(Dari kiri) Sabra Sultana, Musarat Misbah, Feryal Ali Gauhar, Ayesha Bux, Tasneem Chopra. (Foto: Jar

(Dari kiri) Sabra Sultana, Musarat Misbah, Feryal Ali Gauhar, Ayesha Bux, Tasneem Chopra. (Foto: Jarni Blakkarly)

Feryal Ali Gauhar mondar-mandir di atas panggung yang kosong. Sementara di belakangnya tampak perabotan rumah tangga mewah khas Pakistan.

Di atas panggung dia berkeluh kesah. Di malam-malam tertentu, dia duduk sendirian di rumah kosong ini di depan cermin. Dia akan melihat seorang istri, perempuan yang memiliki segalanya, sekaligus tidak punya apa-apa. Karena perempuan itu tidak bisa mengklaim dirinya sendiri dari orang yang mencurinya.

Selama hampir satu jam, dia membuat penonton terdiam menyaksikan monolognya, yang mewakili tiga benua dan kehidupan perempuan yang berbeda; ibu dan anak perempuan, orang kaya dan pekerja rumah tangga.

Semua karakter dalam pertunjukan ini berdasarkan kehidupan nyata dan memiliki tema yang sama yaitu kekerasan gender dan kekuasaan berada di tangan lelaki.

Sang tokoh juga bercerita pada sang ibu kalau suaminya berkata akan mencungkil matanya dan menjadikannya makanan burung. Dia takut tidak akan bisa melihat putri kecilnya lagi. Tapi dia tidak bisa menemukan jalan keluar. Sang suami akan membunuhnya.
 
Monolog ini merupakan bagian dari acara pengumpulkan dana untuk Yayasan Diplex Smile Again. Ini adalah sebuah organisasi yang melakukan operasi plastik gratis pada para korban serangan zat asam di Pakistan.

Selain seorang aktris dan penulis, Feryal juga adalah aktivis hak asasi manusia, ekonom politik dan Duta Goodwill PBB di Pakistan.

Dia menulis drama khusus untuk penggalangan dana yayasan  itu. Dia melihat teater merupakan media yang ampuh untuk menyampaikan pesan soal kekerasan gender.

“Ini adalah media yang sangat cepat. Bagi kebanyakan perempuan yang menonton, ini adalah pengalaman yang dekat dengan mereka. Dan perdebatan dengan pasangan dan dengan keluarga mereka dimulai dalam perjalanan pulang. Jadi setidaknya percakapan dimulai,” ujar Feryal.

Yayasan ini melakukan seratus operasi gratis setiap tahun bagi para korban serangan zat asam. Dimana setiap kali operasi menelan biaya sekitar Rp 8 juta.

Anggota komunitas Pakistan di Australia menawarkan untuk mengadakan acara pengumpulan dana untuk yayasan ini. Dari hasil menjual tiket, juga ada lelang pakaian desainer dan karya seni terkumpul dana lebih dari Rp 600 juta.

Pendiri organisasi itu Musarat Misbah adalah pengusaha perempuan Pakistan, pemilik jaringan salon kecantikan.

Dia mengatakan selain operasi plastik, organisasinya juga ingin meningkatkan kesadaran di masyarakat dan membantu perempuan korban menjalani hidup yang normal.

“Setelah sejumlah operasi, ketika mata bisa membuka dan anggota tubuh mulai bisa digerakkan, kami mulai melatih para gadis ini keterampilan tertentu. Tujuannya agar mereka bisa membaur dalam masyarakat dan bisa berkontribusi lagi kepada masyarakat,” kata Misbah.

Sabra Sultana, yang hadir dalam acara di Melbourne ini, adalah salah satu perempuan yang dibantu yayasan ini.

Pada usia 16 tahun, Sabra mengalami KDRT oleh suaminya karena mahar pernikahan dari keluarganya kurang. Suatu hari, saat dia tengah hamil tiga bulan anak pertamanya, sang suami menyiram wajahnya dengan zat asam.

Sabra bercerita pada saya kalau dia telah mengalami 35 kali operasi. Proses ini lama dan menyakitkan dan melibatkan pengangkatan kulit dari bagian tubuhnya yang lain untuk ditempel di wajahnya.

“Operasinya tuntas dalam waktu 10 sampai 15 tahun. Karena setelah setiap operasi Anda harus menunggu enam bulan. Terutama karena mata saya turun ke pipi, dan mulut bersatu dengan leher sehingga mulut saya tidak bisa terbuka. Hanya hanya bisa minum sedikit-sedikit. Saya terpaksa menunggu lama agar bisa meneguk segelas air. Semuanya butuh waktu sekitar 10 tahun,” kisah Sabra.

Selama bertahun-tahun setelah serangan itu, Sabra tidak mau bercermin. Meski keluarganya sangat mendukung, Sabra mengatakan situasinya lebih sulit bila berada dalam masyarakat luas.

“Saya tidak bisa bepergian di Pakistan tanpa menutupi wajah. Karena kalau tidak, orang-orang akan memperhatikan saya dan menyentuh saya secara fisik serta bertanya apa yang terjadi. Itu pertanyaan yang sangat langsung. Selain itu juga ada stigma kalau diri saya lah yang telah melakukan kesalahan dan ini adalah salah saya,” ungkap Sabra lagi.

Setelah mulai menjalani operasi yang dilakukan Yayasan Diplex, Sabra pertama dilatih sebagai ahli kecantikan. Sekarang dia menjadi koordinator pasien di yayasan itu untuk korban baru yang menjalani perawatan.

“Saya bisa berempati dan bersimpati pada mereka. Saya tahu persis dimana luka itu dan bagaimana rasa sakitnya. Saya katakan pada mereka kalau saya adalah cahaya di ujung terowongan dan bahwa ada jalan keluar.  Saya merasa ini adalah panggilan saya dan saya merasa senang,” tambahnya.
 
Meski serangan zat asam lebih banyak terjadi di Asia Selatan, penyelenggara acara juga ingin meningkatkan kesadaran soal KDRT di Australia dan menunjukkan kalau masalah ini saling terkait.

Tasneem Chopra adalah ketua Pusat Kajian Perempuan Muslim untuk Hak Asasi Manusia Australia.

Dia mengatakan kekerasan terhadap perempuan di Australia punya motivasi yang sama seperti di Pakistan.

“Kekerasan terhadap perempuan melampaui agama, ras dan hambatan budaya. Itu adalah pola pikir keji yang benar-benar kuat dalam lingkaran kekuasaan dan dominasi. Jadi kita melihat meski budaya dan caranya berbeda tapi hasil akhirnya selalu sama. Menghilangkan identitas dan kedaulatan perempuan dan memastikan kalau perempuan selalu menjadi korban. Selain itu juga cenderung menghapus kemampuan  perempuan dan mengubah dirinya menjadi milik laki-laki,” kata Tasneem.

Di Australia lebih dari satu perempuan dibunuh oleh pasangannya atau bekas pasangannya setiap minggu dan banyak yang menyebut angka KDRT di negara itu sebuah 'epidemi'.

KDRT adalah penyebab utama kematian dan cedera yang dapat dicegah perempuan Australia di bawah 45 tahun.

Tasneem mengatakan di Australia ada kecenderungan untuk melihat kekerasan terhadap perempuan di negara-negara berkembang secara berbeda dengan yang terjadi di negara ini.

“Di Australia, kami tidak membicarakannya sebagai masalah agama atau etnis. Kami hanya membahasnya sebagai kekerasan terhadap perempuan. Berbeda ketika kita membahas kekerasan terhadap perempuan di Pakistan, India, Bangladesh atau Timur Tengah. Kami melihatnya sebagai masalah budaya,” kata Tasneem lagi.
 
"Menurut saya, negara yang berbeda harus punya pendekatan yang berbeda, tapi hasil akhirnya sama yaitu mengubah perilaku laki-laki. Tapi ada kesamaan antara negara-negara Barat dan Timur yaitu budaya menyalahkan korban. Karena ketika ada berita soal serangan terhadap perempuan, baik itu pemerkosaan, kekerasan seksual atau fisik, masyarakat akan berpikir ‘apa yang perempuan itu lakukan, apakah dia yang memprovokasi? Itu pandangan yang salah. Tidak ada alasan untuk melakukan kekerasan.”
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!