Kashish yang berasal dari Mumbai sedang menari di atas pangung diiringi lagu lama Bollywood.

Dia adalah anggota kelompok ‘Dancing Queens’ sebuah kelompok tari ternama di India yang semua anggotanya adalah transgender.

Dia mengaku pernah ganti profesi menjadi resepsionis tapi merasa tidak diterima di tempat baru.

“Orang-orang di kantor terus memandangi saya sehingga saya jadi tidak nyaman. Banyak dari mereka yang mencoba menggoda saya. Saya tidak bisa bekerja dan terpaksa mengundurkan diri dalam sebulan. Saya sangat takut,” kisah Kashish.

Harsha adalah penampil berikutnya yang hadir di Konferensi Nasional Transgender India Ketiga.

Acara ini disponsori LSM yang berbasis di New Delhi, India HIV/Aids Alliance.

Hampir 350 orang dari komunitas transgender berkumpul di sebuah hotel bintang lima di kota New Delhi membahas masalah-masalah yang mereka hadapi.

Dia mengaku masalahnya adalah keluarga.

“Keluarga tidak menerima keadaan saya. Padahal saya juga manusia. Saya sangat ingin orangtua mau menerima saya apa adanya,” pinta Harsha.

Mahkamah Agung India mengeluarkan keputusan pada April 2014 yang menyatakan para  transgender bisa mengidentifikasikan diri mereka sebagai gender ketiga dalam dokumen resmi.

Ambalika Roy adalah salah satu pengacara yang terlibat dalam kasus itu.

Dia mengatakan meski keputusan itu penting tapi tidak menghentikan sikap prasangka terhadap komunitas ini.

“Anda lihat, UU tidak bisa mengubah pola pikir masyarakat. Itu hanya senjata untuk membantu masyarakat mengakses hak-hak mereka. Anda putus sekolah karena Anda tidak mendapatkan semacam perlindungan yang dibutuhkan karena Anda berbeda. Anda tidak bisa bekerja dengan aman karena tidak ada aturan soal pelecehan seksual di tempat kerja. Aturan ini  seharusnya memberi semacam perlindungan sehingga Anda tidak masuk kedalam perangkap pelecehan dan diskriminasi terus menerus; Negara wajib melakukannya,” jelas Ambalika.

Majelis Tinggi Parlemen India telah mengesahkan RUU yang akan menciptakan sistem kuota bagi komunitas transgender dalam sistem pendidikan dan beberapa profesi.

Aturan itu juga menyediakan bantuan keuangan bagi transgender yang membutuhkan.

Tapi RUU ini belum dibicarakan dan disahkan Majelis Rendah.

Para pemimpin komunitas transgender meminta masyarakat untuk mendesak anggota parlemen menyetujui RUU itu.

Abhina Aher, seorang aktivis transgender memandang RUU ini sangat penting.

“LSM adalah satu-satunya ruang tempat transgender bisa direkrut jadi staf. Ini tidak benar. Saya ingin transgender bisa bekerja di media, mewawancarai saya atau jadi tukang karcis. Mengapa transgender yang mengemis dekat lampu lalu lintas tidak diberi tugas menjadi pengawas rambu-rambu? Pemerintah harus sadar, bila transgender tidak diberi kesempatan dan keistimewaan, komunitas ini tidak akan pernah mendapatkan kesetaraan,” kata Abhina.

Laxmi Narayan Tripathi, seorang artis transgender ternama, mengatakan ini waktunya perubahan.

“Kami tetap berjuang meski sudah ada keputusan dari Mahkamah Agung. Jika kita tidak melakukan apa-apa saat ini, komunitas kami akan tetap jadi pengemis di jalanan 200 tahun kedepan. Dan generasi masa depan kami terpaksa menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang,” kata Laxmi.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!