Telepon Seluler Ubah Hidup Warga Afghanistan

Seiring jatuhnya Taliban pada 2001, telepon seluler mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-sehari 23 juta warga Afghanistan.

Senin, 08 Jun 2015 17:00 WIB

Pedagang telepon selular di Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Pedagang telepon selular di Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Sheer Nazar bisa menjual 20 telepon seluler per hari.

“Kebanyakan pembelinya anak muda. Mereka biasanya membeli i-phone dan galaxy,” jelasnya.

Menurut Bank Dunia, di Afghanistan hanya ada sekitar 60 ribu telepon kabel.

Kini pemerintah menyatakan ada sekitar 23 juta pelanggan telepon seluler.  Dan saat ini 80 persen wilayah negara itu sudah dijangkau jaringan telepon.

“80 persen daerah sudah dijangkau jaringan telepon seluler. Sejumlah besar pengguna internet online menggunakan telepon pintarnya,” kata Khair Muhammad Faizi, Deputi Otoritas Regulator Telekomunikasi.

Mahasiswi Zianab Mohammadi punya telepon pintar pertama kali empat tahun lalu.

“Saya sangat kaget dan senang. Saya menggunakannya untuk menyelesaikan masalah saya. Saya bisa menghubungi teman-teman dan dan mengirim pesan ketika rindu pada mereka. Saya juga menerima banyak pesan dari teman-teman. Ini menakjubkan. Saya sangat berterima kasih pada telepon selular saya,” ungkap Zianab Mohammadi.


Sektor telekomunikasi Afghanistan menarik investasi asing hingga 26 triliun rupiah.

Pemerintah menyebut ini menciptakan hampir 200 ribu pekerjaan bagi warga Afghanistan.

Aqbal Majboor, pemilik perusahaaan konstruksi dan logistik, mengatakan biasanya mereka harus menggunakan telepon kabel di warung telekomunikasi atau wartel untuk menelepon.

“Sebelumnya, satu-satunya cara untuk menelpon ke luar negeri adalah dengan telepon satelit yang ada di wartel. Untuk itu kami harus mengantri berjam-jam dan sangat sulit untuk menghubungi orang-orang. Selain biayanya mahal, butuh waktu berjam-jam untuk satu kali menelepon. Tapi sekarang telepon selular membuat bisnis jadi lebih mudah. Telepon ini adalah hidup saya,” kenang Aqbal  .

Tapi Taliban sudah beberapa kali menyerang sarana telekomunikasi.

Dalam tujuh tahun terakhir, sekitar 300 menara telepon dihancurkan setelah perusahaan telekomunikasi menolak mematikan jaringan komunikasi pada malam hari.

Militer Taliban ingin transmisi berhenti beroperasi di malam hari untuk mencegah pasukan keamanan mendapat informasi dengan menyadap percakapan telepon mereka.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Koalisi Kendeng Lestari Minta KLHK Moratorium PT Semen Indonesia Di Rembang

  • Banjir Landa Sejumlah Kecamatan, Warga Rembang Diminta Siaga
  • Perancis Bakal Larang Murid Gunakan Ponsel
  • Kelelahan, Morata Absen Saat Chelsea Hadapi Huddersfield

PLN menggenjot pemerataan pasokan listrik dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur