Beberapa perusahaan IT-BPO di Filipina. (Foto: Ariel Carlos)

Beberapa perusahaan IT-BPO di Filipina. (Foto: Ariel Carlos)

Filipina adalah ibu kota call center dunia. Industri bernilai 300 triliun rupiah ini memperkerjakan 1,2 juta orang Filipina.

Tapi seperti yang dilaporkan Jofelle Tesorio dan Ariel Carlos, industri ini mungkin sudah mencapai titik jenuh.

Beginilah suasana sebuah call center di Manila pada malam hari.

Seorang petugas dengan sabar memberi masukan kepada seorang pelanggan Amerika mengenai asuransi mobil.

Dia adalah satu dari 1,2 juta warga Filipina yang bekerja di sektor bisnis alih daya IT, IT-BPO.

Selama tujuh tahun terakhir, Maria Aguilar, bekerja untuk sebuah perusahaan milik Amerika. “Jadwal kami dirotasi. Kadang saya masuk malam dan kadang siang, dari pukul 1 siang sampai 10 malam.”

Karena sebagian besar pelanggannya dari Barat, jadwal reguler mulai dari pukul 9 malam sampai 6 pagi.

Pekerjaan di industri ini bervariasi, mulai dari membuat dan menerima panggilan, membuat animasi dan jasa akuntansi.

“Pelanggan kami kebanyakan berurusan dengan teknik, listrik, dan berbagai jenis barang mekanik,” kata Jaren Atrero yang bekerja untuk sebuah perusahaan Kanada.

Industri IT-BPO menghasilkan 300 triliun rupiah pada 2015. Angka ini berada di bawah pengiriman uang dari warga Filipina di luar negeri, yang bernilai lebih dari 350 triliun rupiah.

Leian Marasigan adalah spesialis penelitian di Universitas Filipina. Dia sedang menyelesaikan PhD-nya di Universitas Amsterdam dengan mendalami jalur karir karyawan di industri ini. 

“Layanan utama yang disediakan masih pekerjaan berbasis suara, seperti call centerdan contact center pekerjaan. Lalu juga ada layanan transkripsi manajemen kesehatan, yang jasanya digunakan cukup banyakperusahaan,” papar Leian Marasigan.

Filipina disebut 'ibu kota call center dunia’, setelah menyalip India empat tahun lalu.

Kemampuan bahasa Inggris orang Filipina dan mudahnya memahami budaya Barat menjadikan negara ini tujuan yang menarik.

Tapi bekerja di call center bisa membuat stres, kata Joel Contrivida.

“Kami menerima banyak pelanggan yang marah. Ketika mereka menerima barang, ada yang cacat, tidak lengkap atau bahkan hilang. Kalau seperti ini, pelanggan akan menelpon kami dalam keadaan marah. Jadi sebagian besar dari kami mencoba untuk mendengarkan mereka dulu,” kata Joel.

Meski bekerja di malam hari dan menghadapi penelepon yang kasar, Joel mengatakan gaji dan tunjangan yang diterimanya sangat layak.

Dan pekerjaan call center bisa dilakukan di rumah.

Chini Decujos melakukan survei lewat telepon untuk sebuah perusahaan Kanada.

“Menurut saya ini jadi jawaban bagi pengangguran terutama para ibu. Saya bukan seorang ibu tapi jika saya meletakkannya dalam konteks di mana seorang ibu harus bekerja sekaligus menjaga anak-anaknya, maka ini bisa jadi solusi,” jelas Chini Decujos. 

Chini dibayar 60 ribu rupiah per jam, tidak jauh berbeda dengan upah minimum harian lokal. Sedangkan gaji awal rata-rata untuk pekerjaan IT-BPO adalah enam juta rupiah per bulan.

Namun, industri alih daya ini banyak dikritik lantaran memindahkan pekerjaan ke negara-negara ber-upah rendah seperti Filipina dan India demi menghemat biaya.

 “Perusahaan multinasional misalnya di AS, Kanada atau Swiss pergi ke Filipina untuk mempekerjakan tenaga kerja lokal karena lebih murah. Tapi jika Anda bandingankan dengan aturan di dalam negeri, gaji yang mereka berikan lebih tinggi. Jadi tidak ada eksploitasi sama sekali,” bela bekas karyawan dan sekarang agen asuransi, Ely Valendez.

Dengan jumlah lulusan mencapai satu juta orang per tahun dan angka pengangguran sekitar 6,6 persen, industri IT-BPO menyediakan pekerjaan yang sangat dibutuhkan orang Filipina.

Kembali akademisi, Leian Marasigan. “Ada banyak peluang di sektor BPO yang terbuka bagi banyak pekerja di Filipina. Baik bagi pengangguran atau yang baru lulus sekolah.”

Dr Jana Kliebert juga melakukan penelitian PhD-nya di sektor yang sama di Universitas Amsterdam.

“Jika Anda melihat di luar itu, sebagian besar perusahaan-perusahaan di sektor ini adalah perusahaan offshore milik asing sehingga keuntungan yang mereka peroleh belum tentu diinvestasikan kembali di Filipina,” kata Jana Kliebert

Jana mengatakan, dukungan lebih besar justru dibutuhkan oleh pengusaha kecil dan menengah di dalam negeri yang bisa mengekspor jasa ke pasar global.

Dan dalam jangka panjang, warga Filipina dengan pendidikan yang lebih tinggi bisa mengambil peran manajemen.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!