Jam malam masih berlaku di Kashmir selama tiga pekan berturut-turut (Foto: Bismillah Geelani)

Jam malam masih berlaku di Kashmir selama tiga pekan berturut-turut (Foto: Bismillah Geelani)

Wilayah Kashmir yang dikuasai India masih memberlakukan jam malam selama tiga pekan berturut-turut. Ini dilakukan setelah tewasnya pemimpin kelompok militan awal bulan ini.

Tokoh muda yang dibunuh ini dianggap bertanggung jawab memperkenalkan apa yang dikenal sebagai ‘wajah baru anti militansi India’ di kawasan yang berkonflik ini.

Pembunuhan ini juga telah memicu demo besar dan kekerasan dengan pasukan India. Puluhan orang tewas dan terluka.

Laporan selengkapnya bersama Bismillah Geelani.

Di distrik selatan Tral di Kashmir ini, lebih dari seratus ribu orang berkumpul untuk upacara pemakaman Burhan Wani.

Wani, 22 tahun, adalah seorang pemimpin kelompok militan yang terkenal. Ia tewas bersama dua anggotanya dalam peristiwa yang diklaim militer sebagai ‘baku tembak antara tentara dan militan’.

Namun warga setempat yakin kalau peristiwa itu adalah rekayasa. Pembunuhan itu, kata mereka, adalah tindakan di luar hukum.

Abdul Hameed yang berusia 40 tahun termasuk yang berduka.

“Ini adalah pembunuhan brutal. Mereka menerapkan pengetatan aturan di sini, sehingga warga tak bisa keluar dan memprotes tindakan tidak berperikemanusiaan ini. Mereka juga menahan seluruh kepemimpinan kelompok militan. Ini saatnya bagi warga untuk bangkit dan bertanya kepada India: demokrasi macam apa ini? Bagaimana bisa sebuah wilayah diduduki secara ilegal sebegitu lama? Ini sangat menekan warga.”

Burhan Wani menjadi anggota kelompok militan ketika berusia 17.

Menurut sang ayah, Muzaffar Wani, sikap militan anaknya makin keras ketika kakak laki-lakinya disiksa secara sadis oleh tentara. Burhan Wani menyaksikan itu semua.

“Kakak adik itu berencana piknik bersama. Mereka memasak daging dan membawa makanan, lalu bersama-sama ke tempat piknik. Tiba-tiba tentara datang dan membawa mereka. Mereka diminta memberitahu informasi terkait militan di daerah itu. Tentara memukul sang kakak dengan senapan, tengkorak kepalanya pecah, juga bahu, hidung dan giginya.”

Beberapa tahun kemudian, tentara membunuh kakak Burhan Wani.

Saat itu, Burhan sudah menjadi tokoh populer dari kelompok militan baru di Kashmir.

Kashmir menjadi wilayah yang diperebutkan India dan Pakistan sejak pemisahan subkontinen India pada 1947.

Sedikitnya 100 ribu orang dibunuh setelah kelompok bersenjata yang menentang India dimulai pada akhir 1980an.

Sejauh ini tidak ada bukti kalau Burhan terlibat dalam pembunuhan apa pun. Tapi ia menggunakan media sosial sebagai ‘senjata’ untuk mengeluarkan peringatan dan ancaman kepada pasukan keamanan India. Juga untuk merekrut anak muda bergabung di kelompok militan.

Manmohan Khajuria adalah bekas Direktur Jendral Kepolisian Kashmir.

“Burhan Wani adalah orang yang telah mengubah wajah terorisme. Dulu, teroris akan sembunyi, dan aparat keamanan serta intelijen harus mencari mereka. Tapi sekarang ada seorang pria yang berdiri di depan, dengan nama terpampang di dada, dan muncul di media sosial, mendeklarasikan siapa dirinya.”

Tindakan Burhan yang dianggap berani ini menarik banyak anak muda Kashmir untuk bergabung dalam kelompoknya.

Salah satunya adalah Zakir Rashid yang baru berusia 19 tahun.

Ayah Zakir, Abdul mengatakan kalau ia mengirim Zakir ke luar kota untuk belajar. Tapi pengalaman militan yang dicecapnya ternyata begitu membekas.

Suatu hari, Abdul menemukan suarat di kamar Zakir. Isinya: ‘jangan cari saya, saya sudah menemukan jalan saya, dan ini jalan yang benar’.

Menurut sumber pemerintah, sedikitnya 200 ribu warga lokal bergabung dengan kelompok militan pada beberapa bulan belakangan. Semuanya adalah anak muda, berpendidikan dan dari keluarga berpengaruh.

Aparat keamanan melihat operasi pembunuhan Burhan Wani sebagai kesuksesan besar, sementara itu dampak lanjutannya bagai mimpi buruk bagi orang lain.

Tak lama setelah tewasnya Burhan Wani, aksi protes besar pecah di penjuru wilayah ini – pendemo marah dan menyerang kantor polisi, kamp tentara serta kantor pemerintahan.

Bentrokan terjadi antara pendemo dengan kekuatan bersenjata. Sedikitnya 47 tewas dan lebih dari 3000 orang mengalami luka-luka serius.

Pemerintah mematikan telfon, ponsel serta jaringan internet di kawasan ini, serta menerapkan jam malam yang ketat – yang kini sudah memasuki pekan ketiga.

Pemerintah mengaku sudah melakukan banyak hal untuk memastikan keamanan – tapi klaim ini berlawanan dengan korban yang berjatuhan.

Mirwaiz Umar Farooq adalah ketua Konferensi Partai-partai Hurriyat – sebuah koalisi dari belasan kelompok separatis. Dia menuding aparat negara bertanggung jawab atas pembunuhan ini.

“Yang kita saksikan sekarang adalah kondisi terorisme paling parah. Tidak ada mekanisme pengaturan massa yang diterapkan. Mereka seharusnya bisa menggunakan senjata tidak mematikan, tapi yang terjadi adalah banyak korban berjatuhan dengan luka tembakan. Mereka ditembak di kepala atau di dada, sehingga jelas ada niatan untuk membunuh.”

Krisis di Kashmir terus bergolak, sementara India menerjunkan lebih banyak tentara untuk mendampingi pemerintah lokal.

Sementara itu Pakistan meluncurkan protes resmi kepada India atas pembunuhan yang baru-baru ini terjadi.

Kelompok HAM dan PBB juga menyampaikan kekhawatiran mereka atas situasi ini.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!