Ali Imron. (Foto: KBR)

Ali Imron. (Foto: KBR)

Ketika para pejuang ISIS asal Indonesia kembali ke tanah air, sangat mungkin mereka akan melakukan serangan terorisme di Indonesia.

Itulah kata-kata peringatan dari Ali Imron - yang saat ini tengah menjalani hukuman seumur hidup karena perannya dalam Bom Bali tahun 2002 yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Dia berbicara secara eksklusif dengan Rebecca Henschke dalam penjara.

Rebecca mulai dengan menanyakan pada Ali Imron soal kabar putra sesama pelaku bom Bali Imam  Samudra yang ikut bergabung dengan ISIS.


“Saya dengar begitu. Ke ISIS ke Irak sana”.

Q. Bagaimana menurut Anda soal itu?

“Ya...kalo menurut saya wajar. Karena setahu saya itu, hingga terakhir dieksekusi itu, Imam Samudra itu masih belom menyadari. Artinya sikapnya masih keras, radikal dan memobilisasi orang. Untuk tetap melakukan hal-hal yang sifatnya pengeboman di Bali dan sebagainya. Maka wajar ketika munculnya ISIS dan munculnya jihad di Irak  dan Suriah, akhirnya anaknya pun usia masih anak-anak sudah ikut berangkat ke sana wajar”.
 
Q. Ada takutan mereka balik seperti kalian balik dari Afganistan, melakukan kegiatan di sini, mengebom Indonesia?

“Itu yang saya khawatirkan. Maka ketika pecah jihad Suriah, Oposisi Suriah melawan pemerintahan pimpinan besar Al Assad, sudah saya sampaikan kepada kawan- kawan yang besuk saya. Bahwa saya tidak sepakat kalo kita di Indonesia ini ikut jihad ke sana. Baik yang hubungannya dengan menjadi sukarelawan jadi jihad di sana atau I’dad, persiapan kekuatan sebagaimana di Afganistan. Saya tidak sepakat.”

“Ada beberapa alasan. Satu, bahwa mujahidin Arab itu jauh lebih banyak daripada kita di Indonesia. Jelas Suriah, Irak  dan sekitarnya ini daratan Arab. Sudah cukup mereka, kita cukup membantu kalo ada membantu dana dan membantu doa untuk kepentingan jihad di sana. Jadi tidak usah ke sana. Kemudian yang kedua, bahwa kalo nanti kita ini mengirimkan orang ke sana itu lebih banyak merepotkan mujahidin di sana atau umat Islam di sana daripada membantu. Pertimbangan saya yang ketiga, nanti ketika jihad di sana selesai kemudian balik ke Indonesia, saya khawatir tangannya ini gatal. Ingin melakukan jihad yang sebagaimana kami lakukan.”

“Setelah kami kembali dari Afganistan, kami ingin melakukan aksi. Kami ingin mempraktekkan jihad. Nah itu yang saya khawatirkan. Maka saya tidak setuju kalo kita membantu atau pergi jihad ke sana. Waktu itu belom muncul ISIS yang semacam ini.”
 
Q. Iya betul...!!
 
“Baru ada terbukanya front jihad di Suriah itu, saya sampaikan seperti itu. Karena pertimbangan saya  itu yaitu ketika balik ke sini. Setelah berada di medan perang balik ke negara ke Indonesia yang aman seperti ini, kemungkinan besar akan melakukan aksi yaitu menurut jihad yang bener salah sebagaimana yang kami lakukan di pengeboman di Bali.”
 
Teroris Jemaah Islamiyah Ali Imron berbicara dengan Rebecca Henschke di penjara.
 
Setelah wawancara ini, untuk kali pertama Ali Imron bertemu dengan keluarga korban bom Bali. Jangan lewatkan pertemuan luar biasa ini yang segera kami siarkan di KBR.


 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!