Muhammad Lalon, Ibu Suwarni dan Dede di tempat penampungan Langsa Aceh. (Foto: Rio Tuasikal)

Muhammad Lalon, Ibu Suwarni dan Dede di tempat penampungan Langsa Aceh. (Foto: Rio Tuasikal)

Suwarni, seorang janda yang berusia 52 tahun, tinggal di belakang rumah sakit di Langsa Aceh.

Ketika dia mendengar ada ratusan manusia perahu yang terluka dibawa ke rumah sakit ini, dia pun bergegas datang untuk membantu.

Di sebuah ruangan, dia menemukan enam pria luka-luka. Yang paling parah kondisinya bernama Muhammad Lalon, yang berusia 20 tahun.

“Ibuk, waktu pas orang ini masuk kan, ibuk tengok nga pakai pakaian, nga pakai baju. Iba ibuk tengoknya. Sesudah itu Ibuk ambillah pakaian-pakaian almarhum Bapak dia kan di rumah. Ibuk kasih la sama orang ini,” kenang Suwarni.   

Suaminya meninggal 10 tahun lalu.

Muhammad Lalon berasal dari sebuah desa miskin di Bangladesh dan ibunya meninggal saat usianya tujuh tahun. Karena ingin mencari pekerjaan di Malaysia, dia membayar penyelundup manusia agar bisa sampai ke Malaysia lewat laut.  

Tapi kapalnya rusak. Kapten kapal meninggalkan dia dan ratusan orang lainnya terapung-apung di lautan selama lebih dari dua bulan. Dan tidak ada negara yang mau menerima mereka.


Kondisi makin buruk saat perkelahian terjadi di dalam kapal. Lalon bercerita kalau kakinya patah akibat perbuatan pengungsi lain.

Suwarni kemudian mencuci celana Lalon yang berlumuran darah dan mengunjunginya setiap hari ditemani putrinya, Dede, yang berusia 12 tahun.

“Pagi malam sampai jam 11 ibuk nungguin. Nga boleh masuk di dalam rumah sakit itu. Ibuk di luar aja dari jendela itu kan. Nanti dia bilang Mum, kopi, teh, kata dia. Nanti mama beli roti. Mama tanya sama dia, ‘sudah makan?’ Sedikit kata dia, nga kenyang. Mama masak untuk orang-orang ini berenam, ikan sambal,” kisahnya.

Suwarni kadang berbohong pada penjaga rumah sakit agar bisa bertemu Lalon.

“Kami bilang gini, permisi la pak, biar saya masuk la. Karena di dalam ada kios saya. Padahal nga ada. Ibuk mau datangani orang ini di rumah sakit. Makanya ibuk kenal sama orang-orang sakit ini katanya mama Indonesia,” aku Suwarni.  

Tapi hari ini, saat mereka tiba di rumah sakit, Lalon sudah pergi. “Seperti keluarga. Macam tadi kan Dede pulang sekolah, nangis dia kan meraung-raung, abangnya dah pulang.”


Kami pun bersama-sama mencari dia.

Kami mencari di tempat penampungan bagi pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang didirikan pemerintah dekat pelabuhan Langsa.

Di dalam tenda medis, kami menemukan Lalon tengah terbaring di atas tandu dengan kaki terbungkus perban tebal.

Dede pun berlari menghampirinya. “Bang Lalon, bang Lalon, kalau abang pergi ke Bangladesh, Dede nangis.”

Lalon tidak mengerti apa yang dikatakan Dede, tapi dia terharu melihat air mata Dede.

Saya menerjemah kata-kata Dede ke dalam bahasa Inggris dan pengungsi Bangladesh lain bernama Muhammad Koyes, menerjemahkan apa yang terjadi kepada Lalon dalam bahasa Bangladesh.

Mereka pun berfoto bersama dan tertawa...

Tapi Dede mulai menangis lagi saat tahu Lalon akan pergi. Lalon dikategorikan sebagai ‘migran ilegal karena alasan ekonomi’ bukan pengungsi seperti orang Rohingya. Karena itu dia dan orang Bangladesh lainnya akak dipulangkan ke negaranya.

“Dede sayang bang Lalon dan teman. Kayak abang Dede sendiri gitu. Dede hanya tinggal berdua sama mama, nga ada siapa-siapa. Dede setiap pulang sekolah mampir, kasih makan dan minum. Pas pulang sekolah Dilla bilang bang Lalon dah nga ada lagi, dia dah perhi. Dede kaget langsung nangis sampai rumah. Dede berdoa semoga bang Lalon cepat sembuh dan pulang ke Indonesia selama-lamanya,” ungkap Dede.




Dengan mata berkaca-kaca Lalon mengatakan dia baru saja menemukan keluarga baru.

“Ibu saya sudah meninggal. Tapi saat saya dirawat di rumah sakit di sini saya menemukan ibu baru yang merawat saya. Indonesia sangat baik dan masyarakatnya juga baik. Saya juga sangat membutuhkan ibu,” kata Lalon.

Suwarni tahu waktu bersama makin sempit. Dia bertanya pada Lalon apakah dia mau menjadi anggota keluarganya dan diadopsi.

Dan Lalon pun mau.

Temannya Koyes menawarkan jalan keluar. “Lalon pulang dulu ke Bangladesh. Setelah satu dua tahun kondisi membaik, dia bisa mendaftar masuk kembali ke Indonesia. Dia bisa mengurus semua dokumen dan pindah kemari.”

Suwarni dan Dede pun pamit. Mereka akan kembali lagi kemari sampai tiba waktunya bagi Lalon untuk dideportasi.  

Baca juga: Pemerintah Akan Segera Deportasi Pengungsi Bangladesh di Aceh  


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!