Spanduk Tolak Reklamasi di Nusa Lembongan Bali. (Foto: Ania Anderst)

Spanduk Tolak Reklamasi di Nusa Lembongan Bali. (Foto: Ania Anderst)

Bali sudah lama menjadi surga bagi para wisatawan. Tapi ini berimbas pada pembangunan besar-besaran di sana. Dan menurut penduduk lokal ini sudah sangat berlebihan

Ini menjadi jantung perjuangan Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Warga Bali memanfaatkan seni dan musik untuk menghentikan proyek pengembangan pariwisata yang paling ambisius yang pernah ada.

Nicole Curby menyusun laporannya dari Bali.

Musisi Bali tidak selalu berpolitik.

Tapi berita soal pembangunan di tempat yang dulunya adalah daerah konservasi, telah membangkitkan musisi dan seniman pulau itu dalam cara yang berbeda.

Lagu ini dibawakan Nosstress, yang terinspirasi oleh gerakan Tolak Reklamasi.

Jika proyek itu berjalan, 700 hektar Teluk Benoa di selatan Bali, akan direklamasi. Ini nantinya akan menjadi serangkaian pulau buatan, lengkap dengan resor, pusat perbelanjaan, taman hiburan, dan apartemen mewah.

“Mereka akan menaruh budaya di pulau itu, tapi budaya plastik. Kita punya budaya sesungguhnya, entah itu bangunannya, orangnya. Mereka menaruh yang seperti itu di sana, buatan jadinya. Mereka menunjukkan, ini Bali sudah ada di sini semuanya, seperti Walt Disney,” kata Copok, vokalis dan gitaris Band Bali bernama Bulhead.


Sejak proyek itu pertama kali disetujui oleh pemerintah Indonesia pada Desember 2012, sebuah gerakan massa pun muncul.

Di seluruh pulau, spanduk-spanduk digantung di persimpangan dan sudut jalan. Isinya menyerukan agar warga Bali menolak reklamasi

Demonstrasi juga dilakukan di jalan-jalan. Konser musik dan acara seni diadakan untuk berkampanye. Dan kini sedang dibuat sebuah album yang berisi lagu-lagu protes yang dinyanyikan oleh anak-anak di sana.

Copok mengatakan masyarakat mesti memahami apa artinya pembangunan. “Jadi gerakan ini pure untuk menyelamatkan rumah kamu dari kehancuran sebenarnya. Bukan yang kamu lihat, mereka janjikan. Mereka menjanjikan surga, padahal sebenarnya surga yang membuat sekelilingnya jadi neraka.”

Untuk tahu lebih banyak, saya berkunjung ke Taman Baca, yang merupakan gabungan taman permakultur, perpustakaan dan kafe. Tempatnya jauh dari keramaian dan hiruk pikuk, dan menjadi tempat nongkrong orang-orang yang berada dibalik gerakan Tolak Reklamasi.

“Orang menggunakan seni untuk bergerak dan melawan pemerintah, dan investor. Kami membuat acara seni atau menggambar mural. Dan kaum muda yang awalnya tidak tahu soal ini, jadi tertarik. Itu sebabnya gerakan ini terus tumbuh,” tutur Adi Apriyanta Parma, seorang mahasiswa dan aktivis asal Bali.

Dia dan banyak orang lain membayangkan masa depan yang berbeda untuk Bali. Tempat dimana pembangunan yang berlebihan tidak bisa berlangsung selamanya.

Ketut Putra, wakil presiden Conservation International Indonesia, menjelaskan pembangunan seperti apa yang mereka inginkan.

“Kami sebagai orang Bali tidak menolak pembangunan. Kami cinta pembangunan. Tapi kami perlu merancang pembangunan yang kami inginkan, agar tidak berdampak atau dampaknya minimal pada lingkungan atau budaya kami,” tegas Ketut Putra.


Pengembang di balik proyek ini adalah Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI), yang dikendalikan oleh pengusaha ternama, Tommy Winata.

Perusahaan ini berjanji kalau proyek itu akan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan peka pada budaya pulau itu. Di sana setidaknya ada 70 situs suci agama Hindu.

Tapi dampak lingkungan dari pembangunan pulau buatan, kata Ketut, akan menghancurkan.

“Dari sisi perikanan misalnya, reklamasi berpotensi mengurangi atau bahkan mengubah seluruh habitat pesisir bagi 80 persen spesies laut yang dimiliki Bali. Karena Teluk Benoa merupakan tempat pembibitan atau siklus reproduksi bagi spesies laut.”

Sejak gerakan Tolak Reklamasi mulai dikenal, musisi seperti Sony Bono dari band Nymphea diperingatkan polisi untuk tidak menyebut-nyebut soal ini saat manggung.

Pihak berwenang bahkan mencoba untuk mengontrol isu soal ini. Misalnya dengan melarang acara diskusi tentang proyek ini di sebuah acara internasional dan memukuli para demonstran yang melakukan aksi damai.

Tapi Sony menolak untuk diintimidasi.

“Di Bali ada slogan umum ‘koh ngomong’. Artinya ‘saya tidak mau membicarakannya’. Ini menjadi kebiasaan kami dan ini yang kami ingin dobrak. Jadi mungkin jika kami menggunakan bahasa kami dan musik, kami bisa menghentikan kebiasaan itu," tekad Sony.

Aksi protes sebagian besar didukung kaum muda Bali. Sementara generasi yang lebih tua enggan bersuara.

Ini alasannya menurut Adi Apriyanta Parma. 

“Peristiwa 65 adalah alasan mengapa para orang tua diam dengan langkah pemerintah. Mereka tidak ingin melawan pemerintah. Semua yang pemerintah katakan akan diiyakan. Mereka takut sejarah akan berulang. Tapi orang-orang muda yang mencoba untuk melawan.”


Meski begitu, perubahan yang ditunggu-tunggu datang lebih awal tahun ini yaitu mulai banyaknya generasi tua yang terlibat dalam kampanye. Bahkan seluruh desa juga ikut serta.

Kampanye ini sudah memasuki tahun keempat. Warga Bali menekan presiden Jokowi untuk segera campur tangan dan menghentikan proyek ini.

Jika Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang saat ini sedang dikaji, diterima, maka pembangunan akan mendapat lampu hijau.

Banyak yang setuju ini merupakan tahun kegagalan bagi masa depan Bali.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!