Gambar Rodrigo Duterte saat kampanye Pilpres. (Foto: FB Rodrigo Duterte)

Gambar Rodrigo Duterte saat kampanye Pilpres. (Foto: FB Rodrigo Duterte)

Pada 30 Juni nanti, Rodrigo Duterte akan dilantik sebagai Presiden Filipina yang baru, menggantikan Benigno Aquino.

Dia berjanji akan memberantas korupsi dan kejahatan dalam waktu enam bulan menjabat.

Presiden berusia 71 tahun yang kerap menimbulkan kontroversial ini juga ingin memberlakukan kembali hukuman mati. Selain itu dia ingin memberikan pemakaman layaknya pahlawan pada bekas diktator, Ferdinand Marcos.

Seperti yang dilaporkan Jofelle Tesorio dan Ariel Carlos, ada banyak harapan tapi juga ketidakpastian soal apa yang akan dibawa Duterte.

“Seperti yang sudah saya katakan, ‘jika Anda menghancurkan negara saya, saya akan bunuh Anda. Jika Anda menghancurkan kaum muda negara ini, saya akan bunuh Anda,” tegas Presiden Filipina terpilih Rodrigo Duterte, saat pulang kampung ke Davao awal bulan ini. 

Warga yang datang bersorak saat dia berpidato soal perlunya membasmi peredaran obat-obatan, kejahan dan korupsi.

“Jangan ragu untuk menghubungi kami, polisi atau Anda bisa lakukan sendiri kalau punya senjata. Saya mendukung tindakan Anda,” katanya.

Selama kampanye pemilihan presiden, Duterte membuat kontroversi dengan mengeluarkan pernyataan soal hubungan diplomasi, pemerkosaan dan kebebasan pers.

Dia juga mengatakan akan memberikan hadiah pada siapa saja yang membunuh pengedar narkoba.

Tapi apakah pendekatan ini bisa dia gunakan di parlemen, itu masih jadi pertanyaan kata jurnalis, Redempto Anda.

“Isu soal hadiah ini sangat berbahaya. Menurut saya dia akan punya banyak masalah dengan kongres soal ini. Karena menyatakan perang terhadap kejahatan tidak akan berhasil. Contohnya di Kolombia atau Amerika Serikat. Di Davao, langkah ini diklaim berhasil tapi kalau anda lihat lebih dalam, ini masih bisa diperdebatkan,” kata Redempto.

Banyak warga Filipina yang takut dengan aksi kejatan terutama yang terkait peredaran narkotika.

Duterte mengklaim berhasil menumpas kejahatan saat menjadi Walikota Davao. Tapi dia juga membantu para penjahat yang melakukan pembunuhan di luar pengadilan.

“Dia berjanji bunuh...bunuh...bunuh... Anda tidak bisa membenarkan yang salah dengan kesalahan lain. Saya tidak mendukung pembunuhan di luar pengadilan. Kita punya konstitusi. Kita harus menghentikan kejahatan, pengedaran narkotika dan korupsi di negara ini. Tapi itu harusnya lewat proses pendidikan yang panjang,” kata Aktivis masyarakat sipil, Jane Timbancaya-Urbanek.

Tapi bagi pendukungnya, Duterte dianggap seperti Mesias yang bisa memecahkan masalah yang mengerogoti Filipina.

Ini menurut Jane alasannya. “Banyak warga Filipina yang mencari penyelamat. Mereka pikir orang seperti Duterte benar-benar bisa menghentikan korupsi, penyebaran narkotika dan menghentikan kejahatan dalam waktu tiga hingga enam bulan. Tidak ada yang pernah berjanji seperti itu. Dan masyarakat yang kecewa dan tak berdaya menaruhkan banyak harapan ke pundak Duterte.” 

Mereka juga khawatir kalau Duterte bisa membuat perpecahan politik. 

Tak lama setelah terpilih, Dueterte memilih untuk memisah acara pelantikannya dengan  pelantikan wakil presiden terpilih, Leni Robredo. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya di Filipina.

Duterte juga tidak akan memberi Robredo posisi di kabinet, padahal sebelumnya wakil presiden akan mendapat posisi tanpa memperhatikan afiliasi partai.

Ini alasan Duterte: “Saya tidak berjanji... Anda tahu mengapa? … Bongbong Marcos. Saya tidak ingin menyakiti dia. Leni harus paham kalau dia ada di sisi yang berseberangan.”

Bongbong, putra diktator Ferdinand Marcos, kalah tipis dari Leni Robredo.

Duterte ingin memberi posisi di kabinet pada Bongbong setelah larangan menjabat selama satu tahun pada calon yang kalah, berakhir.

Tapi ada yang menyebut kalau hubungan Duterte dan keluarga Marcos adalah masalah lain. 

Kembali jurnalis Redempto Anda. “Dia terlihat nyaman dengan keluarga Marcos tapi dia tidak terbuka soal ini.”

Saat darurat militer diberlakukan di masa Marcos, banyak terjadi kasus pembunuhan, penghilangan paksa dan penyiksaan. Tapi Duterte berjanji akan memberi ayah Bongbong penghormatan layaknya seorang pahlawan. Langkah ini bisa menyebabkan kemarahan rakyat.

Kebijakan politik luar negeri, salah satunya masalah sengketa laut Cina Selatan, akan menjadi ujian besar bagi Duterte.

Keputusan kunci soal masalah ini akan dikeluarkan Pengadilan Permanen Arbitrase di Den Haag Belanda sekitar akhir bulan ini.

Meski ada banyak kekhawatiran, 16 juta warga Filipina yang memilih Duterte yakin dia punya semua yang dibutuhkan.

“Karakternya jujur. Dia mengatakan apa yang ingin dia katakan, tidak ada rahasia. Dia mengatakan apa yang dia ingin lakukan untuk negeri ini. Saya percaya ini adalah contoh sempurna seorang presiden yang mampu menepati janjinya,” kata karyawan swasta bernama Jaren Artero. 

Duterte akan dilantik dalam sebuah upacara sederhana di istana presiden dalam beberapa hari mendatang.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!