Negin Khpalwak, perempuan pertama yang pemimpin orkestra di Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Negin Khpalwak, perempuan pertama yang pemimpin orkestra di Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Afghanistan kaya dengan budaya musik. Tapi ini bukan wilayah yang mudah digeluti oleh perempuan setempat. 

Negin Khpalwak, 18 tahun, tahu benar soal itu.

Demi mewujudkan cita-citanya dalam bermusik, Negin harus menghadapi permusuhan dan ancaman bahkan dari keluarganya sendiri. Ghayor Waziri mengikuti perjuangannya dalam kisah berikut. 

Di Institut Musik Nasional Afghanistan di Kabul, puluhan perempuan muda sedang berlatih musik.

Suara biola, piano, trompet dan rubab - sejenis alat musik kecapi dari Afghanistan tengah -  terdengar memenuhi ruangan.

Tidak mudah bagi perempuan untuk bisa diterima di sini kata Negin Khpalwak yang berusia 18 tahun.

“Saya datang ke Kabul karena perempuan di Kunar tidak boleh bersekolah. Jadi ayah membawa saya kemari agar bisa sekolah. Tapi saya tidak pernah bermimpi bisa bermain musik. Tapi di sini saya memimpin orkestra dan bermain piano. Saya sangat menikmatinya,” kisah Negin.


Negin berasal dari sebuah keluarga besar yang tinggal di Kunar, sebuah terpencil di Afghanistan timur. Tidak ada satupun anggota keluarganya yang mendukung kecintaanya terhadap musik.

Karena bukan berasal dari keluarga kaya, Negin terpaksa tinggal di sebuah panti asuhan di Kabul. Selain ayahnya, semua anggota keluarga menentang keinginannya belajar musik.

“Saat saya lulus ujian masuk institut musik, pihak sekolah menelpon ibu saya. Tapi ibu saya sangat marah. Saya bilang ke ibu kalau ada salah paham. Saya diterima di sekolah sekolah swasta bukan sekolah musik,” kenang Negin.

Selama Taliban berkuasa, bermain musik itu dilarang. Dan kini larangan itu masih dipertahankan masyarakat Muslim yang konservatif.

Di Kunar, anak perempuan biasanya bersekolah selama lima tahun. Dan setelah itu, sebagian besar dari mereka akan dinikahkan di usia muda.

Tapi dengan bantuan ayahnya, Negin melawan kebiasaan itu. Selama bertahun-tahun dia berlatih musik secara diam-diam.

“Ayah saya menghadapi banyak tekanan dari keluarga, terutama paman, yang ingin saya berhenti belajar musik. Tapi ayah tidak pernah menghentikan saya. Dia juga menyukai musik dan saya sangat berterima kasih pada ayah.”

Setelah beberapa tahun berlatih dan belajar, Negin kini memimpin orkestra perempuan pertama di Afghanistan.

Orkestra ini beranggotakan 36 musisi perempuan yang memainkan alat musik tradisional dan modern.

Gurunya Fareed Shifta menjelaskan alasan Negin dipilih sebagai pemimpin.

“Dia salah satu murid yang paling aktif dan berbakat. Karena pengetahuan dan bakatnya, kami memutuskan untuk mempromosikan dia dan menjadikan dia pemimpin orkestra perempuan pertama di Afghanistan. Salah satu karyanya adalah lagu anak-anak. Lagu ini akan diputar di semua sekolah di Afghanistan,” papar Fareed,

Lirik lagu anak-anak ini ingin mempromosikan pendidikan bagi anak-anak Afghanistan.


Fekry Aziz,  belajar di institut musik yang sama. Dia mengaku sangat terkesan dengan cara Negin memimpin.

“Negin sangat santai dan tenang saat memimpin kami, jadi saya senang bekerja sama dengannya. Kami berharap di masa depan, kami punya lebih banyak pemimpin orkestra perempuan,” kata Fekri.

Negin mengaku senang bisa menunjukkan kemampuan perempuan Afghanistan kepada orang luar.

“Salah satu kenangan yang paling berkesan adalah tampil di Dubai, Turkmenistan dan negara-negara lain. Semua orang kagum karena Afghanistan punya orkestra dimana laki-laki dan perempuan bisa bermain bersama. Padahal masyarakatnya masih konservatif dan masih ada perang,” kata Negin. 

Tapi dia mengaku masih punya banyak rencana.

“Saya mau terus menjadi pemimpin dan pemain orkestra. Bahkan saya ingin mendapat gelar doktor di bidang musik. Lewat profesi ini saya ingin melayani Afghanistan dan membentuk orkestra nasional pertama negeri ini, seperti yang ada di negara lain,” tekad Negin. 

Di negara yang gerak perempuannya terbatas, kisah Negin Khpalwak ini menunjukkan ada kemungkinan lain.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!