Polusi udara di Beijing. (Foto: Mark Godfrey)

Polusi udara di Beijing. (Foto: Mark Godfrey)

Sebagai penghasil karbon terbesar di dunia, Tiongkok banyak dipuji karena bergabung dengan kesepakatan Paris soal perubahan iklim.

Negara itu kini tengah berupaya memenuhi janjinya. Salah satunya dengan menyusun rencana perdagangan emisi karbon nasional tahun ini.

Tapi mereka juga berusaha menghindari beberapa masalah dalam sistem perdagangan ini yang awalnya dibuat oleh Uni Eropa.

Kita simak laporan yang disusun koresponden Asia Calling KBR, Mark Godfrey berikut ini.

Environmental Exchange Beijing adalah salah satu proyek percontohan yang saat diterapkan di seluruh Tiongkok. Proyek ini akan memberikan sertifikat perdagangan emisi kepada perusahaan yang bisa mengurangi produksi karbon mereka.

Proyek ini diawasi ketat oleh Aki Kachi. Dia adalah direktur kebijakan internasional di Carbon Market Watch, sebuah badan penelitian internasional.

“Kami memperluas pilihan negara yang punya beragam sistem perdagangan. Sistem pertama diterapkan di Eropa, lalu diikuti Selandia Baru, California, Quebec, serta Tokyo. Yang terbaru adalah Korea Selatan dan Tiongkok. Proyek ini diharapkan nantinya bisa diberlakukan secara nasional di Tiongkok,” papar Aki Kachi.

Proyek ini adalah bagian dari sistem perdagangan karbon. Dalam skema ini, negara membatasi jumlah karbon yang boleh dihasilkan perusahaan dan memperdagangkannya.

Negara dengan emisi karbon lebih tinggi, bisa membeli hak untuk melepaskan lebih banyak karbon ke atmosfer. Hak ini dibeli dari negara-negara yang punya emisi karbon lebih rendah.

Kesepakatan perubahan iklim Paris yang ditandatangani para kepala negara akhir tahun lalu, merupakan salah satu cara untuk mengurangi gas rumah kaca. Dan sistem ini yang sedang diuji coba di Tiongkok.

“Paris menjadi penting karena mengirimkan sinyal jangka panjang kepada pemerintah dan industri, kalau pasar karbon merupakan cara pengurangan yang layak punya masa depan,“ jelas Dr Luke Redmond, salah satu negosiator Uni Eropa di Paris.

Tapi tidak semua negara berkembang setuju dengan model pasar ini.

“Banyak negara berkembang merasa mereka harusnya bisa mengembangkan ekonomi mereka dan mendapatkan dana dari negara maju, yang mereka lihat sebagai penyebab masalah ini. Mereka melihat pasar karbon sebagai cara negara maju untuk lari dari tanggung jawab,” kata Luke Redmond.

Tapi ikut sertanya Tiongkok dalam kesepakatan, membuat pembatasan dan sistem perdagangan menjadi pusat solusi atas perubahan iklim.

Andrei Marcu adalah pendiri Asosiasi Perdagangan Emisi Internasional sekaligus penasehat Tiongkok. Organisasinya mempromosikan suara-suara dalam pasar dan perdagangan karbon .

“Tiongkok  adalah kekuatan besar dan bagian dari komunitas bisnis global. Negara ini tidak bisa mengabaikan apa yang orang lain lakukan. Dan karena mitra dagangnya, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Uni Eropa sudah memberlakukannya. Tiongkok harus menunjukkan upaya sebanding dan cara yang paling sederhana adalah lewat harga karbon,” kata Marcu.

Tapi meski Tiongkok sudah terdaftar dalam pendekatan perdagangan emisi, ada masalah besar yang harus diatasi.

Tantangan terbesar adalah harga karbon yang dibayarkan harus cukup tinggi. Tujuannya agar perusahaan mau berinvestasi untuk mengurangi emisi mereka.

Di Uni Eropa, kelebihan izin pasokan emisi karbon telah menjatuhkan harga. Ini menyebabkan insentif untuk pengurangan emisi lebih kecil.

“Terjadi krisis ekonomi dan penurunan ekonomi yang menyebabkan pengurangan emisi. Sudah ditetapkannya jumlah tunjangan emisi dan kurangnya permintaan mengakibatkan harga jatuh. Ini tidak lagi memberikan insentif nyata untuk mengurangi emisi,“ kata Aki Kachi, direktur kebijakan internasional di Carbon Market Watch. 

Meski Tiongkok perlu belajar dari kesalahan Eropa, keberhasilan sistem perdagangan emisi negara ini bisa menjadi model perdagangan karbon secara keseluruhan kata Kachi.

“Menurut saya percontohan ini berjalan sukses. Sejauh ini Tiongkok adalah penghasil terbesar gas rumah kaca. Jika Tiongkok bisa berhasil maka akan jadi teladan bagi negara-negara berkembang lainnya.”

Tiongkok tengah bersiap untuk melakukan perdagangan karbon nasional musim panas ini. Dan ini membuat semua mata tertuju pada mereka untuk melihat apakah proyek itu bisa berjalan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!