Tim sepak bola Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Tim sepak bola Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Afghanistan berlaga dalam pertandingan internasional terakhir kali tahun 1984. Saat itu mereka kalah dari Yordania 1-6. Setelah itu Afghanistan tidak pernah bermain lagi selama 17 tahun.

Selama pemerintah Taliban semua olahraga dilarang di Afghanistan.

Saat itu, Stadion Ghazi yang penah menjadi tempat anak muda Afghanistan bermain bola, berubah menjadi tempat eksekusi.
 
Kini Afghanistan punya liga sepak bola sendiri dan sedang berjuang lolos di kualifiasi Piala Dunia tahun 2018.
 
Pemain nasional Mahmood Ayaz menjelaskan alasannya.
 
“Tim sepak bola Afghanistan dibubarkan setelah 1984. Kami pun kehilangan harapan untuk membangun tim sepak bola yang hebat. Pendudukan Soviet, perang dan Taliban adalah alasan utamanya. Status saya adalah pengungsi saat menonton pertandingan internasional pertama Afghanistan pada 2002, melawan Korea Selatan di Korea. Meski saat itu kami kalah, tapi harapan kami bangkit. Kami menjadi antusias dengan masa depan sepak bola negeri ini,” tutur Mahmood.
 
Muhammad Hashimi bermain dalam tim nasional di dua laga kualifikasi Piala Dunia bulan Juni lalu melawan Shuriah dan Kamboja.
 
Demi alasan keamanan pertandingan Afghanistan melawan Shuriah diadakan di Iran.
 
Afghanistan kalah dari Shuriah tapi berhasil mengalahkan Kamboja.
 
Muhammad Hashimi mengatakan pertandingan internasional ini sangat penting bagi mereka.
 
“Permainan kami di awal pertandingan tidak begitu bagus. Perang dan konflik di tanah air berdampak pada penampilan kami,. Tapi para pemain kami berusaha keras belajar teknik baru dan memperbaiki permainan mereka. Saya yakin kami bisa jadi juara di antara negara-negara Asia Barat,” kata Hashimi.
 
Orang Afghanistan sangat mencintai sepak bola.
 
Di setiap taman di Kabul bisa ditemukan anak-anak yang sedang bermain bola.
 
Mahasiswa berusia 22 tahun bernama Suhrab Nawa merasa bangga dengan tim nasionalnya.
 
“Saya bangga pada mereka terutama ketika 60 ribu pendukung tim Kamboja menyemangati tim mereka dan tim kami adalah tim tamu. Tapi kami bisa memenangkan pertandingan itu. Saya sangat senang.”
 
Tim Afghanistan mendatangkan pelatih internasional Jerman-Bosnia, Slaven Skeledzic.
 
Manajer tim Mustafa Meherzad mengatakan pelatih ini sangat membantu timnya.
 
“Pelatih ini sangat berbakat. Pertandingan persahabatan melawan Laos dan Banglades belum lama ini membuktikan, kalau pelatih Slaven Skeledzic mengajarkan teknik-teknik yang bagus pada para pemain,” kata Mustafa.
 
Pertandingan mereka berikutnya adalah melawan Jepang bulan Agustus nanti.
 
“Tim sepak bola Jepang adalah salah satu tim terbaik dunia. Tidak akan mudah mengalahkan mereka. Tapi jika pemain Afghanistan bisa belajar dari dua laga kualifikasi piala dunia sebelum ini, mereka bisa bermain bagus dan bahkan mengalahkan Jepang,” tekad Mustafa.
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!