Bendungan Persahabatan Afghanistan India yang belum lama ini diresmikan di Provinsi Herat Afghanista

Bendungan Persahabatan Afghanistan India yang belum lama ini diresmikan di Provinsi Herat Afghanistan. (Foto: Shadi Khan Saif)

Afghanistan akhirnya berhasil menyelesaikan sebuah proyek listrik dan bendungan irigasi raksasa. Proyek ini rampung setelah 40 tahun diluncurkan.

Pemerintah menggambarkan proyek ini sebagai ‘mulainya era baru’. Ada sedikitnya 12 bendungan yang segera berfungsi di seluruh negeri.

Kita simak laporan koresponden Asia Calling KBR Shadi Khan Saif berikut ini.

Pemandangan di Provinsi Herat sangat mempesona. Penduduk lokal membawakan tarian tradisional Atan saat peresmian proyek bendungan ini.

Bendungan itu aslinya bernama Bendungan Salma. Pertama kali direncanakan tahun 1970an saat Afghanistan belum terkoyak perang.

Perang puluhan tahun membuat proyek itu terbengkalai sampai belum lama ini.

Proyek ini akhirnya terwujud berkat investasi pemerintah India senilai empat triliyun rupiah. 

Untuk menghargai bantuan India pada negara yang porak-poranda akibat perang itu, pemerintah Afghanistan mengganti nama bendungan itu menjadi Bendungan Persahabatan Afghanistan India.

Air dan listrik masih menjadi komoditas yang banyak diperebutkan di kawasan Asia Selatan. Di kawasan ini banyak negara menghadapi kekurangan keduanya dalam kehidupan sehari-hari. 

Kapasitas penyimpanan bendungan mencapai 640 juta meter kubik air. Proyek ini akan memproduksi 42 Megawatts listrik dan mengairi 80 hektar lahan pertanian di Afghanistan bagian barat.

Masyarakat di Provinsi Herat seperti petani bernama Abdul Kareem, adalah kelompok yang paling mendapat manfaat dari proyek ini.

Abdul masih ingat ketika proyek ini pertama kali diluncurkan pada 1976.

”Air sudah ditetapkan Tuhan sebagai sumber kehidupan. Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana bahagianya kami karena proyek ini akhirnya selesai. Proyek ini sudah dimulai sejak Perdana Menteri kami yang pertama, Dawood Khan,” kenang Abdul.

Para pejabat di kota Afghanistan yang historis itu, juga optimistis dengan keberadaan bendungan baru ini.

Masouda Karokhi adalah aktivis hak-hak perempuan terkemuka dari Herat. Dia juga mewakili Herat di Parlemen Afghanistan.

“Setelah 40 tahun perang dan kehancuran, kami akhirnya punya proyek yang tidak hanya menyediakan listrik untuk rumah dan air untuk irigasi. Tapi proyek ini juga menyebarkan pesan soal harapan dan pembangunan serta adanya hubungan baik dengan negara-negara di kawasan ini,”jelas Karokhi.


India dan Afghanistan punya hubungan persahabatan yang hangat.

Belum lama ini, New Delhi mengguyurkan bantuan senilai 26 triliun rupiah kepada Afghanistan.

Kerja sama ini tidak hanya seputar proyek pembangunan. Tapi juga membantu memperbanyak rute perdagangan dunia, membangun gedung parlemen yang baru, dan memperbaiki kualitas kesehatan dan pendidikan bagi warga Afghanistan.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, telah dua kali mengunjungi Kabul dalam setahun terakhir untuk meresmikan proyek bendungan ini.

Ini yang disampaikannya dalam pidato peresmian bendungan.

“Hari ini kita tidak hanya meresmikan sebuah proyek yang akan mengairi lahan dan menerangi rumah-rumah. Kita sedang menghidupkan kembali sebuah kawasan, mengembalikan harapan, memperbaharui kehidupan dan mendefinisikan ulang masa depan Afghanistan,” kata Modi. 

“Bendungan ini adalah sebuah generator yang tidak hanya untuk menghasilkan listrik, tapi juga optimisme dan keyakinan akan masa depan Afghanistan.”

Beberapa hari pasca proyek bendungan Afghanistan diresmikan, Presiden Afghanistan  Mohammad Asharf Ghani  meluncurkan proyek bendungan raksasa lainnya di provinsi tetangga, Farah.

Ghani memprioritaskan keamanan sumber air negara itu.

Namun negara itu masih dilanda aksi pemberontakan yang terus menimbulkan ancaman terhadap rencana pembangunan ambisius Afghanistan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!