Warga Pakistan membasahi diri untuk menguragi rasa panas akibat gelombang panas. (Foto: Naeem Sahout

Warga Pakistan membasahi diri untuk menguragi rasa panas akibat gelombang panas. (Foto: Naeem Sahoutara)

Pagi ini sangat panas.

Allah Dino membawa ayahnya yang berusia 60 tahun ke unit gawat darurat rumah sakit. Ayahnya setengah tidak sadar dan sulit bernafas.

“Ayah saya terkena gelombang panas dan mengalami kesulitan bernafas,” kata Allah Dino

200 tempat tidur di Rumah Sakit Postgraduate Jinnah sudah penuh. Unit traumanya juga melebihi kapasitas.

Paramedis kebingungan mau memprioritaskan pasien yang mana.

Setelah 10 menit, seorang perawat mengecek denyut nadi ayah dari Allah Dino. Tak lama kemudian perawat itu melambaikan tangannya mengumumkan kalau ayahnya sudah meninggal.

Di salah satu sudut rumah sakit, ada dua jenazah pria difabel.
 
Dokter Seemin Jamali adalah kepala Trauma Center.

“Penyebab kematian adalah serangan hawa panas dan kelelahan. Mereka dibawa kemari dalam keadaan tidak sadar dan denyut nadi lemah,” jelas Dr. Seemin.

Musim panas di Karachi biasanya baru terasa malam hari. Angin laut yang sejuk membuat malam terasa menyenangkan.

Namun, tahun ini tidak ada angin dan cuaca sangat panas. Dan juga ini adalah bulan Ramadhan dimana umat Islam menjalani ibadah puasa.

Dr. Seemin Jamali mengatakan masyarakat harus banyak minum.

“Saya menyarankan orang-orang untuk tidak berpergian keluar rumah jika tidak diperlukan. Hindari berolahraga, gunakan pakaian longgar dan berbahan katun, memakai payung dan topi jerami agar bisa bertahan dari gelombang panas ini. Warga harus cukup minum dan tetap tinggal dalam ruangan.”

Tentara juga telah mendirikan pos bantuan khusus menghadapi gelombang panas di jalan-jalan. Di Pos itu mereka membagikan handuk basah yang mencelupkan dalam air es.

Sebagian besar kematian terjadi di daerah kumuh yang padat, di mana pasokan listrik terputus selama berjam-jam setiap kali.

Muhammad Bilal adalah penanggung jawab kamar mayat terbesar di kota itu, yang dikelola Yayasan Kesejahteraan Edhi.

“Kemarin malam, kami umumkan agar masyarakat tidak lagi membawa jenazah kemari karena ruangan yang ada sudah tidak cukup.  Saat ini kami hanya menyediakan peti, memandikan mayat dan mengembalikannya ke keluarga,” tutur Muhammad Bilal.

Ahli meteorologi Muhammad Haneef mengungkapkan ini adalah tanda-tanda pemanasan global.

“Pola cuaca berubah total di Pakistan. 20 tahun lalu musim gugur di negara ini berlangsung selama maksimal 150 hari. Tapi sekarang bisa berlangsung selama 180 hari. Jadi pola musim dingin dan musim panas telah berubah. Perubahan ini menyebabkan cuaca ekstrim seperti gelombang panas yang parah dan gelombang dingin, banjir, dan tornado. Perubahan pola ini meningkatkan frekuensi bencana alam itu.”

Pada 2010, banjir besar meluluhlantakan sepertiga lahan pertanian Pakistan, selain menewaskan puluhan orang dan menghancurkan banyak sekali rumah.

Salah satu faktor yang bertanggung jawab atas perubahan cepat pola cuaca adalah meningkatnya penebangan hutan. Tingkat penggundulan hutan di Pakistan merupakan yang tertinggi di Asia Selatan.

Muhammad Haneef mengatakan jika mereka tidak melindungi lingkungan, semuanya akan bertambah parah.

“Melihat tren penggundulan hutan yang sedang berlangsung, polusi serta urbanisasi, tampaknya makin banyak bencana yang akan terjadi di berbagai wilayah negara ini, dengan intensitas lebih di masa depan,” tambah Muhammad Haneef.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!