Para relawan membersihkan Sungai Bagmati Kathmandu. (Foto: www.ekantipur.com)

Para relawan membersihkan Sungai Bagmati Kathmandu. (Foto: www.ekantipur.com)

Pembangunan kembali dan pembersihan besar-besaran pasca gempa bumi Nepal terus dilakukan.

Di Kathmandu, puing-puing di sekitar bangunan bersejarah dan budaya juga mulai dibersihkan.

Termasuk Sungai Bagmati yang mengalir membelah kota.

Sebelum gempa, sebuah kelompok telah melakukan perubahan besar dengan membersihkan sungai paling tercemar di Nepal itu.

Pada pukul setengah tujuh pagi, seratusan ribu orang telah berkumpul di tepi sungai Bangmati yang membelah kota Kathmandu.

Ini merupakan pekan ke-100 dari kampanye 'Membersihkan Sungai Bagmati'.

Megh Ale, pendiri Sahabat Bagmati memegang pengeras suara.

"Halo Bagmati! Di dunia, selain kita bangga dengan Gunung Everest, kita juga malu dengan Sungai Bagmati. Ini tanggung jawab kita untuk menyelamatkan Bagmati dan membantu negara agar sungai tercemar ini bisa bersih.”

Mereka yang hadir saling bekerja sama. Di antara mereka ada politisi senior, duta besar dan pemimpin agama.

Bhanu Sharma adalah salah satu pemimpin Kampanye Membersihkan Bagmati.

“Ini adalah rantai manusia untuk melindungi sungai dan membentuk dinding manusia. Kami ingin menyampaikan pesan kalau kami tidak akan membuang sampah ke sungai dan tidak akan membiarkan orang lain melakukannya,” ungkap Bhanu.

Perdana Menteri Sushil Koirala juga hadir di sana. Dia sangat terkejut karena banyaknya orang yang berpartisipasi dalam kegiatan ini.

“Saya bisa melihat warga yang hadir di sini punya komitmen. Jika semua warga negara dan berbagai kelompok bekerja sama untuk mewujudkan agenda bersama, kita bisa mengubah segalanya. Ini inisiatif rakyat dan Pemerintah  mendukung sepenuhnya. Kami sedang mengembangkan sistem pembuangan alternatif dan sungai akan segera menjadi bersih,” kata Sushil.

Hampir tiga juta orang tinggal di Kathmandu dan ini sepersepuluh dari keseluruhan penduduk Nepal.

Kota itu tidak punya instalasi daur ulang yang cukup untuk mengelola limbah padat. Dan semua saluran pembuangan rumah tangga mengalir ke sungai.

Pemerintah sedang membangun sistem daur ulang air dan pengembangan tempat daur ulang yang lebih besar.

Mahesh Shrestha menggulung celana panjangnya dan masuk ke sungai. Dia memunguti kantong plastis, pakaian robek dan sampah lainnya dari sungai.

“Saya melakukan ini setiap pekan selama 100 hari terakhir. Biasanya sungai ini sangat bau tapi sekarang agak lebih baik. Kami akan terus membersihkannya tapi pemerintah juga harus menutup saluran pembuangan kota ke sungai ini,” jelas Mahesh.

Kampanye membersihan sungai ini secara sukarela dimulai delapan aktivis dua tahun lalu.

Bhanu Sharma, yang juga adalah Kepala Kampus Apex, salah satunya.

“Tumpukan sampahnya seperti Gunung Everest dan berserakan di mana-mana. Ada plastik berisi sampah, limbah manusia, limbah rumah tangga dan pabrik. Semuanya mengalir ke Bagmati.”

Dalam 100 minggu, para relawan berhasil mengumpulkan lima ribu metrik ton limbah dari sungai. Mereka lalu membawanya ke tempat pembuangan sampah yang terletak beberapa kilometer dari lembah Kathmandu.

Lebih dari lima ratus ribu orang yang tinggal di ibu kota itu berpartisipasi dalam kampanye ini selama dua tahun.

“Ada dua kesepakatan ketika kami mulai kampanye ini. Yang  pertama tidak ada struktur organisasi. Tidak ada koordinator, presiden, atau bendahara. Semua warga Nepal bisa jadi aktivis. Kedua, kami tidak akan menerima uang. Tidak ada uang tunai, rekening bank, atau tanda terima. Jika ada yang mau menyumbang, silahkan datang dan sumbangkan keranjang, sepatu, sarung tangan, dan lainnya. Ini adalah pekerjaan sukarela. Kami tidak akan menekan orang untuk datang dan bergabung. Tapi kami akan terus mengajak mereka,” kata Bhanu lagi.

Dan dalam dua tahun, kampanye ini menjadi kampanye informal terbesar di negeri itu.

Kembali ke acara bersih-bersih sungai...

Dua gadis menyanyikan lagu untuk mendorong orang mau turun ke sungai. Liriknya berbunyi kita tumbuh seperti bunga, kita meluas seperti kebakaran dan membersihkan sekitarnya untuk masa depan yang sehat.

Tina Bhattarai yang berusia 21 tahun sedang memegang tas penuh sampah yang diambil dari Sungai Bagmati dan memasukkannya dalam tong sampah. Dia memakai kaos dengan tulisan ‘Jadilah Warga Nepal’

Ini kali pertama dia ikut kampanye Bagmati.

“Saya bermimpi suatu hari, ketika saya datang kemari, saya tidak merasa gatal-gatal lagi bila berenang di sini,“ kata Tina.

“Kami sangat mendorong pemerintah. Kami ingin kegiatan bersih-bersih ini dilakukan warga sekitar sungai. Kami ingin pergi ke rumah-rumah penduduk dan memberitahu mereka untuk berhenti membuang sampah ke sungai agar tidak perlu lagi memunguti sampah di sungai,” tambah Bhanu.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!