Yuva Beats. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Yuva Beats. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Yuva Beats sedang berlatih. Mereka memainkan lagu milik sebuah band rock Sufi asal Lahore, Pakistan. Sepenggal lirik lagunya berbunyi: ‘Dengarkan suaraku, merdekakan aku, beri aku keadilan dan bebaskan aku.’
 
“Nama band kami Yuva Beats. Yuva artinya anak muda. Kami memilih nama ini karena kami ingin mendorong kaum muda agar berani unjuk kemampuan. Jadi lewat band ini kami punya kesempatan untuk unjuk kebolehan,” ungkap vokalis Yuva Beats, Rahmatullah Habib.

Anggota band ini adalah para pengungsi Afghanistan yang kini tinggal di New Delhi India.

Mereka pindah ke India pada 2009, melarikan diri dari rezim Taliban yang melarang musik.
 
Sultan Hameed Ghiasy, yang juga vokalis di band ini, menjelaskan bagaimana kondisinya saat itu.
 
“Taliban kerap menghukum siapa saja yang mempromosikan musik. Hukumannya sangat mengerikan seperti mencabuti kuku para musisi dan memotong jari mereka. Mereka juga pernah memotong lidah para penyanyi. Ini masih terjadi di beberapa daerah pedesaan Afghanistan,” kisah Sultan.
 
Sultan pun menyanyikan sebuah lagu rakyat Afghanistan untuk mengungkapkan perasaannya.
 
“Lagu ini secara umum menggambarkan tentang keterbatasan seseorang. Bisa juga tentang sejauh mana cinta mereka terhadap musik. Orang-orang ingin mendengarkan dan menikmati musik. Mereka ingin merasakan ekstasi dari musik.”
 
Meski tidak menandatangani konvensi tentang pengungsi, India bekerjasama dengan lembaga PBB urusan pengungsi.  
 
Tahun lalu pemerintah India memberikan kewarganegaraan pada empat ribu pengungsi asal Afghanistan dan Pakistan.
 
Band Yuva Beats tampil di berbagai kampus dan acara amal di New Delhi.
 
Band itu ingin mempromosikan musiknya ke seluruh dunia dan berharap bisa menjadi corong bagi pengungsi Afghanistan yang hidup tersebar di seluruh dunia.
 
“Kami belum pernah bertemu sebelumnya di Kabul. Jadi ketika kami melihat orang ini berbakat dan harus bergabung dengan band kami, kami melakukan audisi. Setiap orang memperkenalkan diri seperti ‘saya pemain keyboard’, ‘saya pemain Tabla’dan seterusnya...” kata drummer Yuva Beats, Ahmad Haider Hadis.
 
Menurut mereka, Afghanistan masih belum aman bagi para musisi.
 
Meski mereka adalah pengungsi di India dan tidak punya status hukum, mereka bisa mendapatkan uang dari bermusik.
 
Tapi mereka bermimpi satu hari nanti bisa kembali ke Afghanistan dan sudah membangun markas di sana.
 
“Masyarakat Afghanistan mendukung kami lewat Facebook atau Youtube. Mereka mendukung kami untuk terus berkarya,” kata Rahmatullah.
 
20 Juni silam, band ini tampil di New Delhi untuk memperingati Hari Pengungsi Sedunia.
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!