Kondisi salah satu sekolah di Dhading Nepal, salah satu daerah yang paling parah kondisinya pasca ge

Kondisi salah satu sekolah di Dhading Nepal, salah satu daerah yang paling parah kondisinya pasca gempa April lalu. (Foto: Rajan Parajuli)

Sekolah Menengah Mahendra Devi kini tinggal tumpukan bata dan bebatuan.

Kepala sekolahnya Shrawan Kumar berkeliling sekolah sambil bercerita pada saya seperti apa sekolah ini sebelum rusak.  

“Di bawah reruntuhan ini dulunya TK. Bangunan di sebelahnya yang sekarang sudah rata dengan tanah, kami bangun empat tahun lalu. Dari total 12 ruangan, hanya tiga yang masih berdiri tapi kondisinya juga rusak,” kisah Shrawan.

Ada sekitar 400 pelajar di sekolah ini tapi ruang kelas yang tersisa saat ini tidak cukup untuk menampung mereka semua.

Pemerintah menyatakan sembilan dari 10 sekolah di seluruh negeri rusak berat akibat gempa itu.

Sekitar 10 pelajar sedang mencari buku-buku mereka di antara reruntuhan sekolah di desa Shorepani, Gorkha.

Salah satunya adalah Ramesh yang duduk di kelas 6.“Saya melihat ada beberapa buku di antara reruntuhan dan saya mau mengecek apakah buku pelajaran saya juga ada. Saya menemukan buku ilmu sosial, bahasa Inggris, dan sains milik saya tapi saya belum menemukan buku matematika.”  

Sabina Shrestha yang duduk di kelas 10 mengatakan ingin segera bisa bersekolah kembali agar bisa melupakan masalah keluarganya.

“Saya bosan melihat bencana di mana-mana. Orangtua saya sangat pusing karena kami kehilangan rumah. Tapi saya tidak mau memikirkannya. Saya mau sekolah segera dimulai sehingga saya bisa punya waktu membicarakan hal lain dengan para guru,” ungkap Sabina.


Pemerintah dan lembaga bantuan telah membangun 137 sekolah sementara bagi 14 ribu anak sehingga mereka bisa segera kembali belajar pekan ini.

Para siswa sekolah asrama Bagmati Kathmandu belajar di dalam tenda warna-warni yang didirikan di halaman sekolah.

“Bangunan sekolah baik-baik saja dan kami sudah memeriksanya bersama dengan ahli bangunan. Tapi banyak orangtua yang masih khawatir dan tidak mau masuk ke dalam. Karena mempertimbangkan perasaan orangtua, kami mendirikan beberapa tenda dan siswa kelas 1 sampai 7 belajar di luar,” kata Kepala sekolah Mohan Bhatta.

Pelajar kelas 7 bernama Ananya Rimal mengaku senang bisa kembali bersekolah.

“Kami saling bertukar cerita soal perasaan kami saat terjadi gempa. Apa yang terjadi pada kami dan bagaimana kondisi rumah kami sekarang. Saya sudah bosan tinggal di rumah saja dan senang bisa kembali ke sekolah.”

Kembali ke dareah Gorkha yang terpencil, kepala sekolah Shrawan Kumar mengatakan mereka belum bisa membuka kembali sekolah. 

Dia khawatir tebing di samping sekolah longsor. 

“Saya sudah pergi ke puncak tebing itu. Gempa bumi telah menciptakan banyak retakan besar di sana, sementara musim hujan segera datang. Jadi sewaktu-waktu tebing bisa longsor dan menimbun sekolah. Setiap kali ada gempa kecil, kami melihat bebatuan jatuh dari tebing itu. Semua siswa dan guru kami berada dalam bahaya jika kami kembali,” tutur Shrawan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!