Komunitas transgender di Pakistan menuntut supaya mereka tak terus menerus didiskriminasi.

Tuntutan ini kembali disuarakan pasca kematian seorang aktivis transgender yang ditembak berulang kali oleh orang tidak dikenal.

Kelompok pegiat HAM mengatakan diskriminasi yang dilakukan rumah sakit menjadi penyebab kematiannya.

Koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, menyusun laporannya dari kota Lahore.

Dalam beberapa bulan terakhir, Teater Al-Hamra yang terkenal di Lahore, mementasan sebuah lakon yang unik.

Lakon berjudul Teesri Dhun ini dimainkan anggota komunitas transgender.

Neeli Rana yang berusia 40 tahun berperan sebagai tokoh utama.

“Lakon ini dibuat berdasarkan penelitian soal hak asasi manusia. Penelitian itu menyoroti isu-isu yang dihadapi komunitas transgender. Ini yang kami angkat menjadi tema,” tutur Rana.

Pertunjukan semacam ini merupakan yang pertama dalam sejarah teater Pakistan. Bercerita seputar kehidupan komunitas transgender yang mengalami stigma, yang tumbuh subur dalam masyarakat Muslim Pakistan yang konservatif.

Mereka terbuang, tidak diterima oleh keluarga, sekolah atau dunia kerja.

“Pada 2006 saya berkampanye menyuarakan hak-hak komunitas saya. Para transgender tidak mendapat akte kelahiran dan KTP karena mereka tidak mendapat informasi cara mendapatkannya. Saya juga menyoroti masalah-masalah itu lewat unjuk rasa dan media,” jelas Rana.

Di luar teater, banyak transgender yang berakhir sebagai pengemis di sudut-sudut jalan.

Mereka tinggal dalam kelompok-kelompok kecil di daerah kumuh karena diabaikan keluarganya.

Selama puluhan tahun, mereka menjadi penari di pesta-pesta pernikahan untuk mendapat uang. Dan tanpa pendidikan yang layak, banyak dari mereka terjerumus dalam bisnis prostitusi.

“Dulu kami biasanya menari di karnaval untuk mendapat uang. Tapi bisnis ini tutup karena aksi terorisme. Jadi apa yang harus kami lakukan ketika sumber penghasilan sudah tidak ada? Kebanyakan mulai mengemis dan menjadi pekerja seks. Kami terpaksa melakukannya,” kata Rana.

Komunitas transgender kerap menghadapi diskriminasi dan tak jarang kekerasan brutal. Sekitar 45 transgender dibunuh dalam enam bulan terakhir.

Yang terbaru adalah kematian aktivis transgender bernama Alisha, 23 tahun. Dia ditembak berulang kali oleh pria tidak dikenal di kota Peshawar. 

Di hari ketiga, dia meninggal akibat luka-lukanya. Ada dugaan telah terjadi diskriminasi di rumah sakit pemerintah. 

Para aktivis mengatakan staf medis terlalu lama memutuskan Alisha harus dirawat di bangsal mana, laki-laki atau perempuan. 

Kejadian ini memicu aksi unjuk rasa komunitas transgender dan pegiat HAM di seluruh negeri.

Seorang transgender bernama Jannat, 26 tahun, ikut bermain teater dan juga berujuk rasa di kota timur, Lahore.

Menurutnya kasus Alisha bukan satu-satunya.

“Saat saya ke rumah sakit, ada dokter yang bertanya di luar soal kesehatan saya. Seperti berapa tarif saya untuk berhubungan seks. Mereka juga mengejek saya ‘Anda juga butuh perawatan?’ Saya sangat terganggu dengan pertanyaan itu dan saya pergi tanpa sempat dapat pengobatan,” keluh Jannat.

Pada 2010, komunitas itu merayakan kemenangan bersejarah saat Mahkamah Agung memutuskan kalau transgender punya hak yang sama dengan warga negara lain. MA memerintahkan pemerintah mengeluarkan KTP dan menyediakan lapangan kerja bagi mereka.

Kolom jenis kelamin ketiga ‘transgender’ pun ditambahkan dalam KTP. Tapi sejauh ini penyediaan lapangan kerja dan kesejahteraan sosial belum terealisasi.

Dengan angka pembunuhan yang dramatis, anggota komunitas seperti Zehrish membutuhkan perlindungan. “Jika seseorang lahir sebagai transgender, ini bukan salah mereka. Jika hak-hak kami diberikan, maka transgender tidak akan dibunuh seperti ini.”

Sebuah langkah mengejutkan terjadi pekan lalu. Lima puluh ulama muslim ternama di Pakistan mengeluarkan fatwa yang menyebut pernikahan dengan seorang trangender adalah sah.

Tapi ini tergantung pada kondisi, yang mungkin ujungnya tidak berpihak pada kepentingan komunitas transgender.

Yang paling dibutuhkan kata komunitas itu, adalah perubahan pola pikir.

“Yang paling utama adalah penerimaan dalam keluarga. Banyak orangtua mulai memukuli anak yang dilihat berbeda dan dipaksa berlaku seperti laki-laki. Puncaknya mereka diusir dari rumah. Masyarakat Pakistan harus menerima kami apa adanya. Kami adalah manusia, sama seperti yang lain,” tegas Jannat.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!