Aktris Arisa Yura di atas panggung di depan foto Murakami. (Foto: Miho Watanabe)

Aktris Arisa Yura di atas panggung di depan foto Murakami. (Foto: Miho Watanabe)

Sejarah awal imigrasi orang Asia ke Australia adalah satu hal yang jarang dibicarakan di negara itu.

Dari 1901 sampai 1960-an dikenal ada aturan 'White Australia Act' atau Kebijakan Australia Putih yang membatasi masuknya orang Asia ke negara itu. Padahal sudah banyak juga orang Asia yang tinggal di sana sebelumnya. 

Sebuah pertunjukan teater di Sydney mengeksplorasi kehidupan seorang fotografer Jepang di abad ke-19 bernama Yasukichi Murakami.

Koresponden Asia Calling KBR di Sydney, Jarni Blakkarly melihat latihannya dan menyusun kisah ini untuk Anda. 

“Anda tahu rencana utamanya adalah semuanya orang berkulit putih. Dan sebagian besar tidak percaya pada kita. Bukan hanya orang Jepang, Tionghoa, Malaya, Aborigin,atau Filipina ... tapi Gregory berbeda. Kita adalah orang pertama yang punya mobil di kota ini.”

Di sebuah studio latihan di Sydney, para pemain sedang menghidupkan kembali kisah yang sudah lama terlupakan dalam sejarah Australia.

Ceritanya tentang kehidupan seorang fotografer Jepang abad -19 bernama Yasukichi Murakami dan foto-fotonya yang hilang.

Pementasan ini berpusat pada percakapan imajiner antara Murakami dan pencipta drama itu, Mayu Kanamori, yang juga seorang fotografer Australia keturunan Jepang.

“Yasukichi Murakami adalah seorang fotografer yang datang dari Jepang tahun 1887 dan dia tinggal di Australia Utara. Dia tidak hanya bekerja sebagai fotografer tapi dia juga seorang penemu dan pengusaha,” kisah Mayu.

Di antara kota Broome dan Darwin yang terletak di utara Australia, bisnis Murakami mencakup banyak hal mulai dari membuka toko, hotel, bisnis taksi dan bank informal. Dia bahkan menciptakan pakaian menyelam mutiara.

Murakami menjadi salah satu tokoh masyarakat bagi ribuan orang Jepang yang tinggal di Australia pada saat itu. Tapi banyak orang lebih mengenalnya karena foto-fotonya.

“Dia punya sebuah studio fotografi yang sangat sukses di Darwin sebelum Perang Dunia II pecah. Dan ketika Jepang menjatuhkan bom di Pearl Harbor, semua orang Jepang yang tinggal di Australia ditangkap dan diasingkan. YM salah satunya yang meninggal dalam pengasingan dan foto-foto karyanya hilang. Pentas drama ini mengungkap penemuan foto-foto yang hilang itu,” papar Mayu.

Mayu mengatakan selama meneliti kehidupan Murakami dan menemukan foto-foto itu, dia merasa cerita ini menjadi simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Pencariannya membawa dia mengunjungi perpustakaan dan gedung arsip di seluruh Australia. 

Dia bahkan pergi ke kampung halaman Murakami di Jepang. Di sana dia menemukan foto-foto Murakami yang dikirimkan untuk ibunya. 

Berbekal koleksi fotografi itu, Mayu berhasil mengenali puluhan foto tanpa identitas dalam arsip Australia sebagai karya Murakami.

“Seolah-olah memori tentang semua orang Jepang sebelum Perang Dunia II terhapus kekerasan perang. Dan foto-foto yang hilang itu seperti sebuah metafora, untuk apa yang saya anggap sebagai amnesia nasional kolektif tentang sejarah Jepang di negeri ini,” kata Mayu. 

“Menurut saya, kita lupa kalau orang Asia sudah tinggal di Australia dalam waktu lama. Penduduk asli negeri ini dan bangsa Asia telah melakukan perdagangan dan hidup bersama lebih lama dari pemukim asal Eropa. Ini bagian dari sejarah pertama yang harus diingat.” 

Meski kini Australia adalah negara multikultural, koloni Inggris ini didirikan dengan divisi rasial yang sangat kuat.

Selama abad ke-19, imigran Asia disambut dengan permusuhan dan pada 1901 mereka dilarang memasuki negara itu secara berkelompok.

“Australia belum lama merangkul multikulturalisme. Ada banyak orang dari berbagai latar belakang termasuk dari Asia, kelompok yang paling cepat berkembang di negara ini. Satu hal yang penting adalah sejarah tentang orang-orang yang sudah berada di sini sebelum kita dan bukan migrasi baru, seperti yang dikenal dalam sejarah Australia modern,” tutup Mayu.

“Lihatlah semua orang yang dimakamkan di sini, mereka terlupakan. Orang terlupakan yang jauh dari rumah dan keluarga mereka. Mereka datang ke mari, tinggal di sini dan berkontribusi pada sejarah negara ini, sejarah kita. Kau berutang kepada mereka Mayu. Luangkan waktu untuk mendengarkan.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!