Petani India, Lal Singh dan istrinya Manibai menjual dua anak lelakinya untuk mendapatkan biaya hidu

Petani India, Lal Singh dan istrinya Manibai menjual dua anak lelakinya untuk mendapatkan biaya hidup. (Foto: Shuriah Niazi)

Lal Singh sedang putus asa. Hujan lebat dan hujan es menghancurkan hasil panennya. Dia terjerat utang dan harus berjuang untuk menghidupi keluarganya.

“Saya meminjam uang dari Bank sebesar Rp 12 juta untuk membangun pompa air di lahan pertanian saya yang kekeringan. Saya menanam cabai dan berharap bisa membayar utang itu setelah panen. Tapi ternyata panennya gagal. Saya terpaksa berutang Rp 12 juta lagi dari rentenir dengan bunga tinggi. Tapi beberapa bulan kemudian, gandum saya juga rusak. Saya tidak bisa membayar utang dan butuh uang, untuk hidup dan menanam tanaman baru,” tutur Lal Singh.

Jadi Agustus lalu, tinggal satu pilihan untuknya. Dia menjual dua anak lelakinya pada seorang gembala untuk bekerja membantunya selama setahun. Sebagai imbalannya dia memperoleh uang lebih dari Rp 6 juta.

Istrinya Manibai mengaku keputusan ini membuatnya sedih. “Kami tahu ini salah, tapi kami terpaksa melakukannya agar bisa bertahan hidup. Jika tidak, kami terpaksa bunuh diri seperti petani lain.“

Delapan bulan kemudian, kedua anaknya, Sumit yang berusia 12 tahun dan adiknya Amit, 11 tahun, melarikan diri dari gembala itu. Mereka lalu dibawa ke tempat penampungan.

Vishnu Jaiswalis, direktur cabang Childline mengatakan kakak adik ini diperlakukan sangat buruk.

“Tugas mereka menjaga dan mengembalakan domba dan ternak lainnya. Mereka kerap dipukuli dan tidak diberi makan dua kali sehari. Akhirnya mereka lari ketika situasinya memburuk. Ada memar dan luka di tangan mereka,” ungkap Vishnu.

Awalnya mereka tidak mau kembali ke keluarganya karena takut akan reaksi orangtua mereka.

Tapi ketika saya berkunjung, mereka berdua sudah pulang ke rumah.

Pejabat pemerintah yakin ada banyak kasus serupa dimana petani menjual anak-anak mereka untuk mendapatkan uang.

Rajnish Shrivastava, pegawai pemerintah daerah Harda mengatakan pihak berwenang menyelamatkan lima anak dari kerja paksa pada bulan April.

“Kami menganggap ini kasus serius. Kami berusaha mencari tahu alasan orangtua menjual anak-anak mereka. Kami khawatir ada lebih banyak anak di kamp-kamp gembalalain. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak itu diperdagangkan. Kamiakan melanjutkan investigasi sampai semua anak diselamatkan,” jelas Rajnish.

Pemerintah di sebagian besar negara bagian yang terkena dampak cuaca ekstrim telah mengumumkan paket bantuan bagi petani.

Cuaca ektrim itu menewaskan lebih dari seribu orang tewas di India akibat gelombang panas. Dimana suhu mencapai 47 derajat Celsius di beberapa bagian negara itu.

Tapi para aktivis mengklaim proses penyaluran bantuan terlalu lama. Karena otoritas masih harus menilai kerusakan di beberapa daerah dan korupsi yang berakibat sedikitnya bantuan yang bisa diterima petani.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!