Anak-anak Pakistan sedang bermain tembak-tembakan menggunakan senjata mainan. (Foto: Shahab-ur-Rahma

Anak-anak Pakistan sedang bermain tembak-tembakan menggunakan senjata mainan. (Foto: Shahab-ur-Rahman)

Saat Lebaran, senjata mainan menjadi hadiah yang paling banyak diberikan pada anak-anak di Pakistan.  
 
Senjata mainan mirip Kalashnikov, pistol dan senapan mesin yang menggunakan peluru mainan dan bisa ditembakan, diberikan pada anak-anak.
 
Seperti sekelompok anak laki-laki sedang bermain tembakan-tembakan ini. Mereka meniru aksi kekerasan yang mereka tonton di TV dan di film-film lokal.

Mereka menggunakan senjata mainan yang bisa menembakan peluru mainan. Jika ada yang tertembak, maka si anak akan pura-pura mati.
 
Muhammad Asif yang berusia 15 tahun adalah salah satu yang ikut bermain. Dia punya senjata mainan yang mirip AK-47.
 
“Kami bermain dan menirukan pahlawan film-film Pashto. Kami bermain tembak-tembakan hanya untuk bersenang-senang,” kata Muhammad Asif.
 
Temannya Mohammad Yasin yang berusia 14 tahun menunjukkan senjatanya. “Ini namanya senjata Shaheen. Senjata ini bisa menembakkan enam peluru secara bersamaan.”
 
Bermain dengan senjata mainan mulai diangap hal biasa di sini dan ini memunculkan kekhawatiran soal dampak jangka panjang dari permainan tersebut.

Tiga tahun lalu Yayasan Poha melakukan kampanye untuk melarang senjata mainan.

Ketua yayasan, Ibrahim Aliengar, mengatakan setelah menggunakan pistol mainan, anak-anak bisa dengan mudah menggunakan yang asli.
 
“Jika seorang anak diajarkan untuk mengemudi maka dia akan tertarik untuk mengendarai mobil. Ini sama dengan senjata. Senjata mainan menarik anak-anak melakukan kekerasan.”
 
Kelompoknya bersama orangtua dan ulama Islam mencoba mendesak pemerintah untuk melarang penjualan senjata mainan.

Sejak Juni lalu, menjual senjata mainan di Peshawar dianggap melanggar hukum.
 
“Pemerintah melakukan razia di berbagai pasar. Sejumlah besar senjata mainan disita. Polisi punya kekuatan untuk menangkap orang-orang yang terlibat dalam bisnis ilegal menjual senjata mainan. Orangtua harus memberikan pena pada anak-anak mereka, bukan senjata. Mereka mendorong anak-anaknya ke arah kekerasan,” kata Mumtaz Ahmad, Asisten Komisioner di Peshawar.


Tapi di pasar Qissa Khwani senjata mainan masih banyak dijual.

Ajab Khan mengaku tidak terpengaruh dengan larangan itu. “Saya menjual pistol mainan dan pemerintah tidak menghentikan kami. Anak-anak seharusnya menembakkan senjata mainan itu ke udara bukan ke orang lain.”
 
Muhammad Asif, yang sedang bermain dengan senjata mainannya, mengatakan penjual senjata mainan mudah ditemukan.
 
Menurutnya bila tidak ada yang menjual, dia juga tidak bisa membelinya.
 
Tapi beberapa orangtua seperti Norullah Khan mengaku sudah mengubah cara pandangnya dan tidak lagi membelikan senjata mainan.
 
“Senjata mainan ini sangat berbahaya bagi anak-anak. Beberapa dari mereka merusak lampu jalan atau mereka bisa melukai anak lain. Anak-anak saya sekarang lebih memilih helikopter dan mainan lainnya,” kaya Norullah.
 
Para juru kampanye sekarang mendorong pemerintah untuk melarang impor senjata mainan yang terutama berasal dari Tiongkok. Mereka mengatakan ini satu-satunya cara agar pelarangan bisa efektif.
 
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!