau.

Qawwali  adalah bentuk Sufi dari musik religius yang menggambarkan bentuk mistik dan toleransi Islam.

Ajaran Sufi soal kemanusiaan dan bagaimana memperlakukan semua orang setara menjadi alasan mengapa kuil ini kerap dikunjungi umat Muslim dan nonMuslim.

“Qawwali ada hubungannya dengan jiwa. Ini menyentuh hati dan tubuh para pendengarnya. Itu alasan mengapa banyak orang meminta kami menyanyikan Qawwali dalam bahasa Persia. Meski mereka tidak mengerti artinya, mereka tetap bisa menikmati musiknya,” tutur penyanyi utama, Tahir Ali. 

Umat dari berbagai agama mengunjungi tempat ini setiap pekan. Pengunjung bahkan ada yang datang dari Amerika dan Eropa. Mereka datang untuk mencari jawaban untuk keinginan-keinginan mereka. 

Bagi penyanyi Qawwali, tampil di kuil ini seperti mimpi yang jadi kenyataan.

Penyanyi Tahir Ali dan dua saudara lelakinya berasal dari Pakistan.

“Qawwali sudah lama dinyanyikan, sejak zaman Nabi Muhammad. Tapi saat itu gayanya beda. Ini dinyanyikan hanya dengan iringan Duff, drum khas Persia. Setelah itu Nizamuddin Auliya dan muridnya, Amir Khusrau, membawa Qawwali mencapai puncaknya. Jadi tempat ini adalah tempat kelahiran Qawwali,” kata Tahir Ali.  

Khusrau juga dikenal sebagai Burung Beo Subbenua, karena puisinya yang hebat dan suaranya yang merdu.

Dan tambahan musik di dalam puisinya yang mistis mengabadikan bentuk itu, kata penjaga kuil, Syed Nizam Ali Nizami.

“Hazrat Amir Khusrau menciptakan alat musik yang berbeda seperti sitar dan tabla. Gurunya Nizamuddin Auliya pernah meminta Khusrau untuk mengembangkan bahasa yang bisa digunakan dan dipahami orang-orang dari berbagai agama. Jadi dia menciptakan bahasa Urdu yang kini banyak digunakan,” jelas Nizam Ali Nizami.

Selama ratusan tahun, musik mistik ini juga digunakan dalam industri film India, Pakistan dan negara Asia lainnya.

Tapi penjaga kuil, Nizam Ali Nizami yang juga adalah keturunan Nizamuddin Auliya, mengatakan Qawwali klasik sudah jarang didengar.

“Apa pun yang Anda dengar saat ini bukanlah Qawwali asli. Sebelumnya para penyanyi kerap menyanyikan puisi penyair mistik. Tapi sekarang, beberapa bisa membuat pendengar menjadi kafir,” keluh Nizam Ali Nizami.

Meski kaum muda saat ini hampir tidak pernah melihat bentuk asli tradisi ini, sebuah kelompok di India berupaya menghidupkan kembali Qawwali klasik.  

“Seni ini mulai menghilang meski tidak hilang sama sekali. Kami ingin menghidupkannya kembali.” kata Ditti Ray, penanggung jawab program di Yayasan Budaya Agha Khan atau AKTC.

Sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali Qawwali, Ditti dan timnya mendokumentasikan beberapa bentuk Qawwali.

“Hanya ada dua kelompok yang masih bertahan di Nizamuddin Basti. Sementara tiga kelompok lain pindah ke Old Delhi. Jadi mereka masih dianggap penjaga musik tradisional di kuil ini dan masih menyanyikan puisi Amir Khusrau.” 

Dan tim itu juga mendatangi tempat-tempat di luar Delhi.

“Kami mendokumentasikan tiga genre musik yang berbeda seperti Qawwali, klasik dan folk. Ketiganya kami dokumentasikan dari tempat yang jauh seperti Jaipur, Agram Punjab, Kashmir. Terlepas dari siapa yang menyanyikannya atau bagaimana gayanya. Dan kami mengadakan banyak pertunjukan dengan penampil dari luar khususnya Pakistan,” kata Ditti.

Sebagai bagian dari inisiatif, sebuah website juga diluncurkan. Di sini dimuat semua karya penyair Amir Khusrau yang dibawakan beberapa penyanyi terkenal.

Penyanyi Chand Nizam ikut ambil bagian dalam proyek ini. Ia melatih para penyanyi muda untuk membawakan Qawwali klasik.

Katanya, dari sebuah rumah kecil yang letaknya dekat dengan kuil, keluarga Sikandriya telah tampil selama 700 tahun terakhir.

Dari tempat kelahiran Qawwali, Chand kini punya kesempatan untuk berbagi pengetahuan dengan kaum muda yang ingin meneruskan tradisi ini.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!