Perempuan di tempat penampungan korban gempa Nepal sedang belajar teknik bela diri. (Foto: Omishan T

Perempuan di tempat penampungan korban gempa Nepal sedang belajar teknik bela diri. (Foto: Omishan Thapa)

Lapangan terbuka Chabel yang terletak di timur laut Kathmandu, dipenuhi tenda-tenda terpal. Para penghuninya merupakan korban gempa bumi yang berasal dari Kathmandu dan sekitarnya.

Sekitar 50 perempuan berkumpul membentuk lingkaran di tengah-tengah lapangan.

Mereka semua berdiri dan dengan seksama memperhatikan tiga orang polisi wanita yang berdiri di tengah lingkaran.

“Ketika ada orang yang mencoba menarik dan memaksa ibu-ibu, mereka pasti melakukannya dengan keras. Maka reaksi ibu-ibu juga harus keras. Kalau ibu lemah, maka itu akan jadi masalah,” kata Parmila.

Dua polisi memperagakan adegan perempuan biasa dan penyerang.

Anggota Polwan Pramila Khadka menjelakan beberapa cara membela diri sementara anggota polwan lainnya memperagakan gerakan-gerakannya.

“Hari ini dan kemarin kami mengajarkan pada mereka beberapa teknik bela diri menggunakan tangan. Besok saya akan ajari mereka cara menangkap leher musuh dan menjatuhkannya ke tanah. Banyak perempuan bercerita kalau suami mereka suka menarik rambut para istri dan memukulinya. Kami nanti juga akan ajarkan cara menghadapi orang yang suka menarik rambut perempuan.”

Setelah polisi memberi contoh, para perempuan ini kemudian diminta berpasangan dan mempraktikan contoh yang telah diberikan.


Sajana Lama yang berusia 21 tahun telah tinggal di tenda selama satu bulan karena kamar kontrakannya di Kathmandu ikut rubuh.

Rumahnya yang berada di distrik Ramechhap juga tinggal puing.

Ini hari ketiganya ikut latihan bela diri.

“Saya merasa butuh pelatihan ini karena situasi kami tidak aman terutama saat malam tiba dan bila sendirian. Kami juga mendengar ada kasus pemerkosaan dan kekerasan. Para pemuda mencoba menggoda dan menyentuh kami. Biasanya saya akan menghindar dan lari. Tapi sekarang saya sudah belajar cara melawannya sebelum saya lari.”

Polisi Nepal memulai kelas bela diri ini setelah terjadi dua kasus pemerkosaan dan lima kasus percobaan pemerkosaan di tempat penampungan pengungsi ini.

“Kasus ini terjadi terutama karena nilai sosial kami atau pola pikir pria yang memandang tubuh perempuan bisa digunakan sebagi komoditas,” ungkap dokter Renu.  

Dokter Renu Adhikari adalah direktur Pusat Rehabilitasi Perempuan.

Timnya telah mengunjungi 11 distrik yang mengalami dampak gempa dan membantu perempuan agar terhindar dari kemungkinan aksi kekerasan.

Dia mengatakan gempa bumi menambah daftar panjang serangkaian kerentanan terhadap perempuan dan remaja perempuan.

“Para korban mengalami perasaan tertekan, frustrasi, dan merasa masa depan yang tidak pasti. Dalam situasi seperti ini orang selalu mencari cinta dan mencari lingkungan yang peduli. Dan orang yang ingin memakai kesepatan ini akan berpura-pura mereka penuh dengan cinta. Contohnya Rasuwa. Saya melihat wajah-wajah yang tidak dikenal menggoda gadis-gadis muda, dan menatap nanar para perempuan. Bila Anda bertanya siapa mereka dan apa yang mereka lakukan, mereka menjawab mereka mencoba untuk membantu para perempuan,” jelasnya.

Kembali ke kelas bela diri. Tashi Doma yang berusia 30 tahun bertanya soal cara melarikan diri.

Dia mengaku sangat membutuhkannya.

“Saya benar-benar ingin bisa lari. Di rumah, ipar saya memukuli saya, suami saya memukul saya. Hidup saya sangat menyakitkan. Tapi pelatihan ini memberi saya rasa percaya diri. Sekarang saya pikir saya bisa melindungi diri sendiri dan bisa pergi dari rumah sebelum saya cedera karena keluarga memukuli saya,” jelas Tashi.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!