Akira Kaneko Pejuang Antimalaria

Setiap tahun, 220 juta orang terkena malaria dan 800 ribu diantaranya meninggal dunia - kebanyakan balita.

Senin, 12 Jun 2017 09:10 WIB

Profesor Akira Kaneko. (Foto: Ric Wasserman)

Profesor Akira Kaneko. (Foto: Ric Wasserman)

Malaria adalah salah satu penyakit mematikan di dunia. Setiap tahun, 220 juta orang terkena malaria dan 800 ribu diantaranya meninggal dunia - kebanyakan balita.

Profesor Akira Kaneko asal Jepang mengambil langkah berani untuk membasmi penyakit ini sejak 30 tahun silam. Dan dia berhasil.

Kita simak laporan lengkapnya yang disusun Ric Wasserman berikut ini.

Mesin laboratorium berputar menyortir dan mengkategorikan contoh darah.

Kami sedang berada di Departemen Riset Malaria Karolinska di Swedia. Di sinilah Profesor Akira Kaneko dari Kesehatan Global menghabiskan hari-harinya.

Sejak 1987, dia telah mengabdikan hidupnya untuk mengakhiri malaria.

Saya bertemu Profesor Kaneko dan timnya di laboratorium.

Perjalanan Profesor Kaneko dimulai saat masih peneliti muda. Saat itu Organisasi Kesehatan Dunia WHO minta dia untuk mempelajari malaria di Vanuatu, sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan.

“Sebenarnya saat itu saya tidak tahu Vanuatu ada di mana. Tapi saat melihat peta mencari posisi pulau kecil ini, saya langsung tertarik,” kenang Profesor Kaneko.

Setelah empat tahun berada di Pulau Aneityum, Vanuatu, Profesor Kaneko menyadari ada beberapa kunci untuk melawan malaria.

“Strategi sangat penting juga keterlibatan masyarakat. Rasa memiliki masyarakat terhadap masalah ini juga sangat penting.

Meski kelihatannya mustahil, 25 tahun lalu, dia berhasil menghilangkan malaria di pulau Aneityum.

Dengan bantuan pemimpin masyarakat, mereka membagikan obat-obatan dan kelambu. Akhirnya tidak satu pun dari 718 penduduk pulau itu punya parasit malaria dalam darah mereka. Ini menghentikan siklus infeksi penyakit itu.

Keberhasilan itu membawanya kepada tugas yang lebih menakutkan: menghilangkan malaria di Afrika.

Kaneko sekarang membagi waktunya antara laboratorium di Swedia dan negara-negara endemi malaria.

Sebuah film dokumenter Swedia menggambarkan salah satu dari sekian banyak perjalanannya.

Kaneko berjalan menembus rumput tinggi di pedesaan Uganda menuju rumah seorang anak kecil yang demam tinggi.

Penduduk desa dengan cepat tahu kapan seorang anak menderita malaria. Mereka pernah melihat gejala mual dan demam beberapa kali sebelumnya.

Tapi yang mereka tidak tahu adalah banyak dari mereka yang membawa penyakit ini dan menyebarkannya tanpa disadari.

Kaneko mengatakan ini adalah masalah besar. “Seringkali program malaria tidak terlihat: sebuah isu yang tak terlihat. Karena banyak orang punya malaria tanpa gejala.”

Sesuatu yang sederhana seperti kelambu bisa mejauhkan nyamuk dan menyelamatkan nyawa masyarakat. Tapi di beberapa komunitas miskin, kelambu ini digunakan untuk menjaring ikan.

Itulah mengapa kesadaran masyarakat sangat penting.

Di sebuah desa di Uganda, anggota kelompok teater berdandan seperti nyamuk. Mereka terlihat mengancam dengan kontum bergaris kuning dan hitam. Tiga lainnya memakai konstum kelambu. 

Kemudian terjadilah pergulatan. Karakter kelambu berhasil mengalahkan nyamuk.

Pesannya jelas. Kelambu melambangkan keamanan, terutama di malam hari, saat nyamuk malaria sering menyerang.

Kembali ke laboratorium di Swedia. Profesor Mats Walhgren, yang mengepalai unit penelitian malaria, mengatakan di antara kesuksesan ada tantangan baru.

“Penyebaran malaria sudah menurun dalam 15 tahun terakhir. Sekitar 50 persen. Tapi situasinya sekarang lebih kompleks. Misalnya di Asia. Di Kamboja ada resistensi yang berkembang terhadap obat terbaik dan satu-satunya yang manjur di sana, Artemisinin,” jelas Mats Wahlgren.

Bila Profesor Kaneko terjun ke komunitas lokal, peneliti Daisy Hjälmqvist adalah bagian dari generasi baru ilmuwan yang melakukan peran mereka di laboratorium.

“Proyek saya sebagian besar soal kerusakan dan perbaikan DNA. Karena saya sangat ingin memahami resistansi obat yang saat ini terjadi di Asia Tenggara,” kata Daisy Hjälmqvist.

Dia berharap ada lebih banyak kerjasama antara ilmuwan di seluruh dunia sehingga mereka bisa menghilangkan malaria untuk selamanya.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau